Kampanye Ofensif Harusnya Ada di Darat

Erick Tohir
Jokowi dan Erick Tohir Jalan Santai
"Selama ini kita defensif. Sabar, sabar, sabar. Tapi gak bisa begini terus. Sekarang kita akan ofensif," ujar Erick Thohir, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin. Sepertinya Erick sedang menyemangati timnya agar tampil lebih gahar. Gak bisa lagi cuma sibuk menangkis serangan. Justru harus mulai masuk ke jantung pertahanan lawan.

Pertanyaanya, apa yang dimaksud menyerang? Bagaimana cara menyerangnya?

Jika hanya perang opini di media, sepertinya malah gak terlalu efektif. Media sudah dibanjiri perdebatan yang selalu panas. Orang saling melemparkan opini. Seringkali bahkan bukan opini, tetapi cenderung omongan kosong tanpa data.

Lagipula media sosial hanya menjangkau paling 30 persen orang. Sisanya gak tergarap dengan baik. Cara satu-satunya harus turun langsung ke lapangan.

Anggap perang opini media itu adalah serangan udara. Semua berlaga di udara. Tapi serangan udara gak akan bisa memenangkan pertarungan. Yang bisa memenangkan pertarungan adalah serangan darat.

Dalam perang opini pasukan Prabowo-Sandi sering memelintir data. Bayangkan, Sandiaga datang ke pasar. Tengak-tengok sebentar. Keluar dari pasar dia teriak harga-harga mahal. Entah dapat omongan dari mana.

Padahal untuk melihat harga-harga kebutuhan pokok, patokan yang paling gampang adalah angka inflasi. Selama kepemimpinan Jokowi, angka inflasi kita gak lebih dari 4 persen. Bahkan tahun ini cuma 2,8 persen. Artinya tidak ada kenaikan harga kebutuhan pokok.

Bukan cuma itu. Hanya di zaman Jokowi setiap momen Lebaran, hari besar dan tahun baru tidak ada kenaikan harga gila-gilaan. Dulu harga daging bisa tembus Rp 200 ribu sekilo. Lebaran kemarin rata-rata hanya Rp 85 rubu. Naik sedikit yang biasanya Rp 80 ribu.

Semua rakyat dan masyarakat merasakan itu. Tapi Sandi gak peduli. Dia bilang saja harga-harga mahal. Kalaupun kenyataanya pernyataan itu jauh dari kenyataan.

Pernyataan Sandi ditopang oleh para penari hula-hula politik yang ikut meramaikan kebohongan tersebut. Lalu mereka teriak rakyat makin susah? Rakyat yang mana?

Balik ke angka, kemiskinan tinggal satu digit. Pertama dalam sejarah, hanya di zaman Jokowi bisa ditekan serendah itu. Pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5 persen di tengah gejolak dunia yang menggila. Pembangunan infrastruktur gila-gilaan. Sementara bantuan sosial juga gak kalah  dan tepat sasaran. Artinya uang negara memang digunakan untuk masyarakat.

Tapi realita ini dipelintir sedemikian rupa. Seolah-olah negara kita sedang menghadapi masalah. Padahal cadangan devisa kita tinggi. Desifit transaksi berjalan makin kecil. Kemampuan Indonesia membayar utang makin bagus. Tapi mereka bicara tanpa fakta dan data. Sama seperti sering memfitnah Jokowi anti Islam.

Perang udara seperti ini bisa ditangkis dengan membeberkan fakta-fakta via media atau media sosial. Masalahnya gak cukup sampai di situ. Sebab yang terpapar masalah itu adalah mereka yang mungkin saja tidak punya akses media sosial.

Di sinilah dibutuhkan orang-orang yang lebih militan untuk memerangi opini yang disebabkan gerombolan pemfitnahan itu di darat. Temui masyarakat langsung dan beberkan faktanya. Hadir di forum-forum ke masyarakat. Turun ke masjid dan rumah ibadah yang kini banyak berubah jadi ajang menyebarkan berita bohong dan fitnah.

Misal begini. Tahun depan masyarakat miskin akan mendapat tunjangan Rp10 juta setahun. Diambil setiap tiga bulan sekali Rp 2,5 juta. Ada sepuluh juta orang yang menikmati. Dana desa dan kelurahan juga semakin besar. Artinya ekonomi masyarakat kelas bawah sedang dipacu untuk tumbuh dan mendekatkan gap.

Tapi program itu gak cukup. Rakyat yang menerima harus disadarkan bahwa program tersebut adalah keseriusan Jokowi membangun masyarakat miskin. Keseriusan Jokowi memperkecil gap pendapatan antar masyarakat maupun antardaerah. Jika tidak, program tersebut berjalan, tapi bisa dipelintir dengan isu lain.

Kita dengar sekarang, sudah mulai ada yang bicara bahwa anggaran untuk masyarakat itu hasil perjuangan partai sapi, misalnya. Mereka datang ke rumah-rumah mengklaim program pemerintah. Nah, jika pelintiran itu gak cepat dijelaskan, akhirnya program positif akan percuma. Sebab mereka bisa menungganginya.

Erick Thohir berkata, strategi TKN akan lebih ofensif. Maksudnya menyerang. Satu-satunya cara untuk ofensif adalah dengan mengaktifkan Tim Kampanye Daerah untuk bergerak lebih ke bawah. Lupakan media sosial. Kembali ke cara-cara tradisional bahwa jejaring langsung ke rakyat jauh lebih penting.

Jika strategi ofensif cuma di udara, sama juga bodong. Jika langkah ofensif hanya berbentuk isu dibalas isu, gak akan banyak pengaruhnya. Jika strategi ofensif adalah kampanye opini yang menyerang dibalas dengan serangan balik opini, gak akan banyak pengaruhnya.

Masyarajat butuh sentuhan langsung. Butuh action. Bukan hanya hura-hura di media dan medsos.

Untuk mencegah masjid dijadikan sarana agitasi, rasanya pendukung Jokowi perlu juga mendekati masjid. Jangan diam ketika ada dai atau ustaz menyebar fitnah politik dari atas mimbar agama. Langkah yang paling sederhana adalah merekamnya dalam video lalu menguraikannya. Jangan khawatir dengan respon orang. Jika mereka yakin yang disampaikan bukan fitnah, mestinya mereka gak keberatan kalau direkam dan disebarkan.

Langkah yang lebih maju, protes kepada pengurus masjid jika mereka mengundang ustaz atau dai berceramah penuh hasutan dan fitnah.

Jadi intinya satu. Ofensif yang dimaksud Erick Thohir harus diterjemahkan berbentuk serangan darat. Datangi pemilih di rumahnya. Jelaskan program Jokowi-Amin dengan baik. Pengaruhi dengan cara-cara yang santun.

Jika melulu mengandalkan medsos dan opini, itu namanya bukan ofensif. Tetapi hanya onani dengan cara lain.

Tagar.Id

0 komentar

Tulisan Populer