Istri Sang Penopang Karir Jokowi dan Prabowo


Jokowi
Pidato Jokowi di Sentul
Jokowi pidato. Bicara soal peran istrinya. Menunjang karir hingga jadi Presiden. Istrinya, Iriana, bukan perempuan neko-neko. Tampil apa adanya. Rambut sasak mumbul gaya ibu pejabat jaman dulu bukan style Iriana. Malah menggendong cucunya masih pakai kain jarik. Bukan gendongan model kangguru gaya oma-oma kota.

Istri Jokowi hadir sebagai pendamping. Sebagai penyejuk.

Bicara soal peran istri, rasanya Prabowo juga bisa berbangga hati. Dia menikah dengan Titiek Suharto tahun 1983. Sejak itulah karir militernya melesat. Tidak ada perwira muda yang kenaikan pangkatnya secepat Prabowo.

Bukan karena Prabowo hebat. Tapi karena dia punya istri Titiek, anak Suharto. Penguasa orde baru. Itulah peran istri bagi Prabowo.

Dalam standar promosi normalnya untuk sampai pangkat kolonel butuh 25 tahun sejak mulai lulus dari Akademi Militer. Tapi Prabowo hanya butuh 21 tahun untuk bisa punya pangkat Brigjen.

Lalu dua tahun kemudian, Prabowo sudah menyandang pangjat Mayor Jenderal. Bahkan untuk menampung kepangkatan Prabowo, jabatan Komandan Kopassus diganti menjadi Komandan Jenseral Kopassus.

Hebat, kan tuh?

Seorang peneliti militer mengatakan, karir Prabowo sangat menyimpang dari aturan. Ini membuat organisasi militer di Indonesia menjadi kacau. Banyak yang iri tapi mereka gak bisa apa-apa.

Semua itu, semata-mata karena Prabowo adalah suaminya Titiek. Menantunya Suharto. Mana ada yang berani.

Panglima ABRI Faisal Tanjung sendiri sempat berkata. Selama masa jabatannya sebagai panglima ABRI, tidak seorangpun bisa menyentuh Prabowo. Bahkan dirinya yang panglima ABRI tidak bisa masuk di wilayah kesatuan di bawah komando Prabowo.

Prabowo seolah membangun pasukan dalam pasukan. Ia mau mendirikan kesatuan yang hanya loyal pada dirinya. Bukan pada institusi tentara.

Status Prabowo membuat fungsi-fungsi komando menjadi mandul. Dia bisa naik dan mengacak-acak organisasi karena posisinya sebagai menantu Suharto. Artinya, karena peran istrinya juga.

Ketika Jokowi pidato betapa pentingnya peran istri dalam karirnya. Iriana menunjang hidup Jokowi dengan segala kesederhanaan. Prabowo juga bisa berdalih seperti itu. Betapa pentingnya peran Titiek Suharto dalam karir militernya.

Coba kalau Prabowo tidak menikah dengan anak Suharto. Mungkin karirnya gak melesat kayak gitu.

Baru setelah 1998, ketika kekuasaa Suharto ambruk, Prabowo menceraikan Titiek. Entah apa alasannya. Yang pasti Titiek tidak bisa lagi membantunya mencapai karir lebih tinggi. Karir bapaknya sendiri saja sudah tamat.

Sekarang, Prabowo bernafsu ingin membuktikan. Dia bisa berkarir sendiri tanpa bantuan Titiek seperti dulu. Lagi pula, Titiek sekarang bukan Titiek yang dulu. Ia cuma anak bekas Presiden. Powernya sudah habis.

Buat apa dipertahankan?

Jadi Pak Jokowi bicara mengenai peran istri dalam menopang karirnya. Prabowo jauh lebih jago. Dia mampu memanfaatkan posisinya sebagai suami Titiek menggapai ambisinya. Setelah gak bisa dimanfaatkan lagi, buat apa dipertahankan. Sebagai istri sudah gak berguna, toh?

"Mungkin Didiet akhirnya meniru bapaknya ya, mas. Buat apa punya istri kalau gak berguna," ujar Abu Kumkum.

Hussshhh!

0 komentar

Tulisan Populer