Bukan Sekadar Pilpres, Tapi Rakyat Melawan Gembong Mafia

Politik
Ilustrasi @Mafia

Jika suasana berjalan normal, di Pilpres ini Jokowi pasti menang. Prabowo hanya punya kesempatan apabila suasana berjalan abnormal. Misalnya terjadi chaos dan kerusuhan.

Kenapa?

Semua orang waras juga tahu Jokowi punya prestasi bagus. Pembangunan infrastruktur berjalan luar biasa. Bukan hanya di Jawa, juga di luar Jawa.

Kesenjangan mulai menipis. Program sosial seperti Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat dan Program Keluarga Harapan mampu memberikan solusi bagi rakyat miskin. Makanya angka kemiskinan di zaman ini menurun sampai hanya satu digit. Ini yang pertama kalinya kita bisa menekan angka kemiskinan di bawah 10%.

Sebaran dana desa memberikan efek luar biasa bagi sebaran ekonomi di pedesaan. Masyarakat yang tadinya dicuekin dari seluruh proses pembangunan kini mendapat perhatian penuh. Disusul dana kelurahan untuk masyarakat di perkotaan.

Desa-desa bergegas membangun dirinya. Uang berputar di antara rakyat. Ekonomi desa tumbuh. Bahkan banyak BUMDes yang kini sukses mengangkat potensi desanya. Ekonomi warga bergerak signifikan. Di zaman Jokowi pertumbuhan ekonomi bukan lagi mengandalkan kota besar. Tetapi tumbuh di wilayah-wilayah pelosok. Tumbuh di desa-desa.

Dari mana dananya? Dari subsidi BBM yang selama ini terbuang percuma. Atau malah memberikan bantuan kepada orang kaya. Dana subsidi BBM yang dulu mencapai Rp 300 triliun per tahun, kini berubah menjadi jalan, irigasi, rel kereta, bandara, pelabuhan. Serta menutupi kebutuhan orang-orang miskin.

Prestasi yang paling terasa adalah ketika Jokowi berhasil menjaga inflasi rendah. Harga-harga stabil. Kebutuhan pokok tersedia. Petani mendapat proteksi memadai.

Jokowi mampu menggerakkan ekonomi tetap stabil di tengah ketidakpastian dunia. Jangan kaget jika ekomomi Indonesia dinilai sebagai ekonomi yang paling stabil. Gonjang-ganjing dunia tidak terlalu berpengaruh.

Itu adalah bukti kerja keras Jokowi selama empat tahun belakangan. Pada periode kedua, dia berjanji untuk menekankan pembangunan manusia. Alokasi dana besar-besaran diarahkan untuk memoles kualitas manusia Indonesia.

Jadi kalau mau dipertimbangkan secara rasional, apalagi yang diragukan dari Jokowi. Pengalaman cukup. Kemampuan cukup. Interest pribadi gak ada. Bahkan bukti juga sudah terpampang di depan mata.

Persoalanya orang tidak melulu mengambil keputusan dengan rasional. Banyak juga orang yang dirugikan dengan kehadiran Jokowi.

Siapa mereka?

Para mafia yang selama ini mengambil keuntungan dari celah hukum dan birokrasi. Mafia pangan dulu hobi menimbun sembako agar harganya naik. Kini disikat habis oleh Jokowi.

Mafia migas yang dulu mengambil rente dari setiap tetes bensin yang dikonsumsi masyafakat sudah dibabat juga. Mereka yang ngumpul di Petral, kini terkaing-kaing karena gak bisa lagi merampok duit publik.

Mafia ikan yang dulu mencuri dari laut kita juga marah besar. Sebelumnya ratusan triliun mereka gasak. Bekerja sama dengan birokrasi. Para perompak laut itu gak peduli nasib nelayan yang susah karena lautnya dihabisi. Mereka benci dengan Jokowi.

Ada juga mafia proyek yang selama ini main di Kementerian dan Lembaga. Kebijakan Jokowi yang memfokuskan pengeluaran pemerintah untuk lebih produktif, membuat para pemain proyek kehilangan kolam. Mereka yang selama ini hidup mewah dari gelimang proyek kongkalikong kini tercekik lehernya.

Ada lagi mafia agama. Mereka ini selalu membawa-bawa agama untuk dijadikan tekanan politik. Agama dijadikan daya tawar untuk menipu massa. Di zaman Jokowi, orang-orang ini mulai gerah. Sebab rakyat dibangunkan kesadarannya untuk memahami ulah para pengasong agama ini.

Jokowi membubarkan HTI yang bercokol selama puluhan tahun. Kanker ganas itu dipotong sebelum menerkam bangsa ini. Ideologi khilafah yang digembar-gemborkan kehilangan pijakan. Mereka pasti marah sama Jokowi. Mereka dendam karena tujuannya untuk menghancurkan Indonesia sudah terbaca. Makanya mereka ngotot menyebar fitnah dan caci maki pada Jokowi.

Jadi kalau rakyat rasional, kita tidak punya pilihan lain selain memberikan pilihan agar Jokowi bisa maju lagi untuk periode berikutnya. Kecuali kalau rasionalitas rakyat terganggu.

Bagaimana cara agar rakyat kehilangan rasionalitas? Bikin huru-hara. Bikin kekacauan. Sebarkan ketakutan. Sebarkan kengerian. Ancam rakyat dengan kerusuhan.

Itulah yang kini sedang dilakukan lawan Jokowi. Mereka ramai-ramai menuding KPU curang, padahal tidak punya bukti. Kenapa? Agar bisa menolak hasil Pemilu nanti lalu membuat kerusuhan.

Mereka teriak minta pemantau asing, untuk mencitrakan Pemilu curang. Agar nanti ketika kalah mereka gak mengakui hasilnya. Lalu membuat huru-hara. Laskar-laskar agama sih, senang. Sebab mereka memang mau cari kerusuhan.

Kali ini memang Pilpres paling bikin puyeng. Kekuatan rasionalitas publik ditantang gerombolan zombie yang berusaha menghancurkan.

Tagar.id

0 komentar

Tulisan Populer