KAMPANYE PRESIDEN RI, BUKAN KAMPANYE KHILAFAH

Jokowi di GBK
Jokowi di GBK
Ketika panggung kampanye Jokowi-Amin di GBK melantunkan lagu Padamu Negeri, entah dari mana datangnya, tetiba mataku hangat. Saya yang berbaur dengan ratusan ribu orang seperti merasakan energi aneh. Energi yang membangkitkan. Energi yang meruap.
Di mata saya terbayang wajah Indonesia masa depan. Negeri tempat anak dan cucu saya nanti hidup. Negeri tempat saya dan Anda semua menghabiskan hari tua.
Negeri dengan banyak etnis, agama, suku, dan daerah ini sejak dulu selalu tersisih dalam percaturan dunia. Kita dulu tidak percaya diri. Rasa minder pernah kita alami.
Tapi empat tahun terakhir ada yang berubah. Kini rasa percaya diri begitu meluap. Kita akhirnya yakin, bahwa negeri ini ternyata bisa menunjukan jati dirinya. Menonjolkan prestasinya. Meraih mimpi-mimpinya.
Seorang Jokowi telah membuka mata kita betapa selama ini kita sia-siakan potensi kita. Jokowi telah membangkitkan perasaan bahwa Indonesia bukan bangsa remahan rengginang. Bukan bangsa inlander. Bukan bangsa tempe bongkrek.
Jokowi membuktikan jika kita mau dan sungguh-sungguh kita bisa maju. Bisa setara dengan bangsa lain. Dia juga mencontohkan dengan perjalanan hidupnya, tidak ada yang tidak mungkin untuk diraih.
Setiap kali saya mendengar Jokowi pidato, bukan susunan kata-kata indah yang keluar dari mulutnya. Pidatonya sederhana. Susunan katanya tidak berbunga-bunga. Tapi energinya menjalar. Dan di balik kata-kata sederhanya itu ada keseriusan untuk mewujudkan.
Saat sore ini saya mendengar lagu Padamu Negeri dinyanyikan seluruh manusia yang hadir di GBK, yang terasa adalah dada yang penuh. Kita mengenal sesuatu yang namanya Indonesia. Sesuatu yang entah mengapa, ikut menguras rasa cinta di dada kita.
Rasa cinta seperti itulah yang membuat kita gak ikhlas apabila ada gerombolan yang mau merusaknya. Rasa cinta itulah yang membetot kita untuk memperjuangkan orang baik untuk sekali lagi menghela lokomotif perjalanan bangsa ini.
Mungkin perasaan itu yang tidak dirasakan sebagian anak bangsa yang kerjanya mengecilkan bangsanya sendiri. Atau mereka yang menista-nista ideologi perekat yang mengikat Indonesia. Mereka mencerabut kecintaanya pada bangsanya ditukar dengan kebanggaan semu.
Kampanye Jokowi di GBK hari ini, menunjukan keragaman. Tidak didominasi oleh simbol satu kelompok. Sebab ini adalah kampanye Presiden Republik Indonesia. Presiden seluruh rakyat. Bukan kampanye khilafah.
Jokowi adalah salah satu energi keragaman itu.

0 komentar

Tulisan Populer