PKS
Screenshoot Chat Yusril dan HRS
Teman saya simpatisan PKS. Dia pendukung Prabowo militan. 
Baginya memperjuangkan Prabowo sama seperti membela agama. Usahanya setara jihad.
Ketika debat kemarin, dia kejedot. Prabowo jujur mengakui lahir dari ibu Kristen. Dia juga tahu seluruh keluarga Prabowo tidak ada yang muslim.
Apalagi semakin kesini tidak ada tanda-tanda sama sekali Prabowo berbau Islam. Nyebut gelar Rasul, salah. Shalawat gak bisa. Sholat juga gak jelas.
"Ana, bingung," keluhnya suatu ketika. "Apa benar memilih Prabowo itu sesuai dengan tuntutan agama?"
Saya cuma nyengir. "Gue sih, santai bro. Capres pilihan gue jelas agamanya. Sholatnya rajin. Ibadahnya bagus. Prestasinya jelas. Akhlaknya juga, ok," ujar saya.
Teman saya yang merasa pejuang agama makin galau ketika membaca chat Yusril Ihza Mahendra dan Rizieq. Habib yang sebelumnya selalu dipuja, justru bilang Prabowo agamanya gak jelas.
Dia juga membaca berita, Hasyim Joyohadikusumo, adik Prabowo yang mengatur semuanya. Dia syok. Hasyim tokoh kristen. Artinya kalau Prabowo menang sama saja menyerahkan kekuasaan pada seorang non-muslim.
Teman saya ini memang bukan politisi. Dia hanya merasa harus berjuang untuk agama. Meski jalannya, menurut saya, kacau. Tapi itu keyakinan dia. Saya gak bisa ikut campur.
Kini keyakinannya makin amburadul.
Saya sih, sebetulnya gak urus apa agama Prabowo. Mau muslim, kek. Mau kristen, kek. Mau nyembah Patromaks, kek. Itu tidak mempengaruhi penilaian saya terhadap seorang Capres.
Nilai Capres bagi saya semata-mata karena kemampuannya. Karena trackrecord dan prestasinya. Soal agama, itu urusan masing-masing. Itu yang saya lihat dari seorang Jokowi.
Jika Jokowi seorang muslim taat, ya malah bagus. Menambah nilainya sebagai Capres.
"Ana kayaknya Golput deh," katanya lesu. "Ana takut menghianati agama. Ana takut dosa kalau milih pemimpin yang agamanya gak jelas" ujarnya lagi.
"Kenapa gak milih Jokowi?," tanyaku.
Dia tampaknya ragu. Mungkin karena isi kepalanya banyak disesaki dengan informasi palsu. Atau mungkin karena sejak lama dia sudah memupuk kebencian.
Saya diam saja. Saya memaklumi keraguannya. Jika jadi dia, saya juga pasti ogah milih Prabowo. Sudah gak punya prestasi. Agamanya gak jelas. Temperamental. Marah-marah gak juntrungan. Dipecat dari TNI. Dunia internasional mencap sebagai pelanggar HAM. Gak ada bagus-bagusnyalah.
"Tapi Golput juga dosa. Kan MUI bilang haram kalau Golput," ujarnya lagi.
Terus?
"Gak tahulah. Beragama kok, ribet banget ya?," dia mengeluh. Baru kali ini dia mengeluh soal posisi beragamanya. Sebetulnya yang ribet dia sendiri. Bukan soal agamanya.
Jadi gimana, akhi?, tanyaku iseng.
"Antum sudah makan?," katanya mengalihkan pembicaraan.
"Belum..."
"Ya, sudah. Ana pulang dulu, ya..."
Caelah. Gue kira mau ngajak makan. Orang galau memang kadang ngeselin.

0 komentar

Tulisan Populer