JAKARTA BIASA SAJA PADA 22 MEI

22 mei
22 Mei
Apa yang akan terjadi pada 22 Mei di Jakarta? Kayaknya biasa saja. Gak akan ada apa-apa.
Paling secuil orang yang datang ke kantor KPU, teriak-teriak, takbir-takbir, lalu kerongkongannya kering kehausan. Sebagian terpaksa buka puasa sebelum waktunya. Sebagian lain memang niatnya sejak awal gak puasa. Jumlah mereka gak banyak. Masih lebih banyak jumlah aparat yang mengawasinya.
Selebihnya Jakarta biasa-biasa saja. Sehabis subuh, Kang Aman masih bersepeda ke pasar. Membeli pare sekilo. Itu dilakukan sejak 11 tahun lalu. Gak ada yang berubah. Padahal hidupnya sudah pahit, tapi Kang Aman tetap saja membeli pare. Setiap hari. Gak pernah absen.
Sorenya Kang Arman mangkal di dekat Indomaret. Masih juga seperti dulu. Dagang siomay.
Atau Bi Narti tetap berdagang kue Cucur. Kali ini ditambah lontong bumbu kacang dan gorengan. Menu khas buka puasa. Orang-orang mencari takzil.
Yang berdagang, ya dagang. Yang kerja, ya kerja. Hanya ketika masuk mall penjagaan sedikit lebih ketat. Tas-tas di periksa. Mobil dipelototi.
Bagaimana dengan suasana di daerah? Gak jauh berbeda.
Di Sumatera Barat, orang lebih memikirkan buka puasa dengan menu apa sore ini, ketimbang memikirkan bagaimana nasib Prabosan setelah kalah Pilpres. Iya penduduk Sumbar memang kebanyakan memilih Prabosan. Tapi cuma memilih saja. Kalau akhirnya Prabosan kalah, terus mau apa? Mereka juga gak goblok mau saja disuruh bikin rusuh di kotanya sendiri.
Jadi kantor KPUD di Sumbar sepertinya bakal adem ayem saja. Jikapun ada gerombolan orang demo, sekali lagi, jumlahnya gak banyak. Cuma secuil aja. Anggap saja kayak kerumuman orang mencari takjil.
Bagaimana dengan Aceh? Sama. Warga Aceh lebih sibuk mengurus puasa ketimbang pengurus Prabosan.
Kenapa suasananya akan jadi biasa saja, padahal gerombolan kampret teriak-teriak mau bikin rebolusi? Revolusi atau people power itu butuh syarat. Syaratnya ada pemerintahan yang korup dan otoriter dan ada oposisi yang dianggap bersih.
Di Indonesia terbalik. Keluarga raja koruptor justru mendukung oposisi. Sementara Presiden yang kini berkuasa justru bebas dari KKN. Justru dulu people power digerakkan untuk menurunkan Soeharto, diktator terkorup di Indonesia. Kini keluarga Soeharto, dengan dipimpin bekas menantunya mau mengambil alih kembali kekuasaan itu dengan segala cara.
Lagi-lagi rakyat yang mau ditumbalkan.
Tapi apakah rakyat sebodoh itu, mau dikerjai berkali-kali oleh kaki tangan yang dulu ramai-ramai diturunkan mahasiswa dengan demonstrasi? Jadi jikapun mereka mendukung Prabowo, mungjin karena kasian. Lelaki itu sejak dulu mau jadi Presiden, tapi gagal terus. Kakau rakyat disuruh berkorban buat Prabowo, apalagi korban nyawa, kayaknya sih mereka ogah.
Sebagian rakyat ketakutan dengan ulah Prabowo. Orang ini bisa melakukan apapun asal berkuasa. Sebagian lagi gak peduli. Mereka membuat gerakan nasional abaikan Prabowo.
Anak manja. Maksa jadi Presiden. Mengancam dan bikin repot. Sebaiknya abaikan. Dia bukan siapa-siapa. Hanya TNI yang dipecat. Menantu Soeharto yang dicerai istrinya. Lelaki yang kesepian. Dan manusia haus kekuasaan yang gak pernah legowo. Hatinya sakit, menyaksikan Jokowi --anak kampung yang sukses jadi Presiden.
Jadi gimana suara Jakarta 22 Mei nanti? Biasa saja.
Saya masih akan mencari siomay Kang Aman buat berbuka puasa.

0 komentar

Tulisan Populer