Iblis di Selandia Baru, Iblis di Mana-mana

Brenton Tarrant
Brenton Tarrant
Brenton Tarrant menuliskan sesuatu di halaman medsosnya sambil mengutip data statistik. Bahwa telah terjadi 'genosida' terhadap warga kulit putih di benua Australia. Sebabnya karena imigran semakin menguasai wilayahnya. Angka kelahiran imigran yang tinggi disejajarkan dengan angka kelahiran kulit putih yang mandek.

Ia khawatir mengenai itu. Ras-nya dijajah oleh ras lain yang hadir sebagai pendatang. Bagi Tarrant benua Australia adalah benua kulit putih.

Tarrant lupa. Dulu warga kulit putih juga datang ke Australia dengan menghabisi suku Aborigin. Jadi ketika ia merasa tersisih oleh pendatang, ia sedang mengelabui sejarah bangsanya sendiri.

Siapakah imigran yang disasar Tarrant? Dari mana asal mereka. Tarrant langsung melompat pada kesimpulan. Merekalah orang yang beragama Islam, yang hadir dan hidup di benua Kangguru.

Bukan tidak mungkin kesimpulan Tarrant diambil dari berita-berita tentang keberingasan gerombolan teroris muslim di berbagai negara. Bias persepsi itulah yang berkembang di kepalanya.

Artinya,Tarrant merasa semua muslim adalah teroris. Makanya harus diperangi.

Ia siapkan senjata. Juga van putih. Bersama tiga kawannya Tarrant hendak jadi hero untuk kejayaan ras-nya. Sebuah tindakan heroik dipersiapkan: menghabisi jemaah Jumat di masjid.

Tindakannya direkam. Kebiadabannya disiarkan secara langsung via akun medsosnya. Kebrutalannya menyebar melalui media sosial.

Dia berkendara sambil mendengarkan musik. Lalu memarkir mobilnya di sebuah gang di samping masjid. Sebelum beraksi, Tarrant masih sempat menuliskan status di akun Facebooknya. "Saatnya berpesta!"

Tarrant memberondong dengan brutal jemaah di dua masjid. Kabar terakhir 49 orang tewas. Jemaah yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan lelaki 28 tahun itu.

Apa yang dilakukan Tarrant tidak berbeda dengan gerombolan ISIS yang merekam kekejiannnya. Dengan berlaku keji, ISIS maupun Tarrant merasa telah melakukan hal besar.

Keduanya punya kesamaan. Sama-sama merasa tertindas dan merasa sedang memperjuangkan sesuatu. Karena itu mereka sama-sama merasa benar untuk melukai dan membunuh orang lain.

Apa yang dipersepsikan Tarrant bahwa wilayahnya 'dikuasai' imigran, sepertinya mirip dengan informasi yang dijejalkan ke rakyat Indonesia. Istilah asing, aseng, asing misalnya. Atau isu tenaga kerja ilegal. Atau isu ekonomi dikuasai China.

Semua dibangun agar orang Indonesia pada akhirnya punya persepsi seperti Tarrant.

Pada mulanya adalah perasaan superioritas. Tarrant merasa punya superioritas sebagai kulit putih. ISIS merasa superior karena muslim, perwakilan kebenaran. Rasa superioritas ini diperhadapkan dengan perasaan sedang tertindas. Itulah yang melahirkan kekejian yang nauzubilah.

Sikap superioritas adalah sikap iblis. Iblis melawan Tuhan karena merasa lebih hebat dari Adam. Sikap itulah yang membuat mereka dikutuk seumur hidupnya.

Tarrant dan juga ISIS serta gerombolan sejenis lainnya mewakili iblis. Menjelma dalam bentuk manusia.

Sepertinya dunia saat ini adalah dunia yang sedih. Para bigot -- dari manapun asalnya -- sedang menampakkan kebodohan dan kebiadabannya.

Merekalah musuh utama kemanusiaan.

Tagar.id

0 komentar

Tulisan Populer