NGOBROL DENGAN WALIKOTA TRIPLE MINORITAS

Politik
Eko Kuntadhi, Walikota Singkawang dan Denny Siregar
Di Pontianak, saya bertemu dengan Thjai Chui Mie --agak susah saya mengeja namanya-- Walikota Singkawang. Ngobrol di sebuah lobi hotel. Bareng Denny Siregar. Kebetulan malam itu Chun Mie ada di Pontianak.
Saban Sabtu-Minggu dia memang harus ke Pontianak menyelesaikan kuliah S2-nya. Menempuh perjalanan darat sekitar 3 jam, Singkawang-Pontianak.
Rencananya besok saya dan Denny akan ke Singkawang. Biasa. Kita ditanggap. Kayak Barongsai. Disuruh ngoceh.
Nah, mumpung Walikotanya ada di Pontianak, kami berkesempatan menjumpainya. Itung-itung kulonuwun sama yang punya wilayah sebelum besok ke sana.
Sepertinya nama Tjhai Chui Mie yang disandangnya mengikuti dialek Hakka. Jika ditulis dengan dialek Mandarin, dibaca Cai Cui Mie. Wajar. Orang Hakka memang cukup banyak di Singkawang.
Malam itu Chui Mie mengenakan celana biru dengan atasan putih. Simpel. Juga mengesankan kesigapan. Tampilannya biasa. Tanpa polesan make-up.
Saat berjabatan tangan saya tidak menemukan telapak tangan perempuan kemayu yang bolak-balik ke salon. Telapak tangan Chui Mie bukan model emak-emak yang hobby meni-pedi. Ini seperti telapak tangan orang yang suka bekerja keras. Jabatannya pun terkesan mantap.
Chui Mie ini Walikota dengan status minoritas yang bertumpuk-tumpuk. Pertama, dia perempuan. Kedua, dia Tionghoa. Tanpa saya kasih tahu juga, kamu pasti tahu ketika membaca namanya. Ketiga, dia beragama Buddha.
Lengkap, kan, status minoritasnya?
Tapi yang asyik, Chui Mie ini tergolong Walikota yang punya nyali. Saya banyak mendengar sebelumnya soal kisah Chui Mie. Dia tipe perempuan yang bekerja keras. Cepat akrab. Ngomongnya juga efektif. Fokus dan gak muter-muter. Des, des, des, tepat sasaran.
Tapi masalahnya dalam dunia politik, kerja keras saja gak cukup. Yang paling merepotkan justru menyeimbangkan banyak kepentingan. Diplomasi dan ketegasan dibutuhkan.
"Kalau soal kerjaan sih, gampang. Yang paling repot mengatur orang yang motivasinya beragam. Apalagi kalau punya kepentingan tapi dikakukan dengan cara menekan. Biasa, tekanan politis atau menyebar isu atau yang sejenisnyalah," kisahnya.
"Mestinya kan mereka bisa ngomong langsung. Apa keinginannya. Apa masalahnya. Bukan dengan cara menekan padahal ada maunya. Kalau caranya begitu saya akan lawan," katanya mantap. "Sekali saya nyerah dengan tekanan besoknya mereka akan menekan lagi. Lebih keras."
Iya, Chui Mie memang lumayan tegas. Dia bisa memarahi pejabat bawahannya yang kerjanya gak beres. Dia memasang target tinggi untuk membangunan Singkawang.
Dulu laporan keuangan daerahnya gak pernah dapat predikat 'Wajar Tanpa Pengecualian.' Mungkin karena administrasinya masih kurang baik. Kini dia bertekad Singkawang harus mendapat predikat WTP. Dia memberesi semua segi baik sistem maupun adminiatrasi.
Seperti biasa. Ada anak buahnya yang suka dengan perubahan positif. Tidak sedikit yang menghambat. Biasa. Pejabat lebih suka pola lama. Kerja sedikit. Tanggungjawab kecil. Sabetannya besar.
Tapi di mata Chui Mie, pejabat Pemda Singkawang gak bisa seperti dulu lagi. Dia mengejar prestasi. "Saya siapkan waktu 24 jam. Kalau ada masalah, silakan kontak saya. Jangan sampai pekerjaanya terbengkalai."
Bukan hanya keras dengan anak buah. Kepada swasta yang mengerjakan proyek pemerintah Chui Mie juga tidak mau kompromi. Kalau standarnya segitu, ya harus segitu.
Dia pernah memarahi kontraktor yang gak becus mengerjakan proyek pemerintah. Videonya viral.
"Kalau rumah bapak dikerjakan dengan cara seperti ini, kira-kira mau gak? Ini bangunan buat rakyat. Jangan begitu mengerjakannya," semprotnya. Kontraktor yang mengerjakan proyek cuma manggut-manggut.
Tapi, kata Chui Mie, sebenarnya dia tidak suka videonya viral. Jikapun tindakannya benar. Tapi orang yang dimarahi pasti gak enak. "Sekarang kalau rapat, saya suruh semua pejabat menaruh HP di loker. Kalau saya terpaksa marah, gak ada yang merekam," ujarnya seraya tertawa.
Membayangkan Chui Mie marah, saya jadi teringat Ahok dulu. Semangat kerjanya sama. Komitmen pada rakyatnya juga sama. Bedanya, mungkin Chui Mie lebih taktis. Dia lebih suka membangun harmoni ketimbang harus berbenturan. Dengan catatan, hal-hal prinsip tetap tidak bisa dikompromikan.
Mungkin itukah yang membedakannya dengan Ahok. Chui Mie jauh tenang bicaranya.
Yang menarik dari Singkawang adalah, ini salah satu kota dengan tingkat toleransi terbaik. Kelenteng, gereja dan masjid bisa berdiri berdampingan. Seperti juga masyarakatnya yang hidup berdampingan.
Hanya saja. Selalu ada oknum yang mencoba memancing-mancing publik. Apalagi di musim kampanye begini. Buktinya kemarin, peringatan Maulid Nabi diisi oleh penceramah provokatif. Videonya sempat viral. Bikin keki.
"Saya sudah serahkan penangananya ke kepolisian. Saya gak mau masyarakat saya diobok-obok seperti itu," ujarnya tegas. "Kalau mau bikin acara keagamaan, silakan. Saya fasilitasi. Tapi jangan memprovokasi masyarakat dengan hoax."
Selagi saya asyik ngobrol, tetiba masuk WA dari Abu Kumkum. "Mas, lagi di Singkawang yah? Salam sama Michelle Yeoh ya..."
Eh, busyet. Gue udah pergi jauh, masih sempet-sempetnya nih orang nyeletuk.

0 komentar

Tulisan Populer