Jembatan Bukan Buat Dimakan, Tapi Untuk Meraih Masa Depan


Jokowi
Jembatan Titian Asa
Masih ingat kan, foto tentang anak-anak bersekolah yang melalui jembatan gantung yang sudah ambruk? Mereka menyabung nyawa hanya untuk meraih cita-citanya.


Mungkin mimpi mereka gak tinggi. Sekadar bisa membaca dan berhitung. Atau kalau lulus bisa jadi kasir supermarket. Atau jadi klerk di kantor desa. Tapi itu semua harus dilalui dengan menyabung nyawa setiap hari.

Rumah mereka di seberang desa. Sekolahnya jauh. Menyusuri pematang dan sungai deras. Mereka bergantung pada jembatan untuk mncapai sekolahnya.

Ketika jembatan ambruk. Mereka gak punya cara lain. Menyabung nyawa meniti jembatan ambruk itu. Setiap hari.

Orang tua anak-anak itu juga menderita. Hasil kebunnya tidak bisa dijual. Sebab jembatan itulah satu-satunya akses jalan. Akhirnya jerih payah mereka di kebun dibiarkan membusuk. Teronggok di samping rumah. Bersama kesedihan yang memuncak. Tanpa air mata.

Lalu kita disadarkan. Betapa pentingnya sebuah jembatan. Bukan hanya menjadi penghubung antar desa. Tetapi juga sebagai pintu gerbang menuju kemajuan. Seperti sayap yang membantu mengepakkan mimpi anak-anak sekolah itu.

Sebab hidup yang terisolir adalah kehidupan yang mandeg. Infrastruktur membuka kemandegan itu.

Tahukah kamu, apa komentar politisi Gerindra Rachel Maryam? "Rakyat gak makan infrastruktur. Rakyat gak makan jembatan dan jalan tol."

Ok, bicaralah hal seperti itu di hadapan anak-anak yang dulu tiap hari menyabung nyawa hanya untuk bersekolah. Bicaralah pada petani desa yang hasil panennya membusuk di pojokan gubugnya. Bicaralah kepada guru-guru di pelosok desa.

Jika saja saya jadi guru disana. Saya akan cari postet Rachel Maryam. Saya bingkai. Saya taruh di atas meja.

Setiap pagi, anak-anak sekolah itu saya wajibkan meludahi foto tersebut sebelum masuk kelas.

Cuiihhh.

0 komentar

Tulisan Populer