Ayo MUI, Akui Saja Teroris di Srilanka Itu Bagian dari Umat yang Sakit

Teror Srilanka
Lokasi ledakan di Srilanka
Pada 11 April 2019 ada peringatan dari intelejen asing kepada pemerintan Srilanka. Bakal ada serangan teror dari kelompok yang menamakan dirinya National Thawheed Jamath (Jemaah Tauhid Nasional). Kelompok ini adalah gerombolan Islamis garis keras di negeri miskin itu.
Benar saja. Pada peringatan Paskah kemarin, enam bom meledak di Kolombo. Sebagian menghantam gereja. Sebagian lagi menghancurkan hotel yang biasa digunakan turis asing. Dua ratus lebih orang tewas, 500 orang lainnya luka.
Analisis forensik menunjukan pelaku melakukan bom bunuh diri. Persis seperti kelakuan teroris kain di seluruh dunia.
Dari Indonesia Majelis Ulama mengutuk kejadian itu. Tapi di balik kutukan mereka berkata bahwa teroris tidak berhubungan dengan agama apapun.
Saya sedih dengan statemen tersebut. Seolah MUI ingin menutup mata terhadap problem besar yang terjadi pada diri umat Islam saat ini. Mengatakan bahwa terorisme saat ini tidak berhubungan dengan agama, sama saja bilang Prabowo adalah pemenang Pilpres. Jauh dari kenyataan.
Jika begitu cara pandang MUI, wajar saja kalau gerombolan ini terus merangsek. Sebab dalam diri lembaga sebesar MUI sendiri tidak mau mengakui bahwa ada yang sakit dengan pemahaman sebagian umat Islam. Dengan pandangan itu MUI dipastikan akan cuek dengan merebaknya paham Iwlam radikal yang makin mengkhawatirkan.
Sebab ketika penganut paham itu sudah melakukan aksinya, MUI langsung memotong bahwa aksi mereka gak ada hubunganya dengan Islam. Gak ada hubungannya dengan agama.
Padahal kita tahu, dasar dari aksi-aksi seperti itu adalah lahir dari pemahaman keislaman yang kacau. Ideologi Wahabi yang keras dan kaku merupakan inti dari keyakinan para teroris di seluruh dunia. Artinya, kalau mau jujur, terorisme saat ini lahir justru dari rahim umat Islam sendiri. Dan kita juga tahu, pemahaman Wahabi dengan berbagai variannya di Indonesia kini merebak seperti kutu air. Menggerogoti kedamaian kehidupan kita.
Masjid-masjid kita dikuasai gerombolan mereka. Para pendakwah memperkenalkan jenis pemahaman agama yang i toleran. Penceramah di TV dan radio banyak diisi oleh pemahaman jenis ini. Bahkan sekolah kita mulai dari TK sampai perguruan tinggi banyak disusupi ideologi jenis ini.
Srilanka punya National Thauheed Jamath. Indonesia juga punya Jemaah Ansharut Tauhid. Kita juga punya Jamaah Ansharut Daulah. Keduanya berafiliasi dengan gerombolan teroris dunia seperti ISIS dan Alqaedah. Belum lagi pemahaman keagamaan yang suka mangkafir-kafirkan (takfiri) yang kini menjadi trend di Indonesia.
Umat Islam harus jujur bahwa terorisme saat ini adalah problem besar keumatan sekarang. Lembaga seperti MUI mestinya yang paling dulu memikul tanggungjawab besar untuk menjawab persoalan umat ini. Bukannya malah menyangkal dengan mengatakan terorisme tidak ada hubungannya dengan agama.
Memang aksi teroris bisa dilakukan oleh agama apapun. Bukan hanya orang Islam. Penembakan di Masjid di New Zaeland, contohnya. Tapi bukan berarti mengabaikan fenomena lain bahwa dunia ini sedang mewabah pemahaman Islam yang kemudian menggiring mereka jadi teroris.
Mulanya sikap intoleransi. Lalu muncul merasa benar sendiri. Kemudian semangat untuk menghancurkan keyakinan lain. Plus libido ingin berkuasa.
Coba lihat Boko Haram, Abu Syayaf, ISIS, Alqaedah, JAT, JAD, Jabhat An-Nusra, Taliban, Hizbut Tahrir, dan sejenisnya. Mereka adalah gerombolan-gerombolan srigala yang menggunakan agama untuk aksinya.
Membiarkan ideologi takfiri tumbuh di Indonesia sementara menyangkal jika terjadi aksi teroris bahwa itu tidak ada hubungannya dengan agama. Sama saja ngaku gak doyan pedes tapi kalau beli rujak, cabenya segambreng. Sama saja ngaku antipornografi tapi di HP-nya banyak video bokep.
Mestinya semua organisasi Islam mengakui bahwa ada yang salah dengan pemahaman sebagian umat saat ini. Sehingga program utama mereka ditujukan untuk menangani radikalisasi. Itulah persoalan paling berat yang dihadapi umat Islam saat ini.
Fungsi organisasi-organisasi keislaman semestinya menjadi petunjuk arah bagaimana pemahaman keagamaan yang benar. Mereka harus menjadi penyangkal nomor satu ideologi takfiri. Mereka harus menjadi garda depan memerangi terorisme atas nama agama.
Akui saja. Umat Islam sedang sakit. Terorisme adalah kanker yang menggerogoti Islam. Dengan demikian semua kekuatan umat diarahkan untuk menyembuhkan penyakitnya.
Hentikanlah sikap berpura-pura sehat. Hentikanlah bersandiwara mengatakan bahwa Islam saat ini sedang baik-baik saja.
Berhentilah membohongi diri sendiri. Berhentilah menolak mengakui kenyataan. Jangan lagi hidup dengan delusi.
"Iya, mas. Cukup seorang Capres saja yang sibuk membohongi dirinya. Kita gak usah ikut-ikutan," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer