HASIL NYATA JOKOWI VS KAMPANYE BOMBASTIS PROBOWO

Jokowi
Pilpres 2019
Dunia memuji Indonesia. Di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global, ekonomi kita tetap bisa tumbuh di atas 5%. Stabilitas harga bisa terjaga dengan rata-rata angka inflasi hanya 3,5% saja.

Keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter kita membawa keberhasilan menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan penguatan terkuat di Asia.

Wajar saja jika Menteri Keuangan Sri Mulyadi diapresiasi sebagai Menkeu terbaik dunia.

Di sektor infrastruktur, diakui percepatan pembangunan selama 4,5 tahun ini, melaju pesat dibanding pemerintahan sebelumnya. Bahkan bisa dibilang, 4,5 tahun di bawah Jokowi kemanuan infrastruktur kita sama dengan 32 tahun di bawah Orde Baru.

Berita soal jalan tol sampai jalan di desa-desa yang terbangun 4 tahun tetakhir sudah menjadi makanan sehari-hari. Berita soal peresmian Bandara baru, saluran irigasi baru, pelabuhan baru, pembangkit listrik baru hampir setiap hari menghiasi media masa. Termasuk juga wilayah-wilayah yang sebelumnya amat terpencil kini mulai dibelai tangan dingin Presiden Jokowi.

Pembangunan infrastruktur adalah pondasi kemajuan ekonomi. Jangan bicara soal hasil pertanian kalau irigasinya gak ada. Jangan bicara soal sebaran produksi jika akses distribusi terhambat.

Jangan bicara soal memperkecil gap antar wilayah jika akses transportasi dan komunikasi tidak terbuka. Bahkan jangan kita ngomong soal keterbelakangan masyarakat jika hidup mereka masih terpencil.

Orang yang masih bicara rakyat gak makan insfrastruktur sama saja mereka ingin berkata rakyat gak butuh kemajuan. Sebuah pembodohan yang sangat nyata.

Pembangunan sesungguhnya adalah kerja rutin, saling bersambung dan terus-menerus. Ia berada dalam wikayah aksi nyata. Pembangunan tidak butuh jargon yang bombastis. Tapi butuh perencenaan detil dan kesungguhan. Pemerintahan Jokowi menjalankan rencana aksi pembangunan, justru di tengah suasana politik yang inflasi jargon.

Maka hari ini kita menyaksikan hasil konkrit pemerintahan Jokowi diperhadapkan dengan slogan bombastis dan konyol yang diproduksi oposisi. Hasil pembangunan adalah realita. Kesejahteraan rakyat meningkat adalah kenyataan. Angka kemiskinan berkurang adalah kejadian di lapangan.

Semua gak mungkin dihapus oleh jargon kosong yang menafikkan keberhasilan itu. Jargon omong kosong yang menihilkan semua prestasi bangsa ini.

Bagaimana mungkin Indonesia yang sukses menjaga inflasi, lalu ada orang yang berteriak harga-harga naik tidak terkendali?

Bagaimana mungkin jumlah orang miskin berkurang, lalu dibilang penduduk bertambah miskin?

Bagaimana mungkin kemandirian bangsa yang semakin terasa, justru dituduh ekonomi dikuasai asing?

Bagaimana mungkin negara yang semakin berdaulat karena berhasil mengambilalih pengelolaan sumber daya dari tangan asing, justru dituding tunduk pada tekanan asing?

Jika konsep beradu konsep, kita akan menemukan sebuah diskusi yang sehat. Jika data beradu data kita akan menemukan pembicaraan yang masuk akal.

Tapi kini, kita dihadirkan suasana dimana data diadu dengan hoax. Dimana hasil nyata diadu dengan slogan kebohongan.

Tampaknya bangsa ini perlu diajarkan kembali konsepsi agama tentang makna bersyukur. Bersyukur dengan hasil yang berhasil kita capai. Justru hasil besar itu dicapai di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu.

Jika bangsa ini diajarkan mengecilkan potensi dirinya sendiri, yang akan kita dapatkan adalah masyarajat pesimis, masyarakat yang di hatinya kehilangan makna bersyukur. Masyarakat yang tidak punya kebanggaan pada kualitas bangsanya sendiri.

Sepertinya debat Capres kedua nanti akan menghadirkan suasana itu. Jokowi membawa setumpuk fakta. Prabowo akan melawannya dengan serenceng hoax dan plintiran.

Terserah Anda, mau percaya yang mana?

"Kayak ngobatin orang kena diare, ya mas. Jokowi memberikan Diapet. Diarenya langsung berhenti," ujar Abu Kumkum.

"Kalau Prabowo?"

"Dia mengobati orang diare dengan membaca mantra."

"Hasilnya, Kum?"

"Ya, blepetan kemana-mana..."

0 komentar

Tulisan Populer