PEOPLE POWER AMIEN RAIS

Amien Rais
Amien Rais
Amien Rais memprovokasi akan menggelar people power. Dia mengancam jika merasa dicurangi dalam Pemilu, pihaknya gak mau menyelesaikan lewat jalur hukum. Gak mau membawa kasusnya ke MK. Tapi akan mengerahkan rakyat ke jalan. Semacam karnaval besar dengan thema kerusuhan masal.
Hasyim Joyohadikusumo, adik Prabowo lain lagi ancamannya. Jika merasa Pemilu gak berpihak pada mereka, dia akan mengadukan ke PBB atau interpol.
Kemarin gerombolan yang sama juga teriak-teriak bikin hastag minta pemantau asing. Mereka anti asing, tetapi merengek minta asing membantu kepentingannya.
Jauh sebelumnya KPU telah banyak diprotes. Yang memprotes gak membawa bukti apapun. Hanya teriak-teriak curang saja. Tidak ada selembar bukti nyata untuk menjelaskan tuduhannya. Menuduh tanpa bukti, jelas cuma fitnah.
KPU dan Bawaslu kita bekerja serius mempersiapkan proses Pemilu. Sebab kita sadar, banyak negara hancur gara-gara bermasalah dalam Pemilunya. Krisis politik sering dimulai dari sana. Kesadaran itulah yang dulu disepakati dibentuk KPU, Bawaslu dan perangkat Pemilu lainnya.
Kita juga mendirikan Mahkamah Konstitusi. Salah satu fungsinya untuk menyelesaikan persoalan yang muncul dalam Pemilu. Kita punya UU Pemilu dan perangkat hukum lain.
Semua disiapkan sebagai tata cara penyelesaian masalah pada masyarakat beradab. Hukum dibuat untuk membedakan kita dengan monyet. Artinya dengan aturan dan hukum, konflik yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik. Hukum juga dibuat agar bangsa ini gak jatuh dalam kubangan chaos. Agar proses persengketaan bisa diselesaikan dengan baik. Melalui jakur hukum. Melalui jalur orang-orang beradab.
Menyelesaikan sengketa Pemilu dengan cara mengerahkan masa seperti ancaman Amien Rais sama saja membakar negara ini. Itu cara main hakim sendiri. Cara hukum jalanan. Satu langkah untuk membumihanguskan Indonesia.
Ini bukan Pilpres pertama bagi Prabowo. Di Pilpres lalu, tuduhan bahwa KPU curang juga menggema. Khususnya ketika Prabowo kalah suara. Mereka menggugat ke MK. Janjinya mau membawa 7 kontainer bukti kecurangan. Nyatanya hanya membawa beberapa kardus saja. Itupun sebagian ditolak mahkamah.
Prabowo juga termakan halusinasi. Dia sujud syukur. Bahkan sampai menyatakan mundur dari proses Pemilu. Nyatanya, yang namanya kalah ya, kalah. Mau sujud syukur kek. Mau ngambek, kek. Gak ngaruh lagi.
Maksudnya kalau mereka teriak-teriak kecurangan Pemilu, kita punya memori kolektif bagaimana mereka memang gak mau mengakui kekalahan dengan jentel. Lalu merajuk, cari-cari masalah.
Apalagi Hasyim, mau mengundang intervensi asing masuk ke Indonesia. Benar-benar gak menghargai kedewasaan bangsa ini.
Sejak reformasi, kita bersyukur proses pergantian kekuasaan kita lalui dengan mulus. Ada sedikit gejolak tapi tidak sampai membahayakan negara.
Kita berterimakasih kepada Habibie, yang ikhlas melepas jabatan Presiden. Kita berterimakasih dengan Gus Dur, yang meski dilengserkan dia lebih memilih pulang ke rumahnya. Tanpa harus mengerahkan orang untuk melawan. "Tidak ada kekuasaan yang begitu berarti hingga harus dipertahankan dengan darah," ujar Gus Dur.
Kita juga berterimakasih kepada Megawati. Dia kalah oleh SBY di Pemilu. Dan melepaskan jabatan Presiden tanpa gejolak. Kepada merekalah bangsa ini berhutang. Berhutang keteladanan untuk lebih mementingkan keutuhan Indonesia.
Tapi apa yang bisa kita pelajari dari Prabowo dan pengikutnya? Ancaman-ancaman mereka mengarah pada suasana yang membahayakan. Mereka mengabaikan hukum. Mengabaikan cara penyelesaian yang beradab.
Nafsu berkuasa boleh saja. Tapi ketika nafsu itu menjerumuskan bangsa ini ke ajang perpecahan, kita tahu, tidak pantas menyematkan negarawan ke dadanya.
Seruan people power Amien Rais kedengarannya jadi semacam ancaman. Gayanya ketularan FPI. Tukang ngancam dan persekusi orang lain. "Kalau Prabowo kalah lagi, gue bikin ribut nih."
Gayanya sama kayak preman. Kalau gak mau bayar uang kemananan gue tebalikin dagangan lu. Bayar!
Mungkin Amien ngotot begitu karena Hasyim sudah menjanjikan tujuh kursi kabinet kepada PAN. Saya membayangkan nanti isi kabinet Prabowo ada Amien Rais, Hanafi Rais,Mumtaz Rais,Hanum Rais,Tasniem Fauzia Rais dan Ahmad Baihaqy Rais. Sisanya satu buat ketua PAN, Zulkifli Hasan.
"Mas, apa Prabowo akan sujud syukur lagi, nanti?," tanya Abu Kumkum.
Mbuh!

0 komentar

Tulisan Populer