Menunggu Ijtima Ulama III

Politik
Prabowo pakai topi
Pilpres 2019 ini memang seru. Salah satu keseruannya adalah ada kelompok orang yang ngakunya ulama berakrobat sedemikian rupa, untuk menjajakan dagangannya. Mereka menggunakan stempel keagamaan untuk mencari celah biar diakui. Biar direken dalam pentas politik nasional.

Mulanya ketika penentuan Cawapres. Gerindra sudah mendeklarasikan Prabowo sebagai Capres. Tinggal cari Cawapresnya. Sekelompok orang yang mengaku ulama ini ingin ikut berenang di lumpur, berbasah-basah dengan trik politik. Sepertinya mereka bermain mata dengan PKS.

Lalu digelarlah Ijtima Ulama I. Seolah Ijtima Ulama itu dilakukan sebagai nasihat ulama untuk pasangan Capres. Bau-baunya sih, hanya sebagai akrobat politik saja.

Hasil Intima Ulama I itu, merekomendasikan Prabowo sebagai Capres. Lalu menyodorkan dua nama, Abdul Somad dan Salim Segaf Aljufri sebagai Cawapres. Nah, kelihatan kan? Abdul Somad bukan dikenal sebagai politisi. Jadi logikanya gak mungkin namanya yang disorong. Beda dengan Salim Segaf, sebagai Ketua Dewan Syuro PKS. Artinya jika Prabowo mengikuti rekomendasi Ijtima Ulama I, ruang Salim Segaf terbuka untuk mendampingi Prabowo.

Tapi, bagi Prabowo masalahnya bukan suara ulama-ulamaan. Baginya hasil Ijtima Ulama gak ngaruh apa-apa. Mau nasihat, kek. Mau rekomendasi politik, kek. Gak ada urusan. Yang penting sekarang mencari Cawapres yang punya duit.

Maka Prabowo memutuskan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya. Nama Somad dan Salim Segaf, sejak awal sama sekali gak dilirik. Pilihan Prabowo memang jauh dari rekomendasi Ijtima Ulama. "Kalau Sandi jadi Cawapres, lu mau apa? Ape lo, ape lo?"

Apa Prabowo gak dengerin ulama? Kayaknya sebaliknya. Justru ulama itu yang harus patuh sama kemauan Prabowo. Buktinya mereka akhirnya menggelar lagi Ijtima Ulama II. Hasilnya sudah dapat ditebak, para ulama merekomendasikan dukungan pada Prabowo-Sandi. Jadi, ulama-ulama itu harus nurut Prabowo. Kalau fatwanya gak sesuai dengan kemauan Prabowo, mereka harus mikir keras, lalu keluarkan fatwa baru. Sampai klop.

Mungkin saja ulama yang ngumpul-ngumpul itu menyangka, ilmu agama Prabowo jauh lebih tinggi dibanding mereka. Makanya ulama yang harus ikut Prabowo. Bukan sebaliknya.

Ketinggian ilmu dan maqom tersebut lebih terbaca ketika ada berita Prabowo meninju meja ketika bicara di hadapan ulama. Salah seorang peserta di acara itu , Usamah Hisyam, menceritakan sikap galak Prabowo di depan ulama. "Dia bicara di depan forum ulama sambil menggebrak-gebrak,"ujar Usamah dalam sebuah wawancara TV.

Cuma ada dua kemungkinan ulama-ulama itu santai saja digebrak-gebrak ketika bicara. Pertama, para penceramah itu menganggap yang sedang bicara adalah bosnya. Dan mereka semua adalah bawahannya. Jadi, kalau kesannya diperlakukan tidak etis sambil gebrak-gebrak meja, ya gak masalah. Namanya juga bos.

Kedua, kalau mereka bukan bawahannya, barangkali saja mereka minder karena ilmu agama mereka semua jauh di bawah Prabowo. Biasanya di kalangan ulama kalau bertemu dengan orang yang ilmu agamanya lebih tinggi mereka gak berani apa-apa. Tunduk patuh. Mereka menghornati orang yang lebih alim dan dalam pengetahuan agamanya.

Ada fenomena lain, bahwa para penceramah agama itu mengakui ilmu Prabowo jauh lebih tinggi.

Rata-rata orang yang ngumpul di acara Ijtima Ulama punya pandangan keagamaan mengharamkan mengucapkan 'Selamat Natal'. Apalagi merayakannya. Sebab bagi mereka ucapan selamat Natal itu diasumsikan pengajuan pada konsep ketuhanan Kristen.

Padahal mah, cuma ucapan selamat hari raya doang. Gak ada urusan dengan aqidah. Tapi bagi mereka tetap haram. Nah, sebagian besar orang yang ngumpul di acara Ijtima Ulama itu adalah orang yang punya pandangan mengharamkan ucapan Natal.

Buat siapa haramnya? Buat semua umat Islam, kata mereka.

Ternyata Natal ini Prabowo bukan hanya mengucapkan selamat Natal tetapi juga merayakannya bersama keluarga. Videonya viral diupload oleh salah seorang familinya. Terlihat Prabowo yang begitu menikmati acara, berjoget-joget dengan riang.

Tentu ulama yang pernah ngumpul dengan Ijtima Ulama dan merekomendssikan Prabowo sebagai Capres bingung. Ini gimana mau dijual ke umat, kalau gak nurut pandangan mereka bahwa merayakan Natal itu haram.

Tapi sekali lagi. Mereka gak bisa apa-apa. Gak bisa mempengaruhi Prabowo dengan fatwa agamanya. Sebab posisi mereka jauh di bawah Prabowo. Mana berani mengutak-atik apa yang diinginkan Prabowo. Wong, digebrak-gebrak saja mereka mingkem.

Sekarang tinggal mereka yang bingung menerangkan pada umatnya. Padahal dulu orang-orang ini yang getol mengharam-haramkan Natal. Tapi sekarang mereka harus menerima kenyataan.

Kita tunggu saja. Mungkinkah untuk menyesuaikan diri dengan kemauan Prabowo untuk merayakan Natal, para ulama itu menggelar lagi Ijtima Ulama III. Isi rekomendasinya: umat Islam diharamkan mengucapkan selamat Natal. Kecuali Prabowo. Dia mah, bebas.

Ada satu lagi. Dalam pidatonya Prabowo tidak mempermasalahkan Australia memindahkan kedutaan besarnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Padahal langkah itu jelas merugikan perjuangan Palestina dan menguntungkan Israel. Nah, para ulama itu biasanya hobi teriak-teriak membela Palestina.

Tapi, kalau Prabowo malah terkesan mendukung Israel, mereka bisa apa? Wong, posisinya di bawah. Bingung, kan?

Seharusnya urusan Pilpres mestinya gak diaduk-aduk dengan agama. Beginilah kalau memain-mainkan agama untuk politik. Jadinya kacau.

Tagar.Id

0 komentar

Tulisan Populer