KAMU LUCU BANGET, PAK PLESIDEN!

Karikatur Prabowo
Karikatur Prabowo
Amien Rais silakan mengancam dengan people power. Peoplenya entah dari mana. Kalau powernya ketinggalan bisa pinjam power bank orang lain.
Silakan dicas HP-nya. Lalu umumkan hasilnya. Sekarang baru 55%, lalu 62%, kemudian 65%. Sampai 100% jangan lupa power bank orang dipulangin Min.
Prabowo silakan ngotot jadi Presiden berdasarkan survei diam-diam yang tiada seorangpun tahu. Ketika diajak buka-bukaan metode survei mereka menolak. Alasannya, kerena bukan muhrim. Gak boleh buka-bukaan. Kalau mau dibuka, harus dihalalin dulu.
Din Syamsuddi silakan mengharamkan Quick Count. Mungkin nanti dia juga akan mengharamkan mata kuliah statistik atau metode survei di kampus. Diganti dengan pelajaran rukyah atau bekam.
Arief Puoyono silakan mempelajari matematika gaya baru. Cara menemukan angka 62% didapatkan pembagian 62 dibagi seratus. 62-nya dari mana? Dari kode negara Indonesia +62. Itulah suara Prabowo di Pilpres.
Rizieq Shihab silakan telepon-teleponan dengan Prabowo. Mengucapkan selamat menang Pilpres. Setidaknya masih ada orang di luar negeri yang mengikuti halusisasi Prabowo. Daripada pusing baca koran internasional yang beritanya bikin sakit hati mereka. Loser yang ngaku pemenang.
Para pemandu sorak Prabosan silakan saja teriak-teriak di sosmed sampai jempolnya cantengan. Mengedit-edit formulir C1 sendiri. Merasa menang sendiri. Teriak-teriak memanggil pemantau asing, eh yabg datang kakek Sugiono dari Jepang.
Gerombolan HTI silakan saja menjajakan neraka menghardik-hardik orang lain. Mencaci maki dan mengkafir-kafirkan mereka yang masih waras. Mereka kira yang bisa masuk surga hanya orang gak waras yang mau mengikuti kegilaannya.
Kita biarkan mereka menuntaskan sakit hatinya sendiri. Kita biarkan saja mereka menari sendiri. Merasa menang sendiri. Lalu menjejerkan orang, untuk antri satu-satu. "Siap Plesiden!"
Biarkan saja. Mumpung masih ada waktu sampai KPU mengumumkan secara resmi hasil Pilpres. Mereka bisa menumpahkan kedegilannya di depan publik. Mereka bisa memamerkan kesehatan jiwanya di depan anak-anaknya. "Mau berlagak kerusupan seperti apapun hasil pemilu gak akan berubah."
Kita, nonton TV aja. Ada film Upin-Ipin yang jauh lebih menghibur dibanding kelakuan mereka.
Sebentar lagi masuk Ramadhan. Lalu lebaran. Siapkan amplop. Nanti saat Idul Fitri, suruh bocah-bocah antri di depan pintu. Satu-satu. "Siap Plesiden."
Mereka senang. Pulang membawa duit di amplop. Kitapun senang. Dianggap Presiden oleh bocah.
Indahnya Indonesia. Kekenthiran seringkali bisa jadi hiburan.
"Eh, kenapa kamu tertawa. Lucu, ya? Kamu pikir lucu, ya?"
Iya, lucu. Kamu lucu banget Pak Plesiden!
Asshiiiaappp...

0 komentar

Tulisan Populer