DUA GEROMBOLAN SRIGALA SIAP MENERKAM INDONESIA

Jangan Suriahkan Indonesia
Tim Kampanye Nasional Prabosan memindahkan Posko ke Solo. Secara bersamaan gerombolan yang menamakan 212 menggelar Tabligh Akbar disana.

Sebuah video viral. Isinya peserta aksi sedang memprovokasi seorang polisi. Untung polisi itu sabar. Meski ketika menontonnya, saya saja gregetan. Kok, bisa mereka kurang ajar kepada aparat negara seperti ini.

Di acara itu bendera HTI berkibar dimana-mana. Tidak ada satupun bendera merah putih.

Sehari sebelumnya, gerombolan teroris menyerang rutan Solo dan memicu kerusuhan di sana. Polisi menangkap 10 orang anggota gerombolan. Dua orang dilumpuhkan karena melawan.

Di Medan, Sumatera Utara, gereja yang sudah lama berdiri tetiba jemaahnya dilarang beribadah. Videonya juga diviralkan. Di Jambi tiga gereja disegel warga, padahal gereja-gereja tersebut punya izin resmi.

Jangan kaget jika penutupan gereja akan terus terjadi sampai Pilpres nanti. Sebab tujuannya memang mau membakar konflik agama.

Apa yang bisa dilihat dari kondisi ini?

Ada kelompok yang sedang menyulut konflik di Indonesia. Saya melihat ada dua kepentingan yang menginginkan terbakarnya bangsa ini.

Pertama mereka yang punya agenda politik. Kandidat presiden yang gak punya prestasi berharap terjadi keriuhan agar bisa memancing di air keruh. Dengan terjadinya huru-hara, mereka bisa mengelabui rakyat untuk memetik keuntungan politik.

Isu yang akan dimainkan, pemerintah tidak bisa menjaga ketertiban rakyatnya. Penyegelan gereja itu punya dua tujuan : membakar emosikaum muslim dan menakut-nakuti umat kristen.

Ujungnya mereka akan menyebarkan isu pemerintah gak bisa melindungi minoritas. Lihat saja suara itu susah mulai dimainkan ei media sosial. Ini untuk menarik suara umat kristen. Atau setidaknya membuat mereka skeptis dan jadi Golput.

Kepentingan lain yang berharap Indonesia konflik adalah gerombolan pengasong agama. Para penganut 'Islam politik' yang beringas. Kita tahu, meski sudah dibubarkan HTI tetap mimpi basah untuk merusak negara ini dengan slogan agama.

HTI dan gerombolan teroris sebetulnya gak peduli-peduli amat dengan Capres. Mereka bersatu karena kepentingannya sama : huru-hara. Kelompok Capres berharap setelah kerusuhan itu bisa memenangkan Pilpres.

Sementara gerombolan HTI dan teroris berharap, kerusahan yang akan terpercik jangan sampai padam. Jangan berhenti di Pilpres. Kalau bisa terus membesar. Setelah membesar baru ada alasan para Srigala lapar dari luar negeri diundang masuk. Seruanya jihad.

Pola ini mirip di Libya. Hizbut Tahrir meracuni rakyat untuk memberontak pada Khadafi. Lalu setelah terjadi kekacauan ISIS, Alqaedah masuk untuk menyembelih rakyat Libya.

Setelah ISIS dan Alqaedah melampiaskan nafsu berdarahnya, baru negara-negara asing berebut masuk. Memlrampok semua kekayaan Libya. Perusahaan AS dan Eropa membagi-bagi kapling kilang minyak dan semua sumber daya.

Jalan dan infrastruktur yang ada dihancurkan oleh ISIS dan Alqaedah. Kontraktor Eropa dan AS masuk, membangun jalan itu lagi. Pemerintah Libya yang baru dipaksa berhutang.

Jadi ada dua Srigala yang berharap Indonesia konflik. Srigala pertama adalah politisi ngehe yang gak punya prestasi tapi libido berkuasanya naudzubilah.

Srigala yang lebih ganas adalah gerombolan teroris yang dipakai oleh kekuatan asing untuk membuat huru-hara, agar Indonesia bisa dirampok seluruh kekayaannya.

Kedua kepentingan ini sama strateginya : bakar rumahnya, lalu rampok isinya. Bakar Indonesia, lalu petik kepentingan dari sana.

Kedua gerombolan ini sedang mencoba membakar rumah Indonesia. Kepentingan mereka bertemu bukan pada tujuan akhir. Mereka cuma sama-sama ingin Indonesia hancur dulu. Setelah itu, saya yakin keduanya juga akan saling menerkam. Saling menusukan bayonet.

Tinggal kita yang akan menangisi puing-puing bangsa ini. Dan Abu Kumkum tidak sanggup lagi berkata-kata.

Semoga kita terhindar dari kebiadaban mereka semua.

0 komentar

Tulisan Populer