Pilpres Butuh Biaya, Erwin Aksa Punya Duit. PKS MAH, BOKEK


PKS
Baliho
Berapa duit dibutuhkan untuk kampanye Capres? Kalau melihat luas Indonesia dan sebaran penduduk, kayaknya kebutuhannya gak kecil. Jika Prabowo pernah menghitung paket hemat menjadi Gubernur saja minimal Rp40 miliar. Sedangkan Indonesia terdiri dari 34 propinsi, artinya paket hemat untuk kampanye Capres minimal Rp 1,36 triliun.

Ini kalau mau ambil paket hemat. Kalau mengambil paket full, mungkin bisa sampai 10 sampai 12 triliun rupiah. Itu terdiri dari duit semua, gak dicampur sama daun.

Biaya yang dikeluarkan petahana bisa jadi gak sebanyak itu. Posisinya sebagai pejabat eksisting sangat diuntungkan. Ketika ia menjalankan pekerjaannya dengan baik, secara langsung akan punya efek kampanye. Jadi kalau dihitung-hitung petahana bisa jalan dengan paket hemat. Dampaknya setara paket full.

Sementara bagi penantang, gak bisa menggunakan logika paket hemat. Kalau cuma segitu, ya kurang. Apalagi menantang petahana yang kinerjanya bagus.

Inilah yang membuat Prabowo pusing tujuh keliling. Tadinya ia menggandakan Sandiaga Uno untuk mencari duit buat biaya kampanye. Atau mungkin Sandi mau mengeluarkan biaya buat kampanye mereka dari kantong pribadi. Nyatanya gak juga. Sandi rupanya cerdik, buat apa dia menghabiskan kekayaannya untuk kampanye Pilpres yang peluang memangnya makin tipis. Sama saja menggarami ikan asin.

Pengusahapun mulai realistis dan hati-hati berinvestasi untuk politik. Membantu Prabowo, pasti. Tapi ya,mereka membantu dua kubu. Gak cuma satu. Itupun alakadarnya saja.

Tapi gak jorjoran. Beda dengan Pilpres 2014 lalu dimana masih banyak pengusaha yang berdiri di belakang Prabowo. Raja minyak Riza Chalid salah satunya.

Di internal,tim Prabowo kebanyakan orang yang 2014 pernah terlibat dalam gawe besar Pilpres. Mereka merasakan, dulu soal duit jauh lebih lancar. Nasi bungkus cepat tersaji. Isi pulsa gampang. Sekarang mah, seret. Boro-boro nasi bungkus. Singkong goreng saja cuma tiga biji.

Bagaimana dengan partai pendukung Prabowo-Sandi? Ini lagi. Partai pendukung Prabowo-Sandi, selain Gerindra adalah parpol yang kejepit hasil survei. PKS dan PAN degdegan apakah bisa lolos babak degradasi, dengan minimal suara 4%. Demokrat juga sibuk berjuang untuk dirinya sendiri. Apalagi Berkarya dan Partai Garuda.

Artinya jika punya duit, partai lebih menyibukkan diri untuk kampanye Pileg. Pilpres mah, biar saja urusan Prabowo, Sandi dan Fadli Zon. Wong, yang diuntungkan kampanye Prabowo-Sandi hanya Gerindra.

Makanya kemarin Prabowo sibuk 'ngamen' nyari sumbangan. Membuka rekening donasi sampai bertemu dengan pengusaha Tionghoa. Tujuannya, minta duit. Dasar pengusaha, sudah Titiek capek-capek ikut nyanyi lagu Mandarin, sumbangan yang terkumpul hanya Rp620 juta doang. Duit segitu, buat beli cendol tim kampanye juga habis.

Tapi ada satu peluang lagi untuk meminta dukungan duit. Posisi Wagub Jakarta yang kosong, mungkin bisa dimanfaatkan atau dijadikan alat tukar. Jangan kaget jika belakangan terdengar nama Erwin Aksa, anak konglomerat Bosowa Aksa Mahmud, yang bakal diusung menggantikan Sandiaga di Jakarta.

Ada dua tujuan didorongnya Erwin Aksa menempati posisi Wagub. Pertama, sebagai tambahan amunisi tim kampanye. Kedua, kehadiran Erwin Aksa sekaligus bisa memecah dukungan saudagar Sulsel. Orang akan melihat adanya Erwin disana sebagai bentuk dukungan JK kepada Prabowo-Sandi.

Nah, persepsi inilah yang mau didapatkan. Mereka ingin menarik gerbong JK. Sementara JK sendiri tampaknya lebih bersikap netral. Atau malah mendukung Jokowi.

Tinggal sekarang PKS yang gigit sendal. Posisi Wagub Jakarta lolos dari tangannya. Lagi pula, apa untungnya bagi Prabowo memberi kursi Wagub ke PKS? Duitnya gak punya. Dukungan juga setengah hati.

"Pantas saja Prabowo kalau ngomong kearab-araban salah terus. Hulahi-lah, watuloh-lah. Mungkin guru Iqro I dari PKS protes kali. Udah gak mau ngajarin lagi, mas. Padahal baru bab sampai pengenalan huruf hijahiyah," celetuk Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer