KALAH LAGI, NGAMBEK LAGI

POLRI
POLRI
Enam orang teroris ditangkap. Mereka berniat meledakkan bom saat demonstrasi menolak hasil Pilpres nanti digelar. Amin Rais mengancam dengan people power. Tujuan bom itu, kata polisi, agar eskalasi people power membesar.
Begini. Jika ada masa woro-woro di jalan, lalu ada orang melakukan bom bunuh diri. Banyak mayat bergelimpangan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Keresahan. Mungkin peristiwa itu akan dogoreng lagi untuk menggerakkan masa yang lebih besar.
Kalau rakyat terprovokasi mereka akan berhamburan di jalan. Lalu muncul ketidakpercayaan pada sistem. Lalu konflik horisontal. Lalu Indonesia berdarah.
HTI bersorak gembira. Gerombolan teroris senang karena bisa menumpahkan darah lebih banyak. Itu tujuannya. Laskar senang, karena sepatu bot mereka akhirnya ada gunanya juga. Selama ini cuma jadi hiasan ketika demonstrasi.
Gerombolan itu tahu, Prabowo sampai sekarang masih ngotot sebagai pemenang Pemilu. Padahal perhitungan KPU bicara lain. Sampai saat ini, sudah 70% suara masuk. Rakyat Indonesia memberikan amanah pada Jokowi-Amin. Tapi Prabowo masih rajin berdeklarasi mengangkat dirinya sebagai Presiden. Sujud syukur berkali-kali.
Dari Saudi, Rizieq juga bersuara sama. Omongannya mau dianggap sebagai fatwa. "Siapapun yang menang Pemilu, KPU tetap harus melantik Prabowo jadi Presiden," ujarnya.
Coba bayangin. Rizieq buron ke negeri orang. Menghindar kasus kriminal yang menjeratnya. Artinya ia gak mau taat hukum. Sekarang enak banget ia bilang hasil Pemilu dibatalkan karena gak sesuai dengan keinginannya.
Emangnya dia siapa, mau mengatur-atur Indonesia. Mengatur Firza aja dia gak bisa.
Tokoh yang ngotot meneriakkan revolusi kini juga sudah mulai dipanggil polisi. Bahtiar Nasir jadi tersangka karena ulahnya menyelewengkan dana sumbangan 212 beberapa tahun lalu. Ia juga diduga menyalurkan dana kepada teroris di Suriah.
Prabowo, Rizieq, Amin Rais, Bahtiar Nasir bisa bertemu kepentingan. Di sisi lain ada para teroris yang hendak memanfaatkan situasi.
Politisi dan pengasong agama ngotot menolak hasil Pemilu, meski harus dilakukan dengan gonjang-ganjing yang membahayakan rakyat. Alasannya simpel. Karena kalah lagi.
Teroris hendak memanfaatkan emosi rakyat. Klop.
Sebetulnya memprotes hasil Pemilu tidak diharamkan. Tapi ada caranya. Kita punya Bawaslu, polisi atau MK. Sarana itu disediakan bagi rakyat yang beradab. Yang punya akal sehat. Kalau orang biadab biasanya gak mau ikut aturan. mereka maunya perang. Huru-hara. Berdarah-darah. Kacau.
"Mas, ini kan bulan puasa, ya?"
"Iya. Kenapa Kum?"
"Kok banyak setan yang gak dikerangkeng?"

0 komentar

Tulisan Populer