KITA AJARKAN DUNIA, BEGINILAH DEMOKRASI DIJALANKAN

Demokrasi
Demokrasi
Mata dunia menyorot pada Indonesia. Negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini sedang mendemonstrasikan bagaimana demokrasi semestinya dijalankan.
Pemilu 2019 bisa dibilang ajang demokrasi paling ribet. Pemilihan Presiden dan parlemen dilakukan bersamaan. Secara teknis luasnya wilayah Indonesia menjadi kendala. Belum lagi kendala masih minimnya infrastuktur yang bisa menyebabkan sulitnya pengiriman perangkat Pemilu.
Apalagi aturan KPU hanya membatasi waktu pencoblosan hanya beberapa jam. Dari jam 7.00 pagi sampai jam 13.00.
Bayangkan 800 ribu TPS lebih mengerjakan pencoblosan secara serentak. Di hari yang sama. Panitia Pemilu yang terlibat saja diperkirakan ada 7 juta orang. Melayani sekitar 190 juta pemilih.
Bahwa diantara itu semua ada beberapa persoalan yang kurang maksimal, kayaknya kita harus maklum. Mungkin ada satu-dua TPS yang kurang lancar. Mungkin juga ada yang jumlah surat suaranya kurang.
Menurut informasi hanya 38 TPS yang direkomendasikan Bawaslu untuk pencoblosan ulang. Karena ada masalah. Sementara 1000 TPS lebih sedikit harus melanjutkan pencoblosan karena kemarin kekurangan surat suara.
Tapi 38 TPS dari 800 ribu TPS, ibarat sehelai uban di rambut Rapunzel.
Mengkoordinasikan 7 juta orang panitia pemilih bukan perkara simpel. Mereka tersebar ke segala pelosok. Mereka gak bisa dikumpulkan di Monas, lalu diceramahi. Atau diajak sholat Jumat. Sebab petugas KPPS berbeda dengan laskar 212.
Ketika Rabu kemarin pencoblosan berjalan normal, kita patut berbangga diri. Inilah Indonesia. Inilah rakyat yang mengajarkan pada dunia bagaimana demokrasi mestinya dilaksanakan.
Bahkan, inilah wajah umat Islam sesungguhnya. Di Indonesia, pemahaman agama dan demokrasi seperti kawan akrab yang bisa jalan beriringan. Di tengah dunia Islam yang masih berkutat dengan perdebatan lama : bagaimanakah sistem politik Islam?
Sebab negeri yang sebagian besar muslim ini sudah terbiasa melakukan perhelatan politik dengan damai. Sukacita. Dan ceria. Di tengah gejolak politik negeri-negeri muslim yang terus gagap bagaimana mestinya sistem demokrasi di jalankan. Di tengah ketololan mereka memburu kekuasaan atas nama agama. Yang akhirnya menghancurkan negeri-negeri mereka sendiri.
Dunia gak bangga dengan Saudi dengan model kekuasaan kerajaan. Sirkulasi elit hanya diatur satu kekuarga saja. Dunia gak bangga dengan Mesir yang akhirnya melakukan kudeta militer. Dunia juga malas dengan Turki, yang memberangus semua oposisi.
Dunia juga ogah menengok sistem khilafah yang malah membawa malapetaka dimana-mana.
Tapi jika mereka menengok Indonesia, mereka akan tahu, ada sebuah bangsa yang sebagian besar penduduknya muslim mampu melakukan proses sirkulasi kekuasaan dengan adem. Ya, adem. Seperti yang kita alami minggu-minggu ini.
Ketika AS dan Eropa membanggakan sistem politik demokrasinya, mereka harus berkaca pada Indonesia. Lihat sini. Kami bisa mencontohkan pada dunia bagaimana peradaban kami juga setara dengan negara-negara maju. Kami bisa melakukan Pemilu dengan damai. Persaingan memang keras. Tapi rakyat Indonesia adalah bangsa yang dewasa.
Kami merayakan Pemilu sebagai pesta. Pengan senyum merekah.
Jangan kalian bangga dengan budaya politik kalian. Lalu mendekte-dikte kami. Di sini, di Indonesia, demokrasi adalah makanan sehari-hari kami. Mulai dari pemilihan kepala desa kami sudah dilatih bagaimana memilih pemimpin dengan baik. Jadi kalau hanya memilih Presiden dan anggota legislatif, bukan hal baru bagi kami.
Apapun hasil dari Pemilu ini, akhirnya kita bisa membusubgkan dada kepada dunia. Bahwa peradaban rakyat kita sejajar dengan peradaban politik besar lainnya.
Jika sekarang masih ada elit yang kurang ajar. Ngompor-ngopori rakyat untuk bentrok, karena mungkin dia kalah Pemilu, itu namanya kaum perusak. Elit jenis itu perlu belajar banyak dengan rakyat. Mereka seharusnya malu dengan wajah-wajah petani, nelayan, buruh, ibu rumah tangga, mahasiswa, pekerja kantoran. Mereka, para elit itu, harusnya belajar kearifan dari rakyat.
Jika ada kecurangan Pemilu, kita punya lembaga pengadilan. Kita punys MK. Kita punya Bawaslu. Kita punya dewan etik Pemilu. Semua adalah lembaga yang bisa memastikan Pemilu kita berjakan adil, jujur, transparan.
Sebagai rakyat saatnya kini kita sujud syukur. Bukan untuk merayakan kemenangan satu kandidat. Kita ingin bersyukut karena damainya Pemilu sesungguhnya adalah kemenangan dan kedewasaan rakyat Indonesia.
Kalau Prabowo melakukan sujud syukur untuk manufer politik. Itu terserah dia. Toh, itu menang kebiasaanya sejak dulu.
Survei sendiri. Punya hasil sendiri. Merasa menang sendiri. Sujud syukur sendiri.
"Yang nanti akan dilantik juga tetap Jokowi-Amin, ya mas?," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer