VOTE ONE, GET IRIANA

Iriana Jokowi
Iriana Jokowi
Entah kenapa, ketika menyaksikan tindakan Bu Iriana, rasanya kita seperti orang yang serang kepanasan di terik matahari, lalu diguyur air dingin. Adem.
Sebagai ibu negara Iriana bukan hanya duduk, dadagdadag, petantang-petenteng dengan rambut mumbul. Tampilannya jauh dari ibu pejabat jaman old.
Iriana tampil otentik. Bertindak otentik. Nalurinya sebagai istri dan ibu begitu tajam. Iriana bisa dikatakan menjadi penyejuk panasnya iklim politik. Ia datang membawa dirinya sendiri. Bukan hadir sebagai Juru Kampanye.
Anak-anak Papua bisa nemplok di punggungnya dengan asyik. Anak-anak kecil bisa begitu saja mencangklong di pinggangnya. Seperti sedang digendong eyang utinya. Cara Iriana mendekati anak-anak tidak dibuat-buat. Memancar dari dalam dirinya. Sebuah ketulusan.
Iriana adalah nilai plus bagi Jokowi. Bukan. Bukan karena dia aktif kampanye atau ngomong soal politik yang njlimet. Bukan karena dia bisa berteori ndakik-ndakik. Ia tidak pandai bicara di podium. Ia memang bukan politisi. Dan tidak terbersit sedikitpun untuk menjadi tokoh publik baru.
Iriana hadir hanya mendampingi suaminya. Sebagai istri Jokowi. Bukan sebagai tokoh politik. Bukan sebagai ikon baru yang harus disorot kamera.
Ia mengisi ruang kosong keriuhan politik. Politik yang kadang-kadang keras dan penuh teriakan. Kehadiran Iriana tetap memerankan fungsinya sebagai istri dan ibu.
Naluri keibuan inilah yang gak pernah hilang dari dirinya. Ibu sebagaimana layaknya ibu. Bukan ibu pejabat. Bukan ibu negara. Tapi, ibu ya ibu. Ibu dari anak-anak. Ibu yang penuh kasih dan penyayang.
Ada jarak yang jauh antara ibu pejabat dan ibu sebagaimana adanya. Ibu pejabat tampil karena jabatan suaminya. Sementara ibu, seperti ibu kita di rumah. Ia tahu bagaimana caranya menyiram kasih sayang kepada anaknya.
Mungkin saat kita resah dan terkena persoalan, kita butuh kehangatan itu. Kita butuh ibu kita. Bukan untuk memberi masukan, mengoceh panjang mengenai masalah. Atau menasehati seperti ulama.
Kita hanya butuh dekapannya. Atau merebahkan kepala di pangkuannnya. Gak perlu ada nasihat. Ketika telapak tangannya yang mungkin sedikit kasar membelai kepala kita, persoalan seberat apapun langsung sirna.
Itulah ibu. Sosok yang diamnya saja memancarkan kehangatan. Sosok yang tatapan matanya bisa mencairkan karang yang keras.
Nah, di panggung politik kita mendapatkan sosok itu. Sosok yang tidak berbusa-busa bicara. Bukan perempuan yang hanya mengipas-ngipas kepanasan dengan ajudan yang sigap. Tidak. Iriana bukan sosok yang sibuk dengan diri dan dandananya. Atau make-up tebal dengan rambut disasak. Dia perempuan sederhana yang menyebarkan ketulusan. Dimana-mana.
Kehadiran Iriana membuat panggung politik menjadi lebih indah. Kamera bukan hanya menyorot Jokowi dengan kerja keras dan prestasinya. Juga menyorot angle lain. Perempuan yang hadir sebagai ibu. Ibu bagi semua. Eyang Uti bagi seluruh anak Indonesia.
Saya sepertinya tidak ikhlas jika besok miopi politik kita hanya fokus pada urusan-urusan yang besar. Saya tetap ingin melihat seorang ibu negara hadir di berbagai forum dan acara. Bukan saja karena dia istri Presiden.
Saya gak mau wajah politik kita mengeras. Cuma berisi orang bersuara berat mengebrak-gebrak podium. Marah-marah gak karuan. Mungkin dia saat itu sedang masuk angin. Gak ada yang kerokin.
Keberadaan Iriana bisa menjadi salah satu alasan saya memilih Jokowi. Ketika saya memilih seorang calon Presiden dengan prestasi dan kerja kerasnya. Otomatis saya akan mendapatkan ibu negara yang begitu lembut. Jokowi dan Iriana bagi saya adalah paket yang sempurna. Presiden yang berdedikasi dan ibu negara yang sederhana.
Seperti mama kita di rumah. Seperti eyang uti anak-anak kita. Cair dan hangat. Cintanya selalu luber.

0 komentar

Tulisan Populer