KITA HADAPI MEREKA DI TPS

Pancasila Vs Khilafah
Pancasila Vs Khilafah
Pada sebuah kesempatan, ahli intelejen Prof. Hendropriyono berkata. "Pemilu sekarang bukan hanya pemilihan Presiden. Tapi juga pertarungan ideologi. Antara Pancasila dan khilafah," ujarnya.
Saat ini tidak ada satu negarapun di dunia yang menganut khilafah. Hanya ISIS yang punya khilafah. Dulu tokohnya Abubakar Albagdhadi. Tapi kita tahu, dimana ada ISIS, disitu ada kehancuran. Dimana ISIS bercokol disitu ada banjir darah dan kebiadaban.
Ada satu lagi gerombolan gila khilafah, tapi gak tahu siapa khilafahnya. Hizbut Tahrir. Di Indonesia namanya HTI, Gema Pembebasan, dan berbagai ormas sayapnya.
Ada cikal bakal organisasi mirip khilafah. Mengangkat pemimpin dengan sebutan imam besar. Entahlah, saya tidak tahu apanya yang besar. Pokoknya besar, saja.
Mereka semua menanipulasi agama demi tujuan politik. Hendak mengganti sistem Pancasila yang mengakui keberadaan dan eksistensi semua agama dengan satu sistem keagamaan. Artinya memberangus agama lain dari Indonesia. Menguburkan semangat Pancasila. Itu sama artinya dengan membumihanguskan Indonesia.
Para penganut khilafah memaksa kita untuk mempercayai doktrinnya. Mereka memanipulasi ayat dan hadist untuk tujuan politiknya. Karena kita bangsa beragama seringkali kita takut jika sudah bawa-bawa kitab suci. Kita gak berani protes. Takut dosa.
Mereka tahu paikologi rakyat seperti itu. Mereka tahu bagaimana mengelabui rakyat dengan isu agama.
Kini mereka berbaris di belakang seorang Capres. Anehnya, Capres yang didukung gak ada bau-bau islamnya sama sekali. Gak jelas agamanya.
Tapi apa mereka peduli? Gak. Mereka gak peduli bagaimana kualitas beragama Capres yang didukung. Kalau agamanya berantakan, tinggal stempel saja dengan Ijtima Ulama. Beres. Bikin stempel kayak gitu gak susah kok.
Dulu doktrin HTI memgharamkan demokrasi. Ya, namanya juga khilafah. Mana ada demokrasi. Mereka mengharamkan pengikutnya mencoblos. Bagi mereka ikut Pemilu berarti kafir.
Tapi untuk Pemilu 2019 ini, kabarnya mereka menyerukan pengikutnya untuk berduyun-duyun ke TPS. Mereka berani membuang fatwa demokrasi haram. Kali ini mereka akan mencoblos Capres yang agamanya gak jelas. Sebab sesungguhnya setiap saat mereka memang berada dalam ketidakjelasan.
Apakah mereka sudah berubah dengan mau ikut Pemilu? Gak. Gerombolan khilafah itu gak akan berubah.
Mendukung salah satu Capres hanya kamuflase. Sebab di bawah pemerintah Jokowi siapapun yang mengancam ideologi negara memang diperangi. UU Ormas memberikan ruang memberangus organisasi terlarang.
Mereka tentu berharap jagoannya menang. Lalu ideologi khilafah dibiarkan berkembang lagi di Indonesia. Nanti jika sudah kuat dan mengakar, mereka akan merebut pemerintahan dengan cara bengis. Akan menjalankan pemerintahan teror di Indonesia. Kebetulan sosok yang didukungnya sekarang cocok sebagai partner membangun pemerintahan teror tersebut.
Ingat. Ideologi khilafah bukan baru-baru saja dibangun. Mereka telah melesakkan pemahamannya cukup lama. Kampus dan sekolah tertular. Banyak ASN juga tertular. Yang dikhawatirkan ideologi itu menulari aparat keamanan dan hukum.
Sebab begitulah cara kerja Hizbut Tahrir di seluruh dunia. Menelusup ke aparat pemerintahan, militer, masyarakat terdidik, kelas menengah dan para pesohor. Jika sudah kuat, mereka akan mengibarkan kudeta.
Makanya banyak negara Islam mengharamkan Hizbut Tahrir. Sebab mereka semua tahu kelakuan rusak ideologi ini. Indonesia termasuk telat melarang mereka. Akarnya sudah menancap. Makanya kita agak kerepotan.
Bayangkan. Kini mereka belum berkuasa. Tapi perilakunya sudah menyusahkan. Kita dibuat repot menanganinya.
Mereka berani terang-terangan melanggar hukum. Sembarangan mempersekusi orang lain. Apalagi nanti kalau mereka berkuasa. Apa yang akan terjadi pada bangsa ini.
Saya setuju dengan pernyataan Pemilu ini bukan hanya peetarungan antar kandidat Presiden. Juga pertarungan dua ideologi.
Jika gerombolan khilafah kini digiring berduyun-duyun untuk mencoblos ke TPS. Apakah kita cuma ongkang-ongkang kaki berpangku tangan membiarkan mereka menguasai negeri ini. Membiarkan mereka menggadaikan masa depan anak cucu kita?
Perlawanan satu-satunya adalah kita harus punya militansi yang sama. Datangi TPS. Salurkan hak politikmu. Dengan kesadaran bahwa Indonesia jauh lebih penting dari sekadar Copras-Capres.
Dan pastikan Indonesia tetap seperti Indonesia yang sekarang. Indonesia yang bergerak ke arah kemajuan. Jangan sorongkan masa depan bangsamu ke tangan mereka yang terbiasa menumpahkan darah.
"Tepatnya jangan serahkan bangsa ini kepada orang yang minum kopi ketika adzan memanggil, mas," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer