Warning! Banyak Lubang di Hari Pencoblosan

Warning
Warning
Ketika kita masuk ke bilik suara pada 17 April nanti, kita akan membawa lima kertas suara. Pertama, kertas suara Pilpres. Lalu pemilihan DPR, DPRD Provisinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Ada lagi surat suara untuk DPD. Hanya rakyat DKI Jakarta yang membawa empat surat suara, karena mereka gak memilih DPRD Kabupaten/Kota.

Bandingkan dengan sebelummya. Pilpres dan Pileg dipisah. Ini membuat waktu pelaksanaan pemungutan suara lebih pendek..

Dengan lima kertas suara, saya membayangkan ada tambahan waktu. Baik ketika pencoblosan maupun perhitungan suara. Jika masing-masing TPS berisi 300 pemilih dan proses penghitungan surat suara wajib dibuka satu-satu, hitung saja berapa menit yang dibutuhkan. Katakanlah yang datang ke TPS 200 orang, per suara 1 menit. Artinya butuh 1000 menit untuk proses penghitungan suara. 1000 menit itu sama dengan 16 jam.

Apa yang mungkin terjadi kalau proses penghitungan suara sampai 16 jam?

Katakanlah suara mulai dihitung jam 14.00, maka jika dihitung maraton tanpa istirahat baru selesai  jam 06.00 pagi keesokan harinya. Kalau ditambah istirahat dan lain-lain mungkin baru kelar esok siangnya. Lalu di mana surat suara itu diinapkan?

Bagaimana saksi-saksi tetap berada di tempatnya selama seharian penuh?

Inilah yang mungkin akan menjadi persoalan sendiri. Pada akhirnya posisi Panitia Pemungutan Suara di setiap TPS masing-masing sangat menentukan. Jika mereka curang, bisa kacau dunia.

Karena itu dibutuhkan tenaga ekstra para relawan, saksi dan pendukung untuk terus memantau proses penghitungan. Butuh kesepakatan-kesepakatan dari senua elemen yang ada di TPS untuk menentukan bagaimana proses penghitungan, diinapkan dimana kotak suara. Siapa yang bertanggungjawab dengan keberadaanya. Siapa yang menjaga dan menjamin keamananya.

Itu baru satu persoalan waktu.

Saya rasa diperlukan relawan dan keseriusan semua warga untuk menjaga dan memgamati proses perhitungan sampai selesai. Ikutilah semua tahapan pencoblosan. Amati dan bersedia untuk ikut berpartisipasi meskipun bukan anggota PPS.

Kedua, saya kok, menghawatirkan adanya simpang siur informasi soal hasil hitungan. Begini. Biasanya dulu suara dihitung lalu dicatatkan dalam form tersendiri. Namanya formulir C-1 dengan kertas ukuran sebesar plano.

Para relawan Pemilu bisa memfoto formulir tersebut, lalu mengunggah di situs kawal Pemilu. Ini yang diijadikan data sementara untuk membuat Pemilu lebih terang benderang.

Tapi kita tahu. Di bekakang ini ada pihak yang ingin membuat kekacauan pada Pemilu. Mereka mungkin saja memanfaatkan segala cara untuk melakukan aksinya. Termasuk mengacaukan data penghitungan suara.

Begini. Jika selama ini kita berpegang pada formulir C1 untuk hasil penghitungan suara bagaimana kalau ada tangan-tangan jahil yang mencetak sendiri formulir tersebut, mengisi sendiri, memfotonya lalu menyebarkannya? Termasuk mengunggah di situs-situs kawal Pemilu. Bukankah hal ini akan menyebababkan kekacauan data.

Atau ada kekuatan yang ramai-ramai mengunggahnya di media sosial, lalu dijadikan data untuk membuat keraguan pada hasil penghitungan TPS. Bayangkan jika ini terjadi secara masif. Akan sangat berbahaya.

Dunia cetak digital mudah ditemui di mana-mana. Jadi gampang saja mencetak sebesar plano secara eceran.

Artinya jeda waktu penghitungan yang lumayan panjang berisiko terjadinya banyak hal yang mungkin dimanfaatkan oleh mereka yang mau mendelegitimasi hasil Pemilu. Persoalan ini harus diantisipasi serius.

Tidak ada jalan lain yang bisa kita lakukan selain terlibat aktif dan total dalam proses Pemilu ini. Kita aktif untuk mendatangi TPS. Aktif memantau proses penghitungan. Aktif mengawasi setiap tahapannya di TPS masing-masing. Juga aktif mendokumentasikan setiap hasil real dari TPS kita.

Kalau memungkinkan unggah data itu di situs-situs kawal Pemilu yang kredibel. Agar bisa menghindari apabila ada gerombolan yang mau mengacaukan input hasil perhitungan suaranya.

Perlu diingat. Pemilu memang pesta demokrasi. Tapi tidak sedikit negara yang hancur dan perang saudara dimulai dari Pemilu. Kita tidak mau Indonesia yang sudah keren ini memgalami hal itu.

Satu-satunya cara, wakafkanlah waktu dan dedikasi Anda untuk aktif memantau semua tahapan Pilpres di TPS masing-masing. Sebab tanggal 17 April 2019 nanti, menentukan masa depan bangsa.

Saya sih, memilih Jokowi. Kamu juga kan?

Tagar.id

0 komentar

Tulisan Populer