Tabloid 'Indonesia Barokah' Bikin Panik Para Penyebar Hoaks

Tabloid
Tabloid Indonesia Barokah

Sedang heboh dengan beredarnya tabloid 'Indonesia Barokah' (IB). Tim kampanye Prabowo-Sandi memprotes beredarnya tabloid itu. Katanya mereka merasa dipojokkan dengan isi tabloid. Sebuah pernyataan yang perlu diuji.

Saya sendiri mendapatkan tabloid IB versi digitalnya. Saya pelototi satu-satu isinya. Menurut saya, isinya biasa saja. Gak ada berita baru yang dituliskan. Malah kesannya hanya rangkuman berita dari media-media online. Plus dibumbui sedikit opini.

Itupun opininya bukan sudut pandang baru. Bagi mereka yang sering membuka-buka medsos, isi tabloid ini bahkan bukan termasuk menarik perhatian.

Coba bayangkan. Seantero jagad juga sudah tahu bahwa kasus Ratna Sarumpaet yang mengaku digebuki adalah hoaks. Jadi ketika IB menuliskan kasus itu sebagai hoaks terbesar menjelang Pilpres, terus apa istimewanya?

Ketika redaksi menuliskan bahaya hoaks dan bagaimana menghindarinya. Juga ada artikel soal politisi yang strategi kemenangannya dilakukan dengan menyebar fitnah dan berita bohong.

Soal cara menghindari hoaks, itu sama seperti imbauan tim cyber Polri kepada masyarakat. Biasa saja.

Ada satu artikel mengenai bahaya HTI, ISIS dan gerombolan ekstrimis lain. Ini adalah imbauan yang sangat bagus bagi masyarakat agar tidak terjerumus jadi zombie yang hobi membunuh dan membuat kerusakan.

Laporan utama IB mengulas reuni 212. Ulasannya bagus. Redaksi menyampaikan bahwa reuni 212 yang sering menggunakan simbol-simbol agama itu, sebetulnya hanyalah upaya mempolitisasi agama. Reuni itu gak ada hubungannya dengan Islam, tapi melulu urusan politik.

Jika reuni 212 cuma urusan politik, lalu mengapa mereka ramai-ramai mengeksploitasi Islam? Ini namanya menunggangi agama untuk kepentingan pribadi dan golongan. Menggunakan ayat-ayat Allah untuk menipu umat.

Pada bagian lain ada ulasan mengenai Bank Wakaf Mikro, sebuah program pemerintah yang ditujukan untuk memajukan ekonomi umat. Informasinya menarik setidaknya bisa memberi gambaran pada pembacanya mengenai peluang permodalan yang bisa diakses.

Balik lagi pertanyaanya: kenapa Prabowo-Sandi merasa isi tabloid itu merugukan mereka?

Bagi saya isi tabloid ini positif saja. Sangat jauh berbeda dengan Tabloid Obor Rakyat yang terbit 2014 dulu. Sebagian besar isi Obor Rakyat adalah fitnah keji. Tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sementara isi tabloid ini gak ada satupun yang isinya fitnah. Semua clear. Semua bisa dikonfirmasi.

Lalu mengapa Prabowo-Sandi ketakutan? Mereka ketakutan karena isi tabloid ini menyampaikan sesuatu yang benar. Yang terjadi di masyarakat. Bukan mengada-ada.

Kalau masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi, maka mereka akan jadi lebih cerdas. Mereka akan mulai memilah mana fitnah. Mana berita yang layak dipercaya.

Jika demikian, maka strategi membodohi publik gak bisa lagi dilakukan. Jadi mereka marah karena ada pihak lain yang mencoba mencerdaskan publik.

Bahkan menurut Bawaslu, isi tabloid ini sama sekali tidak ada unsur kampanyenya. Tidak ada unsur melanggar aturan. Wong cuma kompilasi berita dari media kredibel.

Jika memang ada isi tabloid ini yang hoaks atau fitnah, sebetulnya gampang saja. Lapor ke polisi. Tuntut pengelolanya.

Tapi apa yang mau dilaporkan jika isinya memang sesuai kenyataan. Makanya tim Prabowo-Sandi pusing tujuh keliling. Sebab mereka biasa bermain dengan berita palsu dan sebar kebohongan.

Ada kalanya orang yang selama hidupnya berada di gua yang gelap, akan sakit matanya ketika melihat sinar matahari.

Tagar.id

0 komentar

Tulisan Populer