WAHAI KAUM RUMPIS SEDUNIA, BERSATULAH!

Hoax
Rumpi
Abu Kumkum punya kiat : hoax hanya bisa dilawan dengan rumpi!

Bersyukurlah kita ini bangsa paling rumpi sedunia. Jika mengamati lalu lintas percakapan di medsos, pengguna twitter kita tergolong paling berisik. Sekarang bahkan mahluk menghuni instagram di Indonesia dianugrahkan sebagai yang paling heboh dan aktif. Intinya, ya paling kepo dan rumpi.
Status itu membuat hoax yang terus dijejalkan gak terlalu mempan. Dengan tingkat rumpi dan kepo yang membanggakan, kita bisa mengantisipasi banjirnya hoax dan berita bohong. Sebab semua berita akan dipreteli satu-satu. Jutaan netizen yang rumpis menguji kebenarannya dari segala sudut pandang. Logika publik jadi terasah.

Tengku Zulkarnaen boleh pakai gamis, ubeng-ubeng dan jenggotan. Tapi netizen gak percaya begitu saja dia sebagai ulama yang suka memberi nasihat. Sebagian isi cuitannya berisi informasi palsu. Kalau gak beresiko hukum, dia biarkan kebohongannya tersebar. Jika beresiko, dia berusaha menghapus jejaknya. Tapi menghapus cuitan yang terlanjur beredar, sama sulitnya seperti menghapus kenangan pada mantan. Dia kira gak ada orang yang meng-capture kebohongannya?

Sebetulnya begini. Hoax dan berita palsu adalah jalan untuk membuat keresahan. Keresahan akan melahirkan sikap saling gak percaya. Lalu muncul kecurigaan. Lalu lahir perilaku agresif. Lalu menyeruaklah kekerasan. Lalu kita semua berada dalam perang sipil. Lalu Indonesia punah.

Itu tujuan utamanya. Hoax pada ujungnya adalah senjata untuk merusak sebuah bangsa. Masyarakat yang abai dan cuek akan mudah dibombarbir hoax lalu dibakar kecurigaan. Masyarakat yang kepo dan rumpis akan mudah menepisnya.
Bagaimana cara merusak isi kepala sebuah masyarakat? Bunuh kekepoaanya. Matikan semangat rumpisnya. Agar mereka gak sanggup mengecek informasi apapun yang dijejalkan kepadanya.

Maka di liqo-liqo diperkenalkan istilah gazhul fikri, perang pemikiran. Mereka ditakut-takuti dengan pemikiran dan informasi lain selain dari kelompoknya. Lalu dijejali informasi hanya dari murabinya saja.

Maka echo chamber isu dari luar diusahakan tidak masuk ke goa-goa para kampret. Di media sosial mereka cenderung memblok segala informasi yang bertentangan. "Media mainstream sudah dikuasai pemerintah. Jangan dipercaya," begitu doktrin mereka.

Capresnya pun sadar, jika pendukungnya yang unyu-unyu itu punya rasa kepo yang besar, akan terbukalah belangnya. Maka dia juga ikut memaki media. Menuding media tidak objektif.

Gayanya meniru Trump yang menang di AS dengan cara menyebar hoax dan ketakutan. Yang dia gak sadar, rakyat AS itu individualis. Bukan rakyat yang rumpi dan kepo. Berbeda jauh dengan netizen Indonesia.

Sebetulnya ada dua target hoax yang berbau politik. Target pertama untuk mengacaukan Pilpres. Kalau mereka kalah, akan ada alasan untuk bikin huru-hara. Karena kepercayaan rakyat sudah diombang-ambing akibat dijejali kabar bohong.
Yang kedua, nah ini yang bahaya. Hoaxnya selalu mensasar semangat keagamaan. 'kriminalisasi ulama', 'Islam dizolimi', 'pemerintah musuh Islam', dan sejenisnya. Hoax jenis ini untuk melatih rakyat agar punya kebencian berdasarkan agama.

Jika sudah waktunya umat yang otaknya penuh hoax ini akan disulut untuk memerangi saudara sebangsanya sendiri. Atas nama jihad. Atas nama agama, mereka akan tega untuk membunuh.

Sebab, masyarakat telah kehilangan rasa keponya. Gak ada lagi pertanyaan di kepalanya: mengapa saya harus membunuh? Mengapa saya harus merusak nisan di kuburan? Mengapa saya harus membenci umat beragama lain? Mengapa saya harus mengkafirkan sesama muslim?

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bangsa ini adalah kita tingkatkan rasa rumpis dan kepo. Slogannya, 'Dengan semangat rumpis dan kepo kita selamatkan Indonesia'.

"Wahai kaum rumpis sedunia, bersatulah!," seru Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer