TIDAK SEMUA ORANG SUMBAR MEMILIH PRABOWO

Padang
Jokowi di Kota Padang
Ada daerah yang memenangkan Jokowi. Ada yang memenangkan Prabowo. Dalam Pemilu itu biasa. Jawa Tengah dan Jawa Timur jadi lumbung suara Jokowi. Sumbar dan NTB jadi lumbung suara Prabowo.
Kita harus menilainya sebagai bagian dari proses demokrasi. Jangan hanya karena berbeda pilihan lalu kita mulai melakukan penilaian buruk. Apalagi menjeneralisasi.
Percayalah. Tidak semua orang Sumbar dan NTB memilih Prabowo. Masih banyak yang menyuarakan suaranya ke Jokowi. Begitupun tidak semua orang Jatim dan Jateng memilih Jokowi. Ada juga suara untuk Prabowo.
Soal besarnya suara di daerah tertentu, bisa jadi karena kerja tim kampanye begitu efektif. Kalau di Sumbar, wajar Prabowo menang. Gubernurnya dari PKS. NTB juga Gubernurnya dari PKS.
Artinya kerja politik disana sudah dimulai jauh sebelum Pilpres. Saat Pilkada mereka sudah menguasai wilayah dan suara.
Sementara di Jateng, wajar juga Jokowi unggul jauh. Gubernur Jateng kader PDIP. Atau di Jatim, yang Gubernurnya asal NU. Tim politik Gubernur masih hangat mesinnya.
Saya beberapa kali membaca status beberapa teman yang mulai menunjukan penilaian buruk pada satu daerah hanya karena disana, misalnya, suara Jokowi kalah jauh. Atau sebaliknya.
Saya berharap penilaian kesukuan dan kedaerahan seperti ini jangan dikembangkan. Jangan memercik api kebencian ras dan suku. Percayalah, terlalu berbahaya bagi Indonesia.
Pilpres adalah tradisi demokrasi lima tahunan. Sama kayak sarapan pagi. Sesuatu yang rutin dalam kehidupan bernegara. Pilpres gak cukup bagi kita untuk merenggangkan ikatan keindonesiaan. Sumbar, NTB, Jateng dan Jatim misalnya, adalah bagian dari kekayaan Indonesia.
Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda afiliasi politik. Tapi jangan sekali-kali mengembangkan penilaian buruk pada suku atau wilayah lain yang secara politik berbeda dengan pilihan kita.
Tidak semua orang Sumbar atau NTB memilih Prabowo. Banyak juga yang Jokower garis keras. Sebagaimana tidak semua orang Jateng mendukung Jokowi.
Saya punya banyak teman. Mereka adalah Jokower garis keras. Mereka orang minang asli. Wong darahnya saja bukan berwarna merah, tapi bau kuah gulai. Kurang Minang gimana, coba?
Anggap saja kekalahan Jokowi di Sumbar dan NTB karena strategi kampanye tim pemenangannya kurang efektif. Wong saat Pilkada saja yang menang kader PKS. Artinya preferensi politik publik di sana memang sudah ketahuan arahnya.
Yang agak menyebalkan itu komentar Gubernur Sumbar Iwan Prayitno. Dia berkomentar, Jokowi nanti jangan tidak memperhatikan daerah yang rakyatnya tidak memberi dukungan suara. Ini komentar ngaco. Dulu juga Jokowi kalah di Sumbar, tapi wilayah itu gak pernah menjadi anak tiri. Pembangunan Sumbar sama seperti daerah lainnya.
Komentar Iwan justru seperti ingin merobek makna kebangsaan. Jika terpilih Jokowi adalah Presiden RI. Dia wajib membangun seluruh wilayah NKRI. Bukan hanya perhatian ke wilayah yang suara dukungan kepadanya maksimal.
Demikian juga NTB. Meski suara Jokowi kalah jauh di NTB tapi apakah Presiden lalai dengan wilayah miskin itu. Ketika bencana alam terjadi, Presiden bolak-balik kesana. Memastikan penanganan dengan baik. Kini bahkan NTB diangkat ke pentas dunia dengan adanya sirkuit MotoGP di Mandalika.
Kita sih, maklum Iwan Prayitno berkomentar seperti itu. Namanya juga PKS. Tapi mau gimana, rakyat Sumbar suka. Itulah demokrasi.
Sama kayak di Depok. Mau pembangunan begitu-begitu saja. Mau jalanan rusak gak dipedulika dan kerja birokrasi menyebalkan. Tapi PKS toh, bisa berkuasa tiga periode. Kalau Jokowi kalah di Depok, wajar.
Jadi intinya berhentilah menyebarkan penilaian berdasarkan ras dan daerah. Sungguh. Cara mikir seperti itu berbahaya bagi masa depan bangsa.
Kalau mengacu pada hasil Quick Count, Jokowi akan meneruskan jabatannya untuk periode kedua. Dan kita percaya dalam hati dan kepala Jokowi tidak pernah ada dendam. Sumbar, NTB, Aceh atau Jawa. Semuanya adalah bagian dari NKRI. Presidennya adalah Jokowi. Sebagaimana Papua, Kalimantan, Maluku atau Sulawesi.
Cukuplah HTI dan gerombolannya yang suka memecah belah bangsa. Atau politisi pengasong agama yang merusak persatuan kita. Kita gak usah ikut-ikutan.
Biarkan mereka terus menerus merobohkan jembatan silaturahmi. Kita akan terus membangunnya kembali. Sebab Indonesia milik kita bersama.
"Aasshhiiiaaapp pleciden!," tetiba saya dikagetkan teriakan Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer