JOKOWI BUKAN JENDERAL CENGENG

Jokowi
Jokowi dan Pancasila
Saya pernah melihat dari layar TV telapak tangannya dibebat kain. Membungkusnya dari luka. Luka goresan yang mengiris kulit biasanya menyisakan rasa perih. Apalagi ketika ketika di atas luka itu digesekan lagi ribuan tangan yang hendak menyalaminya.
Saya juga pernah melihat punggung tangannya ditempeli plester menutup luka. Barangkali kuku orang yang berjejalan dan berebut bersalaman telah membuat sayatan panjang.
Kamu pernah tersayat? Saya rasa pernah. Bagaimana rasanya? Perih.
Bagaimana kalau di atas sayatan itu kita sentuhkan lagi ke orang lain? Kita pasti menolaknya. Meski luka kecil tapi manusia susah menyembunyikan perih. Bagaimana jika yang menggesekkan tangan di atas luka kita adalah ribuan orang? Puluhan ribu orang? Seberapa mampu kita menahan perih?
Bisakah kita tetap tersenyum ketika ada rasa perih menyayat kulit? Bisakah kita tetap tersenyum justru ketika luka sayatan kecil kita gesekan lagi dengan ribuan tangan lain yang mungkin saja akan membuat luka baru?
Kemampuan seseorang menahan perih dan tetap tersenyum adalah daya tahan mental yang luar biasa. Kemampuan orang yang tetap bersemangat melayani ribuan orang yang ingin bersalaman, disongsong dengan kerendahan hati, meski tangannya penuh luka, adalah sebuah kerendahatian yang indah.
Saya pernah menyaksikan langsung, Jokowi berjalan berhimpitan diantara puluhan ribu orang yang terus merangsek mendekatinya. Paspampres memang menjaganya. Tapi mereka tidak diperintahkan mengusir orang-orang yang merangsek. Mereka hanya memgatur jalan. Mereka hanya mengatur jarak. Tapi siapa yang bisa menertibkan puluhan ribu orang yang hiateris ingin sekadar penyentuh pemimpinnya.
Saya menyaksikan rakyat berebut bersalaman. Sementara punggung tangan Jokowi telah dihiasi tiga plester pembalut luka. Tapi Jokowi terus melayani. Dengan senyum yang sama. Dengan ketulusan yang sama.
Sebagai Presiden, orang nomor satu di Republik ini, dia seperti menyerahkan tubuhnya di antara puluhan ribu orang.
Kita tahu pembenci Jokowi begitu banyak. Pecintanya tidak kalah banyak. Mungkinkah diantara puluhan ribu orang itu ada satu-dua yang membencinya. Bagaimana jika mereka merencanakan niat jahat? Sangat mungkin.
Tapi pernahkah Jokowi mengkhawatirkan itu? Rasanya tidak. Dia datang membawa dirinya dengan ikhlas. Dia tahu banyak orang membenci dirinya. Tapi dia juga tahu, pecintanya membutuhkan kehadirannya. Dia tidak ingin memandang rakyat dengan rasa curiga. Sebab yang dibawanya hanya cinta.
Sepanjang sejarah, barangkali inilah tugas paling berat yang diemban pasukan pengaman Presiden di Indonesia. Tapi mereka bisa apa? Orang yang dijaganya telah menyerahkan hidupnya untuk rakyat yang dicintainya.
Ketika berkunjung ke satu daerah, Jokowi tidak berdiri di atas kendaraan lalu dadagdadag menyapa orang di pinggir jalan. Meskipun jalannya kosong.
Dia biasanya turun. Berjalan kaki di antara jejalan orang. Menyentuh mereka satu-satu. Kulitnya bergesekan dengan kulit rakyat. Meski setelah itu dia tahu, di lunggung tangannya akan bersisa banyak belas luka dan sayatan kuku.
Tapi perih luka tidak sebanding dengan ketulusannya bersentuhan dengan siapa saja. Saat ia menyaksikan rakyat tersenyum di hadapannya, luka kecil di tangganya tidak berarti apa-apa. Rasa sakitnya menguap. Senyum tulus rakyat di hadapannya mampu menggantikan perih.
Jokowi tidak melengkapi dirinya dengan sarung tangan. Ia tidak mau ada pemghalang antara kulitnya dengam kulit rakyat. Sebab dia sadar, meski kini ia seorang Presiden, sejatinya kulit tubuhnya adalah kulit rakyat. Pernah menahan terik dari matahari yang sama. Pernah berpeluh untuk berjuang demi kehidupan. Kulit yang pernah ada di rumah kontrakan. Kulit yang setiap saat bergesekan dengan pori-pori kehidupan.
Jadi apakah luka sayatan di punggung tangganya ketika bersalaman membuat dia menjaga jarak dari ribuan orang pecintanya? Tidak. Luka itu gak seberapa. Luka itu tidak cukup memisahkan dirinya dari orang-orang, ratusan juta orang, yang dicintainya dengan hati yang penuh.
Jokowi tidak pernah menghardik orang dari atas mobilnya.
Jokowi bukan tipe pemimpin cengeng. Pemimpin yang memakai sarung tangan agar kulitnya terjaga dari sayatan kuku rakyat. Dia bukan tipe pemimpin pengecut. Yang ketika ke mall suara pengawalnya ribut bukan main mengusir orang. Padahal siapa juga yang mau mendekat.
Jokowi bukan tipe pemimpin pekakut. Yang mencurigai rakyatnya sendiri. Dia bukan jenderal cengeng yang takut goresan luka ketika bersalaman dengan rakhat.
Dia juga bukan tipe pemimpin yang senang dijaga laskar FPI yang galak. Baginya gak perlu galak ketika berhadapan dengan rakyat. Persembahkan saja cinta dan ketulusan. Itu jauh dari cukup.
Dalam diri Jokowi, keberanian dan ketulusan menyatu. Itulah modalnya memimpin Indonesia.
Dia jenis pemimpin otentik. Gak perlu menyuruh mahasiswi bersandiwara pura-pura minta dikawinin. Gak perlu membayar nenek-nenek Rp500 ribu, untuk berpelukan di panggung seperti Teletubies.
"Mas, ada Capres saking takutnya sama rakyat bahkan sholat Jumat berjamaah saja dia gak mau," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer