KETIKA JENDERAL GATOT, SALAH MENGIDENTIFIKASI MUSUH

PKI
Gatot Nurmantyo
Kehebatan penting seorang tentara adalah bagaimana dia mampu mengindentifikasi siapa musuhnya. Kalau salah mengidentifikasi musuh, bisa-bisa negara ambudardul.
Itulah yang saya nilai dari pernyataan Gatot Nurmantyo yang mengatakan saat ini ada pertentangan antara Islam lawan PKI.
Pertama, jika Gatot adalah jenderal TNI, yang harus diidentifikasi adalah musuh negara. Musuh semua rakyat Indonesia. Bukan musuh satu golongan saja.
Kedua, kenapa Gatot meyakini PKI masih eksis, padahal bau-baunya saja sudah gak ada. Paling-paling orang merujuk pada simbol palu arit, yang entah dicomot dari mana. Rizieq dulu pernah menuding ada palu arit di lembaran duit. Laskar FPI pernah membakar bendera paku arit. Entah, di dapat dari mana bendera itu.
Ada juga orang memakai topi ditempeli logo palu arit. Itu jelas gambar editan.
Bau PKI paling kentara malah disebarkan oleh Kivlan Zein
Dia bilang ada 15 juta anggota PKI di Indonesia. Tapi satu saja dia gak bisa buktikan keberadaanya. Padahal 15 juta itu banyak lho.
Rakyat dipaksa takut hanya dengan gambar dan logo. Rakyat dipaksa kuatir dengan informasi palsu. Sebab sampai detik mereka menyebut-nyebut PKI, tidak ada indikasi sedikitpun peristiwa yang terkait dengan PKI. PKI zaman ini hanya hidup di pikiran orang seperti Gatot dan Kizlan Zein. Hadir sebagai musuh imajiner.
Lalu dari logo itulah mereka teriak mengobarkan kebencian. Aneh. Masa seorang jenderal mengidentifikasi logo sebagai musuh. Lalu teriak-teriak mengekploitasi emosi umat Islam.
Omongan Gatot itu seperti memberi narkoba pada rakyat. Mereka menciptakan rasa paranoid pada khayalannya sendiri. Mirip seperti dampak narkoba.
Lantas siapa musuh bangsa ini sesungguhnya? Mari lihat fenomena yang benar terjadi di masyarakat. Fenomena riil. Bukan hanya hayalan.
Saat ini ada ribuan orang Indonesia di Suriah. Mereka datang ke sana untuk bergabung dengan ISIS. Puluhan ribu lainnya masih bercokol di Indonesia. Mereka menunggu momentum mengobarkan jihad.
Salah satunya Chep Hermawan, Ketua Umum Garis, organisasi simpatisan ISIS. Nah, mobil Chep itulah yang dipakai Prabowo untuk kampanye di Cianjur.
Fenomena kehadiran jihadis ini sangat terasa. Sudah berapa puluh kali Republik ini diserang teror dari jaringan radikal. Ratusan orang sudah ditangkap. Tapi ideologi mereka terus merembes.
Hasil riset Alvara menunjukan bahwa 10 persen anak sekolah kita setuju dengan ideologi khilafah. Ini jelas mengkhawatirkan. Ideologi ini masuk. Terang-terangan menunjukan diri. Mudah menuding hidung orangnya.
Bendera HTI berkibar di panggung kampanye Prabowo. Mereka memprovokasi rakyat untuk berkonflik. Mereka memunggangi Pemilu kita.
Ini yang harusnya diidentifikasi sebagai musuh. Keberadaannya jelas. Sepak terjangnya jelas. Dampak buruknya kita rasakan. Dan tujuannya berbahaya bagi ideologi negara.
Ketika Gatot menyatakan kini terjadi perang ideologi Islam versus PKI, rasanya statemen itu bukan disampaikan oleh seorang jenderal. Tapi omongan politisi. Gatot hanya ingin menarik perhatian umat Islam saja. Wajar. Gatot kan sudah pensiun. Dia butuh panggung untuk tetap mempertahankan eksistensinya di kancah politik. Meskipun dengan menampilkan musuh imajiner.
Gatot tahu, banyak muslim yang masih bodoh. Nah, omongannya itu ditujukan bagi umat yang malas berfikir. Bagi mereka yang punya paket data dan biasa memanfaatkan internet untuk cari informasi, omongan Gatot itu sama saja seperti Rocky Gerung di ILC. "Saya di ILC cuma ngibul," ujar Rocky.
Untung saja Gatot sudah bukan panglima lagi. Sebab, kalau seorang panglima salah mengidentifikasi musuh, bisa berabe negara kita. Bisa salah nembak. Dikira musuh, gak tahunya mertua.
Gatot ini mirip Prabowo. Omongannya sering salah. Dia bilang militer Indonesia payah. Dia membanggakan Singapura. Padahal menurut data kekuatan militer kita nomor 15 dunia. Jauh di atas Singapura yang berada di posisi 59.
"Ohh, pantas. Gatot, Kivlan Zien dan Prabowo cocoknya memang ada di satu barisan. Soalnya salah melulu," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer