INDONESIA MAU DIJADIKAN ARAB BADUY

Wahabisme
Wahabisme
Di Bali kehadiran Presiden Jokowi disambut dengan tari pendet. Ada 2000 penari berjajar di jalan. Meliukkan suasana Indonesia asli. Tarian ini adalah wajah Indonesia yang kita kenal. Wajah dari kebudayaan asli yang membuat dunia berdecak kagum.

Di Jogja, Jokowi menghadiri acara deklarasi alumni Jogja dengan menggunakan sepeda ontel. Sebuah ikon khas kota Jogja. Mengingatkan kita pada kesederhaan rakyat. Pada gerak kehidupan yang ritmis, adem namun penuh semangat.

Di Serang lain lagi. Jokowi menaiki kereta kuda diiringi karnaval pakaian adat. Semua adalah kebanggaan bahwa bangsa ini disatukan dari berbagai unsur dan latar belakang. Budaya beragam. Agama beragam. Menyatu dalam satu adonan bernama Indonesia.

Saya ingat bagaimana Jokowi sekuat tenaga mempertahankan karakter lokal masyarakat. Ketika menjabat Walikota Solo, dia menolak pembangunan mal yang mau menggusur sebuah cagar budaya, bekas pabrik es Saripejltojo.

Ada dua pertimbangannya. Pertama karena sebagai Walikota Jokowi ingin melindungi keberadaan bangunan bersejarah. Tidak semuanya harus disulap jadi gedung bernuansa kapitalis.

Kedua, dia juga berusaha melindungi pedagang kecil di Solo. Keberadaan mal mungkin bisa menggerus kehidupan masyarakat kecil. Rakyat yang hidupnya dari berdagang.

Waktu itu Gubernur Jateng, Bibit Waluyo mencela Jokowi dengan sebutan Walikota bodoh. "Ya, saya memang masih bodoh. Masih perlu banyak belajar," jawabnya ringan. Tapi, soal penolakan pembangunan mal, dia keukueh. Gak bergeser sedikitpun.

Nuansa pembangunan yang digagas Jokowi bukan mengubah semuanya menjadi modern dan terkesan kapitalismtik. Dia justru mempertahankan budaya lokal. Menjadikan kearifan lokal sebagai daya dorong kemajuan masyarakat.

Inilah kekuatan pembangunan sesungguhnya. Kemajuan tidak menggerus kekayaan budaya. Tetapi justru memperkuatnya. Inilah identitas keindonesiaan yang gak boleh hilang. Justru karena kekayaan inilah kita berbangga menjadi bagian dari Indonesia.

Hari ini, kearifan lokal bukan hanya sedang berhadapan dengan keserakahan kapitalisme. Kearifan dan budaya lokal juga diperhadapkan dengan ekspansi ideologi transnasional yang anti sejarah.

Kita mulai melihat orang-orang nirbudaya ini merusak keragaman budaya kita. Di Purwakarta kita pernah mendengar segerombolan orang memakai seragam putih-putih bawa nasi bungkus merobohkan patung tokoh pewayangan.

Alasannya karena musyrik.

Kemarin di Ancol, Jakarta patung putri duyung harus dipakaikan kemben karena auratnya terlihat. Busyet. Aurat putri duyung dipermasalahkan.

Logika jenis ini adalah khas pemikiran Wahabi. Ideologi yang membenci sejarah. Ideologi yang tidak perhargai peradaban.

Sama persis. Ketika ISIS memguasai sebuah kota pertama yang mereka lakukan adalah merusak semua artefak budaya. Alasannya bawa-bawa agama. Seolah agama begitu barbar tanpa rasa kesenian sama sekaki.

Padahal ada dua nikai berbeda. Seni adalah soal estetik. Soal keindahan. Sementara agama bicara perkara lain. Mana bisa ekspresi kesenian dinilai dengan sudut pandang musyrik atau kafir. Itu namanya beragama yang lebay.

Masyarakat yang kehilangan nuansa seninya adalah masyarakat yang sakit dan sekarat. Masyarakat yang kehidupannya buram dan tidak menyenangkan. Masyarakat yang kehilangan adab.

Contohlah Afganistan. Ketika Taliban berkuasa semua ekspresi kesenian di berangus. Musik, lukisan dan patung diharamkan. Semua tradisi masyarakat diihancurkan. Bahkan Taliban mengharamkan layang-layang.

Nah, gerombolan seperti ini berada berjajar di belakang Prabowo. Para penganjur pemikiran Wahabi. Ada HTI, FPI atau PKS. Mereka akan memaksakan kehendaknya untuk memberangus kearifan lokal dengan alasan agama. Maksudnya alasan agama yang mereka buat-buat sendiri.

Mereka ingin mengubah Indonesia jadi mirip Arab baduy. Gak menghargai kebudayaan.

Di Bali yang kaya budaya, oleh Sandiaga Uno disorong-sorong untuk membuat wisata syari. Entah apa maksudnya. Padahal Bali eksotik karena keragaman budayanya. Toh, Bali juga tempat yang menyenangkan bagi penduduknya yang muslim. Jadi gak perlu dibuat aturan yang syari-syari segala.

Desakan soal Indonesia bersyariat sesungguhnya lebih ditujukan untuk menghancurkan keragaman kebudayaan kita. Indonesia ingin dicabut dari kekuatan budayanya. Ini jelas sangat berbahaya.

Jokowi berusaha membangun Indonesia dengan memaksimalkan kearifan lokal. Lawannya berusaha memberangus itu semua untuk diimplankan budaya Arab baduy. Arab yang sama sekali tidak berperadaban.

Inilah sesungguhnya yang kita hadapi. Kalau kita salah langkah, barangkali anak cucu kita tidak lagi mengenal wajah Indonesia seperti yang kita kenal. Indonesia berubah menjadi gurun kebudayaan yang kering dan norak.

Cukup masyarakat Afganistan yang merasakan kehancuran budayanya oleh Taliban. Jangan sampai itu terjadi di Indonesia.

"Mas, saya dengar mereka ramai-ramai mau mendemo Pantai Selatan. Memaksa Nyi Roro Kidul pakai jilbab," ujar Abu Kumkum.

Bahaya, Kum.

0 komentar

Tulisan Populer