ASTAGA, PROBOWO SUJUD SYUKUR LAGI

Prabowo Subianto
Prabowo Sujud
Pencoblosan sudah selesai. Kita sudah memberikan amanah. Kini tiblnggal menunggu hasil penghitungan suara. Resminya dihitung manual oleh KPU.
Penghitungan manual membutuhkan waktu lama. Nah, ditengah waktu itu kita dibantu oleh penghitungan cepat dengan menggunakan metodelogi survei. Sehingga kita bisa mengira-ngira hasilnya.
Caranya dengan mengambil sample ramdom proporsional. Surveyor disebar di berbagai TPS yang menggambarkan keragaman. Di berbagai daerah. Kota maupun desa.
Langkah hitung cepat adalah cara ilmu pengetahuan memprediksi hasil. Metode statistik digunakan. Yang namanya metodelogi ilmiah memiliki standar sama. Di seluruh dunia. Satu tambah satu, hasilnya sama dimanapun. Rumus luas segitiga juga sama. Tinggal masukan ukuran kakinya. Itulah cara kerja metodelogi ilmiah.
Dengan metode ilmiah kita bisa punya pegangan yang standar. Kita bisa memprediksi hasil. Salah satu guna ilmu pengatahuan adalah memprediksi kemungkinan. Jika cara dan metodelogi diterapkan sesuai dengan standar ilmiah sebuah pengamatan terhadap objek yang sama, pasti hasilnya tidak jauh berbeda.
Dalam survei, persoalannya hanya pada sampel yang diambil. Semakin random sampel, semakin banyak dan beragam, prediksi hasil akan mendekati akurat. Makanya menentukan sampel ini juga ada kreterianya. Gak bisa sembarangan.
Hasil survei berbagai lembaga ilmiah menggambarkan Jokowi memenangkan Pilpres. Jika mengacu pada pemikiran ilmiah hasil-hasil ini cukup sebagai pegangan.
Tapi secara hukum belum bisa mengatakan Jokowi menang. Kepastian hukum terhadap kemenangan Pilpres, menunggu pengumuman KPU. Artinya soal hasil suara masyarakat ilmiah bisa berpegangan pada hasil hitung cepat lembaga kredibel. Sementara untuk kepastian hukum tunggu saja hasil KPU.
Bagaimana jika ada lembaga survei yang hasilnya berbeda jauh. Misalnya, ada survei yang memenangkan Prabowo-Sandi. Itupun hasil survei internal tim Prabowo. Sementara berbagai lembaga survei lainnya menghitung kemenangan Jokowi.
Dalam ilmu pengetahuan survei internal bisa mengandung bias hasil. Sebab yang melakukan survei berkepentingan pada hasil. Objektifitas survei dipertanyakan. Ruang untuk terjadinya pelanggaran ilmiah sangat besar.
Jadi gimana masyarajat menilai hasil survei itu? Gampang. Untuk sebuah perdebatan ilmiah buka saja metodelogi surveinya. Kalau ada satu objek yang sama tetapi dua survei punya hasil berbeda, pasti ada yang salah diantara salah satunya. Jadi gak usah ngomong dulu mana hasil yang paling benar, tapi mari bicara soal mana standar survei yang paling ilmiah dan valid.
Inilah cara jika kita mau mengajarkan rakyat dengan akal sehat. Ajarkan publik menggunakan pikirannya. Ajarkan publik mempercayai metodelalogi ilmu pengetahuan. Jangan justru memaksa publik untuk melawan ilmu pengetahuan.
Apalagi melawan metodelogi ilmiah dengan jargon politik. Hal tersebut adakah pengajaran yang salah kepada masyarakat.
Prabowo boleh mengklaim sebagai pemenang Pilpres berdasarkan surveinya sendiri. Sedangkan Jokowi tidak memgklaim apa-apa karena timnya tidak membuat survei sendiri. Tim Jokowi mempercayakan berbagai lembaga survei kredibel menjalankan fungsi ilmiahnya untuk mencerdaskan publik.
Pertanyaanya, mau gak tim internal Prabowo membuka tata cara dan metode survei yang digunakan.
Ingat disaat sekarang ini kita gak berdebat hasil Pilpres. Hasil Pilpres biar urusan KPU nanti. Kita semua sudah sepakat. Yang kita ingin dapatkan adalah sebuah pertanggungjawaban ilmiah dari hasil survei yang berbeda itu.
Kalau tim survei internal Prabowo gak mau membuka metodelogi survei yang digunakan. Sebagai masyarakat berakal sehat, sebaiknya gak usah percaya. Kita bisa percaya pada prediksi hasil Pilpres apabila cara melakukan surveinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu pengatahuan. Kalau kita percaya sama hasil survei tim internal Prabowo, sementara mereka gak pernah berniat membuka metodeloginya, sama saja kita percaya sama pocong.
Disinikah mestinya orang kayak Rocky Gerung bisa terlibat. Kalau dia ingin mengajarkan politik akal sehat inilah momentumnya. Tunjukan keberpihakan pada akal sehat. Bukan berpihak pada dukun internal.
Klaim kemenangan Prabowo adalah langkah yang merusak akal sehat publik. Apalagi di balik klaim kemenangan itu sebagian orang memprovokasi untuk membenturkan masyarakat. Saya mendengar pidato Egi Sudjana mengenai ini. Juga beberapa video yang bernada provokasi serupa. Ini adalah tindakan paling berbahaya.
Kesalahan fatal Prabowo ketika mengklaim kemenangannya sendiri adalah dia sedang menjajah akal sehat masyarakat. Demi kekuasaan dia rela menganggap rakyat Indonesia ini semuanya dungu, sedungu yang sering dilontarkan Rocky Gerung.
Dan Prabowopun sujud syukur untuk kedua kalinya.
Dia bukan hanya memaksa publik percaya pada takhyul. Dia sendiri begitu menjiawai kepercayaanya sendiri.
"Mas, Sandiaga sakit cegukan ya? Makanya gak mau sujud syukur. Takut gak khusyuk," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer