BENDERA HTI DI KAMPANYE PRABOWO

Kampanye Prabowo
Kampanye Prabowo di Manado
Kampanye Prabowo di Manado membuka kedok baru. Pada kampanye tersebut bendera Ormas radikal HTI berkibar. Menyatu dengan bendera parpol pendukung Prabosan.
Orang HTI selalu berkelit itu bendera adalah Nabi. Agar rakyat Indonesia yang buta sejarah tertipu. Bukan. Bendera Nabi belum tentu seperti itu. Yang pasti itu adalah bendera HTI.
Mereka menggunakan nama Nabi untuk menyelubungi niat jahatnya. Mereka memanipulasi sejarah untuk membuat kekacauan.
Dari akar katanya Hizbut Tahrir itu artinya partai pembebasan. Maksudnya ya, partai politik. Yang namanya partai politik, tujuannya bukan dakwah. Tapi kekuasaan. Jadi semua ulah HTI, sebetulnya gak ada islam-islamnya. Mereka menggunakan Islam sebagai bungkus untuk berkuasa. Mereka memanipulasi agama untuk kekuasaan.
Mirip sama Dimas Kanjeng, pura-pura jadi ustad, ujung-ujungnya nipu.
Sebagai Parpol tujuan HTI sama seperti PKS, yang berideologi Ikhwanul Muslimin. Bedanya, PKS mau meneggakkan khilafah lewat jalur Pemilu. Sementara HTI mau menegakkan khilafah melalui kudeta. Biasanya dengan pertumpahan darah.
Sudah banyak negara ketika Hizbut Tahrir bercokol lalu terjadi konflik berkepanjangan. Libya contoh paling aktual. Dulu negara Afrika tersebut makmur. Pemerintah menanggung biaya kesehatan dan pendidikan.
Memang pemimpin Libya Muamar Khadafi agak nyentrik. Tapi toh, rakyat Libya diperhatikan kepentingannya. HT berkembang. Menggesek rakyat Libya dengan isu agama. Hoax dan kebencian disebarkan. Kemudian terjadi huru-hara.
Apa hasilnya buat Libya kini? Muamar Khadafi tumbang. Rakyat Libya sekarang hidup dalam kubangan kesengsaraan. Justru ISIS dan Alqaedah yang bercokol.
Anak-anak Libya gak bisa sekolah. Rakyat yang tadinya merdeka kini menderita. Perempuan-perempuan Libya dipaksa jadi budak seks para srigala barbar. Kematian membayang. Bau anyir darah dimana-mana.
Sadar akan bahaya kerusakan gerombolan ini banyak negara melarang organisasi teroris seperti HTI. Sebut saja Saudi Arabia, Qatar, Turki, atau Malaysia.
Kini di Indonesia gerombolan biang kerok itu diberi tempat. Diberi ruang di panggung kampanye Presiden oleh Prabowo. Pemilu yang mestinya simbol demokrasi dijadikan momen untuk mengibarkan bendera khilafah.
Bagaimana kita percaya Prabowo bisa menegakkan NKRI, kalau di belakangnya berdiri orang-orang yang hendak mengganti Pancasila dan UUD kita. Bagaimana kita percaya Prabowo mencintai NKRI jika berkoalisi dengan kaum perusak?
Ketika kampanye di Manado, apakah Prabowo melarang bendera HTI berkibar? Tidak.
Apakah Prabowo marah pada gerombolan yang mau merusak Indonesia kita? Tidak.
Apakah ada usaha dari tim kampanye Prabosan untuk menurunkan bendera itu? Tidak.
Yang bertindak justru Bawaslu Manado. Itupun dengan ngotot-ngototan terlebih dahulu.
Seperti biasa. Tim Prabowo berkelit bahwa mereka gak bisa mengawasi semua rakyat yang hadir. Tapi masa sih, mereka gak melihat bendera segede gaban berkibar di acara mereka. Masa sih, mereka gak tahu bahwa itu melanggar UU kita.
Tampaknya Prabowo berharap suara anggota HTI akan mendukungnya. Makanya Prabowo cuek saja ketika bendera organisasi terlarang itu berkibar di panggung kampanyenya. Yang penting dapat suara.
Agak aneh memang. HTI yang selama ini mengharamkan demokrasi dan berusaha menghancurkannya justru memanfaatkan momen demokrasi untuk mengkampanyekan ideologinya. Mereka berdiri di belakang Prabowo dengan agenda-agenda sendiri. Prabowo toh, cuek saja. Yang penting dapat suara.
Apakah anggota HTI akan ikut mencoblos pada Pemilu ini?
Iya. Kemungkinan besar mereka menginstruksikan anggotanya untuk datang ke TPS. Mencoblos. Dan kita tahu kepada siapa suara HTI akan diberikan. Tentu kepada Capres yang mau berbaik-baik pada mereka. Dengan begitu mereka bisa tetap eksis menyusun rencananya untuk menggantikan Pancasila dan UUD kita.
Tujuan HTI ingin menghapus Indonesia dari muka bumi. Dijadikan sekelas kelurahan dari pemerintahan dunia berdasarkan khilafah. Pemerintahan dunianya belum ada. Tapi usaha menghancurkan Indonesia begitu gigih.
HTI bersedia melakukan apapun untuk melaksanakan tujuannya. Prabowo bersedia bergandengan dengan organisasi apapun demi mendapat suara.
Keduanya klop!
Dan keduanya, tidak mungkin klop dengan saya yang masih mencintai NKRI. Gak tahu kalau kamu.
"Kayaknya mereka juga klop dengan pecinta Lucinta Luna, mas," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer