BETERNAK KEBODOHAN DI INDONESIA

Khilafah
HTI
Kata mereka : Khilafah itu ajaran Islam. Jangan dipertentangkan. Itu sama saja mempertentangkan Pancasila dan Islam. Khilafah ada di Alquran.
Kalimat itu sering kita dengar sebagai pembelaan gerombolan HTI. Mereka berangapan doktrin HTI sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan orang sekelas Din Syamsudin malah menyamakan khilafah dan khalifah.
Statemen Gatot Nurmantyo juga gak jauh beda. Dia mengkritik analisis Prof. Hendropriyono yang mengatakan Pilpres ini bukan sekadar memilih Capres. Juga terdapat pertentangan dua ideologi : Pancasila dan Khilafah. Bagi Gatot, mungkin, gak ada masalah dengan ideologi khilafah.
Kata khalifah memang disebut dalam Alquran. Artinya pemimpin. Tapi kata khilafah, yang bermakna sistem kepemimpinan atau sistem pemerintahan, gak pernah ada dalam Alquran. Jadi khilafah yang dimaksud HTI itu gak ada dalam ajaran Islam.
Kalau mau menelusuri sejarah, ada dua pemikiran besar dalam Islam yang saling berbeda. Pertama mereka yang meyakini Rasulullah sebelum wafat tidak berwasiat untuk menunjuk penggantinya.
Golongan yang menyakini Rasulullah tidak berwasiat kita kenal dengan sebutan Sunni. Tapi bagaimana cara memilih pengganti setelah Rasulullah wafat? Justru berbeda-beda.
Setelah Nabi wafat, Syadinna Abubakar RA, dipilih sebagai pengganti berdasarkan pemilihan rakyat. Dia dipilih oleh orang yang langsung berbaiat kepadanya. Mirip Pemilulah.
Ketika Abubakar menjelang wafat, dia justru berwasiat menunjuk Syaidina Umar bin Khattab menjadi penggantinya. Naiklah Umar sebagai pengganti.
Menjelang Umar wafat, dia menunjuk beberapa orang untuk menjadi presidium. Diantaranya Ustman bin Affan, Imam Ali bin Abi Thalib Saad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Abdur-Rahman bin Auf. Mereka akhirnya memilih Usman bin Affan sebagai pengganti.
Begitupun setelah Usman wafat dia tidak meninggalkan wasiat. Lalu umat saat itu kembali melangsungkan pilihan dengan membaiat Imam Ali bin Abi Thalib.
Artinya, jika keempat pemimpin ini disebut sebagai cikal bakal khilafah, toh gak ada sistem baku yang bisa dijarikan patokan. Semua suskesinya berbeda-beda.
Berbeda dengan keyakinan Syiah, yang meyakini Rasulullah sudah mewasiatkan menunjuk pengganti setelah beliau wafat. Ia menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai penggantinya. Sejarah merujuk pada khutbah Rasulullah setelah melaksanakan Haji Wadda.
Kutbah itu dilaksanakan di sebuah tanah lapang yang letaknya diantara kota Mekkah dan Madinah, yang dikenal sebagai Gadir Khum. Diantara statemen Nabi pada saat itu adalah 'Man Kuntu Maulahu fa ‘Aliyyun Maulahu (Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpin, maka Ali juga adalah pemimpinnya).'
Umat Syiah memperingati kutbah Nabi mulia itu sebagai hari raya Algadir.
Jika kita mau merujuk pada sejarah ternyata tidak ada contoh tunggal bagaimana umat Islam memilih pemimpin setelah wafatnya Rasulullah.
Pertanyaanya, khilafah ala HTI itu mau merujuk ke mana? Wong, sejarah saja menggambarkan berbagai perbedaan dan versi. Dan yang pasti, kata khilafah tidak ada dalam Alquran.
Doktrin khilafah yang kita kenal sekarang hanya tafsir orang-orang HTI saja. Mereka adalah orang yang ingin membangkitkan kenangan tentang perang salib dimana khilafah terakhir masih berdiri di Turki. Jadi HTI ingin mengajak kita ke abad pertengahan untuk kembali ke pemerintahan Turki sebelum Kemal Attarturk.
Sementara Turki sendiri, meski kini dikuasai oleh partai yang bersemangat Ikhwanul Muslimin (Erdogan), toh gak mau juga menegakkan khilafah ala abad pertengahan. Bahkan Turki adalah salah satu negara yang mengharamkan HTI bercokol disana.
Jadi orang yang ngomong khilafah sama dengan ajaran Islam adalah mereka yang jadi korban doktrin HTI yang buta sejarah. Sejarah dipotong hanya pada jaman khilafah jauh setelah jaman Nabi. Justru setelah itu kita mengenal berbagai kudeta dan perebutan kursi khilafah oleh berbagai Dinasti.
Ada dinasti Abasiah, dinasti Fatimiyah, dan sebagainya. Biasanya pergantian kekuasaan dilakukan dengan menumpahkan darah. Jika suksesi harus dilakukan dengan pertumpahan darah, ya sistem pemerintahan itu belum ajeg. Gak bisa dijadikan patokan. Masa rakyat disuruh perang terus.
Masih jauh lebih beradab sistem politik kita yang didasarkan pada Pancasila. Setelah reformasi, berbagai pergantian kekuasaan kita jalani dengan mulus. Gak ada darah yang tertumpah. Ini menandakan sistem politik Indonesia jauh lebih stabil dari tawaran khilafah yang gak jelas itu.
Pertentangan khikafah dan Pancasila sesungguhnya adalah niat mengganti sistem politik yang sudah stabil dengan yang masih labil. Sayangnya kelabilan ini dibalut dengan istilah-istilah agama. Jadi seolah-olah benar.
Korbannya adalah rakyat bodoh yang menggigil katakutan kalau disodorkan istilah-istilah bahasa Arab, betapapun tidak jelasnya sistem itu.
Munculnya ideologi khilafah di Indonesia adalah hasil ternak kebodohan umat. Jangan kaget. Jika orang sekelas Din Syamsudin saja juga ternyata kepleset pemahamannya.
Kita gak bisa membiarkan ternak kebobohan itu terus menerus meracuni umat Islam Indonesia. Apalagi ketika politisi yang haus kekuasaan memanfaatkan hasil ternak kebodohan tersebut untuk mencari suara.
Makanya, statemen Hendroriyono yang mengatakan saat ini kita dihadapkan pada perang ideologi antara Pancasila dengan khilafah, bisa dibaca sebagai warning. Semata untuk menginformasikan jangan sampai rakyat dibodohi dengan jargon agama.
Jargon seperti ini hanya laku kalau Indonesia terjadi huru-hara. Makanya para pengusung khilafah ini selalu mencari celah keributan. Bikin kekacauan dimana-mana. Inilah yang membahayakan bangsa Indonesia.
Kalau hari ini kita dengar isu soal PKI bangkit, itu adalah bagian permainan mereka untuk menipu umat Islam. Tujuannya untuk membenturkan rakyat Indoensia. Seolah Islam sedang terancam oleh musuh imajiner.
Sebab kalau merujuk ke sejarah dan Alquran, khikafah sama sekali gak ada hubungannya dengan Islam. Sebab mana mungkin Alquran menganjurkan sistem yang labil seperti khilafah.
"Mungkin mereka semua khilaf, mas. Kekhilafan yang disebarkan," celetuk Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer