Hidayat Nur Wahid vs Jan Ethes, Komedi Lucu Ala Dedengkot PKS

Hidayat Nur Wahid
Jan Ethes

Jan Ethes memang punya penggemar fanatiknya sendiri. Emak-emak akan berteriak histeris kalau memandang wajahnya. Gadis-gadis jadi kepengen cepat menikah jika melihat tingkah lucu cucu Presiden ini.

Batita ini memang menjadi simbol sebuah keluarga harmonis. Eyangnya adalah Presiden Indonesia. Ia sering diajak ke berbagai acara. Mungkin Mbah Owi, begitu Ethes biasa memanggil kakeknya, ingin memperkenalkan Indonesia sejak dini kepada Batita lucu ini.

Sama seperti Batita lain, tidak ada orang yang sanggup berposisi sebagai hater Jan Ethes. Ia terlalu cute untuk dimusuhi. Terlalu manis untuk dibenci.

Hanya orang yang hatinya soak saja yang mampu berdiri untuk mencela Ethes.

Tapi begini. Saat ini adalah kampanye Pemilu. Dimana semua mata tertuju pada dua kandidat Presiden: Jokowi dan Prabowo. Bagi kita, memilih pemimpin tentu bukan hanya melulu melihat visi dan misinya. Tetapi juga perlu melihat siapa sosok itu dalam kehidupan pribadinya.

Bukan hanya soal politik. Sebab ujung dari visi-misi, ujung dari janji politik adalah merealisasikannya dalam kerja. Mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

Betapa suramnya sebuah bangsa jika memilih pemimpin, yang sama sekali tidak punya kemampuan mewujudkan kehidupan pribadi yang normal dan bahagia. Keluarga sebagai pusat dan inti kehidupan adalah gambaran kecil bagaimana seseorang bisa menjadi panutan. Bisa dilihat sehat mental dan jiwanya.

Itulah yang tidak dimiliki Prabowo. Keluarganya berantakan. Anak lelaki satu-satunya memang punya karier bagus. Tapi, kayaknya, gak mungkin memberikan cucu bagi Prabowo. Peluang itu sangat tipis.

Garis Prabowo mungkin akan berakhir pada Didiet Hadiprasetyo, anaknya semata wayang. Setelah itu punah. Seratus tahun lagi memori publik tentang Prabowo mungkin tidak lagi tersisa. Sebab tidak ada orang yang akan bangga mengisahkan bahwa ia masih ada garis keturunan Prabowo. Nasabnya habis sampai di Didiet.

Sisi lemah Prabowo inilah yang dilihat Hidayat Nur Wahid. Dedengkot PKS ini ingin menutupi kelemahan fundamental jagoannya. Maka ketika Jokowi sering mengajak Ethes bermain dan diliput media, ia iri. Ia marah. Lalu menuding Jokowi mengajak Ethes kampanye.

Kabarnya Hidayat sampai berniat melaporkan Ethes ke Bawaslu. Mantan ketua MPR ini, ingin Bawaslu memeriksa anak usia dua tahun. Sebuah lawakan yang gak lucu.

Hidayat lupa. Sejak dulu PKS paling hobi membawa-bawa anak dalam kampanye. Sebab budaya kader PKS dengan anak bererot membuat bapak ibunya susah meninggalkannya di rumah. Apalagi jika istrinya juga bererot.

Budaya keluarga PKS dan budaya keluarga Prabowo memang berbeda. Prabowo jauh dari anak kecil. PKS kebanyakan anak kecil, mungkin juga karena lahir dari banyak istri.

Bagi Hidayat, Jan Ethes bisa memukul KO Prabowo tanpa perlawanan. Prabowo toh, tidak bisa memaksa Didiet menikahi perempuan. Artinya dia tidak bisa berharap, kapan punya cucu. Kapan punya kehidupan normal seperti keluarga lainnya.

Sebab bangsa Indonesia masih memiliki nilai-nilai keluarga yang luhur. Orang dari keluarga harmonis, akan jauh lebih stabil emosi dan jiwanya dibanding dengan mereka yang keluarganya berantakan. Sebab, apa pun alasannya, ujung-ujungnya hanya kepada keluargalah semua rasa bisa ditumpahkan.

Perlawanan Hidayat kepada Jan Ethes menjadi isu politik yang lumayan menarik. Hanya di Indonesia, aki-aki bau tanah, sibuk melawan Batita. Hanya di Indonesia mantan ketua MPR dan dedengkot partai, kelabakan menghadapi polah lucu seorang Balita.

Tagar.id

0 komentar

Tulisan Populer