MIMPI BASAH PENEGAKKAN KHILAFAH

Islam
Khilafah bukan esensi ajaran Islam

Maaf, kali ini saya mau nulis yang agak serius. Karena ada seorang rekan yang minta obrolan kami dituliskan. "Biar lebih utuh," katanya.

Ada Islam. Ada Islamisme. Islam itu ajaran moral yang tujuannya memperbaiki akhlak dan perilaku. Basisnya cinta dan kasih sayang kepada seluruh alam. Rahmatan lil alamin. Penganutnya disebut muslim.

Semua penganut Islam, menafsir ajaran universal ini yang terdapat dalam Alquran. Lalu diaplikasikan dalam kehidupan mereka.

Masalahnya kitab suci diturunkan dengan bahasa simbolis kelas tinggi. Sehingga orang perlu menafsir maksud yang terkandung di dalamnya. Disinilah dimungkinkan melahirkan berbedaan penafsiran.

Ada banyak aliran pemikiran dan mazhab dalam Islam. Semuanya merujuk pada penafsiran atas teks kitab suci.

Tapi rupanya ada satu jenis penafsiran yang mau benar sendiri. Jika ada yang berbeda dengan mereka langsung dicap kafir, sesat, bid'ah.

Bukan hanya itu, seluruh cara tafsirnya ditarik dalam perspektif politik. Islam yang tadinya berbasis ajaran moral diubah menjadi sangat politis. Repotnya dengan tafsir itu, mereka memaksakan agar pemahamannya dijadikan hukum negara.

Istilahnya adalah syariatisasi hukum negara seperti hukum cambuk atau rajam sampai aturan cara berpakaian, atau cara nyemplak motor.

Inilah yang dikenal dengan istilah Islamisme. Mereka yang menganut paham ini merasa siapa saja yang berbeda tafsir sebagai musuh. Mereka cenderung memaksakan fikirannya ke orang lain dan yang paling repot mereka selalu ngotot memaksakan tafsirnya itu menjadi hukum negara.

Penganut Islamisme ini cenderung berfikir ekstrim. Fundamentalis dan kasar. Sebab mereka merasa sedang memperjuangkan hukum tuhan. Padahal, mah, cuma memperjuangkan tafsirnya sendiri tentang hukum tuhan itu.

Penganut paham Islamisme itu agau Islam politik disebut kaum islamist.

Karena kaum islamist ini merasa paling benar sendiri, mereka gampang mengangkat senjata kepada siapa saja yang berbeda dengannya. Sesama pengasong khilafah, misalnya. Akhirnya saling berperang karena perbedaan siapa khilafah yang berhak memimpin, ketika kaum itu berhasil menguasai satu daerah.

Alqaedah, ISIS, atau Hizbut Tahrir, Al-Nusra di Syuriah, akhirnya juga saling membunuh. Padahal mereka semua sesama pengusung khilafah. HTI dan PKS di Indonesia bermusuhan, padahal sama-sama punya berslogan tegakkan hukum syariah.

Mungkin saja awalnya mereka bersatu. Di Syuriah gerombolan itu bersama-sama melawan Bashar Asaad. Tapi begitu mengusai sebuah daerah eh, gayanya mirip burung memakan bangkai. Berebut kekuasaan.

Kaum ini cuma bermodal slogan besar : khilafah. Tapi bagaimana cara mengangkat khilafah, siapa yang pantas jadi khilafah, bagaimana proses pergantiannya, seberapa lama kekuasaannya, sama sekali gak pernah ada kesepakatan yang jelas. Akibatnya masing-masing punya pikiran sendiri. Lalu ketika pikirannya saling berbeda, mereka akhirnya saling juga membunuh. Berebut paling benar.

Makanya khilafah yang sering membuat warga HTI mimpi basah itu, gak mungkin terwujud. Setidaknya gak mungkin langgeng. Kenapa? Karena kalau kaum islamist menang di Indonesia, misalnya. Mereka juga akan berperang sesama mereka sendiri. Sama-sama teriak 'Allahuakbar' untuk membunuh yang lainnya. Ujung-ujungnya negeri ini tinggal puing.

Jadi yang harus diwaspadai itu adalah kaum Islamisme atau Islam politik. Mereka yang mengasong agama untuk kekuasaan. Mereka inilah gerombolan intoleran. Yang suka merusak gereja dan rumah ibadah agama lain. Menghalangi ibadah orang lain. Juga yang sering mempersekusi muslim yang punya tafsir berbeda dengan mereka.

Singkatnya begini. Islam politik atau Islamisme berbeda dengan Islam sebagai ajaran moral. Islam sebagai ajaran moral mengajarkan toleransi dan menyebarkan kasih sayang. Sementara Islam politik cenderung eksklusif dan ekspansif. Dalam pemahaman mereka tidak ada kasih sayang pada perbedaan.

Saya rasa inilah yang sering disalahpahami. Kaum barbar itu penganut ajaran 'Islam politik'. Bukan ajaran Islam seperti yang dibawa Kanjeng Rasul --sebagai panduan perbaikan akhlak.

Sama seperti ketika sosiolog Max Weber menafsir bahwa kapitalisme sebagai manifestasi etika Protestan. Ketika semangat kapitalisme cenderung serakah dan ekspansif, kita tidak mungkin menuding bahwa keserakahan itu sebagai bagian dari ajaran kristen. Sebab kita tahu, sebagai ajaran moral, kristen berbasiskan cinta dan kasih.

Atau ketika gereja katolik abad pertengahan menjalankan inkuisisi. Banyak orang yang mati dan tersiksa karena imannya diragukan gereja. Bukan berarti kita menuding ajaran katolik sekejam itu. Sebab perilaku seperti itu lahir dari tafsir yang diterjemahkan sebagian petinggi gereja. Mereka menegakkan katolikisme.

Buktinya kini gereja katolik memiliki pendekatan lain yang lebih humanis. Lebih mengedepankan kemanusiaan. Abad kegelapan sudah lama berlalu.

Toh, sama seperti yang lain, katolik juga berbasis kasih sayang dan cinta. Tujuannya juga untuk memperbaiki perilaku manusia.

Jadi intinya. Kita harus membedakan sebuah tafsir terhadap kitab suci. Dengan kitab suci itu sendiri. Kita harus membedakan cara orang menerjemahkan ajaran, dengan ajaran itu sendiri.

Lho, saya melihat Abu Kumkum tidur di pojokan. Rupanya dia capek mendengar ocehan saya kali ini. Pantas saja celetukannya gak terdengar.

0 komentar

Tulisan Populer