WASPADA TERORIS DI SEKITARMU

Terorisme
Polisi

Di Sibolga, Sumatera Utara sebuah bom meledak. Awalnya polisi hendak menangkap seorang teroris. Entah gimana ceritanya, lalu bom meledak disana. Seorang polisi dan warga menjadi korban. Untung gak sampai meninggal.

Di Jogja lain lagi. Seorang lelaki menerobos markas polisi. Dia membawa tas. Isinya peluru. Beberapa senjata. Dan buku jihad. Untung polisi langsung menangkap lelaki mencurigakan tersebut.

Gerombolan srigala ini tampaknya berusaha memanfaatkan momen Pilpres. Tujuannya membuat kekacauan. Mumpung publik Indonesia sedang terpecah dalam pilihan politik. Mereka berusaha mempertajam perpecahan itu. Kalau bisa saling bunuh sekalian.

Dari percik darah itulah mereka menemukan hidupnya. Dari teriakkan kesakitan dan penderitaan itulah libido perang mereka bangkit. Sebab ideologi orang-orang jenis ini adalah ideologi mesiu. Ideologi kobaran api. Ideologi darah dan bau anyir bangkai manusia.

Tapi teroris tidak berdiri sendiri. Di belakang mereka ada kondisi yang mendukung. Suasana yang panas. Masyarakat yang terbakar hoax. Itulah kondisi yang membantu teroris mencapai tujuannya.

Apa tujuannya? Konflik horisontal. Perang sipil. Perang saudara atau perang agama. Pokoknya saling bunuh diantara kita.

Kebencian harus dibangun. Dengan cara apapun. Kebencian pada pemerimtah. Kebencian pada non-muslim. Kebencian pada muslim berbeda pilihan. Untuk sampai puncak kebencian hoax adalah jalan satu-satunya.

Sebagai contoh. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual diajukan DPR. Tujuannya agar melindungi perempuan dan anak-anak dari perilaku buruk. Semua fraksi di DPR setuju. Hanya PKS yang menentang.

Apa narasi yang dibangun? Katanya RUU itu akan melegalkan seks bebas dan LGBT. Mereka menuding Jokowi dengan narasi tersebut. Padahal gak ada satupun pasal dalam draft RUU yang terindikasi melegalkan seks bebas. Apalagi LGBT. Lagipula RUU diusulkan DPR, bukan usulan pemerintah. Kenapa Jokowi yang disalahkan?

Isu ini diplintir sedemikian rupa. Tujuannya agar rakyat tertipu. Mereka mengarang cerita bokep soal seks bebas dan LGBT. Lalu mengangkat diri jadi sebagai pahlawan. Penjaga moral. Atas nama partai Islam. Menentang RUU-PKS.

Entah moral apa yang mau diselamatkan dengan menentang aturan mengenai penghapusan kekerasan seksual. Artinya mereka gak masalah dengan perilaku biadab dalam hubungan seks.

Gorengan tersebut tujuannya agar rakyat membenci Jokowi. Ditambah beredarnya kondom dibungkus foto pasangan Capres 01. Makin sempurnalah skenario kebencian itu. Atas nama agama. Ujung-ujungnya kalau bisa, saat dibutuhkan nanti rakyat bodoh itu akqn ditumbalkan. Jadi kayu bakar kerusuhan.

Permainan elit politiknya lain lagi. Elit-elit ini terus mendegradasi KPU. Menstigma KPU curang. Agar bisa memantik kerusuhan rakyat dengan alasan Pemilu yang gagal. Amien Rais adalah salah seorang yang memainkan peran tersebut.

Di bawah, kader-kader militan terus bergerak. Mengobarkan semangat kebencian. HTI ganti topeng. Organisasi baru. Isinya tetap. Tempat para tumbila khilafah berkumpul.

Bagi mereka HTI cuma nama. Tujuan utamanya menghancurkan Indonesia. Jadi soal ganti nama gampang saja.

Kampus dan mahasiswa banyak pengikut HTI. Semuanya bergaya sengak. Jika diibaratkan mereka kayak Rocky Gerung pakai jenggot panjang. Sok pinternya sama. Plus sok agamis. Lengkap sudah.

Yang paling ngehe, politisi kelas jagung rebus juga punya kepentingan jika Indonesia dilanda konflik. Politisi jenis ini sadar bahwa kemenangan hanya bisa diraih apabila rakyat Indonesia berkelahi. Rakyat yang berkelahi butuh bedil. Bukan pensil. Mereka butuh pelajaran pembunuh. Mereka gak butuh membaca sastra.

Dilalah, Prabowo datang ke Cianjur. Ada insiden ia memarahi orang yang berlari di samping mobil yang ditumpanginya. Netizen kaget. Ternyata mobil yang ditumpangi Prabowo milik ketua GARIS, organisasi yang berafiliasi dengan Jemaah Ansarut Daulah (JAD). Nomor polisinya B 2 64RIS. Memiliknya adalah Chep Hermawan.

Chep juga dikenal sebagai pendukung ISIS di Cianjur. Ia adalah penyandang dana untuk memberangkatkan WNI ke Suriah.

Lantas apa hubungan gerombolan teroris biadab itu dengan Prabowo?

Tidak jelas. Siapa yang memanfaatkan siapa.

"Mas, kalau orang suka makan anak tikus katanya jadi galak ya?," ujar Abu Kumkum.

Saya tahu. Kumkum baru saja nonton video Capres yang memukul orang dari atas mobilnya. Galak bener...

0 komentar

Tulisan Populer