Kali Ini Bukan Sekedar Pilpres. Tapi Perjuangan Rakyat Melawan Para Perompak

Jokowi
Kerjasama Indonesia-Swiss
Jumlah orang miskin jaman ini gak sampai satu digit. Sesuatu yang gak pernah bisa dicapai pemerintahan sebelumnya. Kenapa jumlahnya makin menyusut? Karena ada perbaikan ekonomi mereka.

Dari sisi pendapatan, setiap keluarga harapan mendapat tunjangan. Kalau tahun lalu mereka dapat sekitar Rp 1,9 juta setiap empat bulan. Tahun depan mereka akan mendapat Rp10 juta setahun. Dikirim setiap tiga bulan sekali ke rekeningnya. Masing-masing Rp2,5 juta.

Orang-orang itu gak perlu antri di depan kantor pos seperti jaman BLT dulu. Gak perlu menunjukan wajah kemiskinannya di depan publik. Gak perlu menistakan martabatnya berdesakan berebut dana pemerintah.

"Saya gak ikhlas jika orang-orang miskin itu diniagakan, harus berdesakan antri bantuan. Kita angkat ekonomi mereka tanpa harus menistakan hidupnya," ujar Presiden Jokowi sekali waktu.

Mereka tinggal menunggu dananya ditransfer ke rekening. Lalu dengan kartu yang dipegangnya, tinggal ambil di ATM. Sama seperti karyawan yang baru gajian.

Anak mereka gak perlu bayar sekolah. Ada Kartu Indonesia Pintar yang memastikan anak-anak menempuh pendidikan sampai SMU. Selesai SMU, anak yang berbakat bisa menikmati beasiswa dari pemerintah meneruskan kuliah. Jika sakit, kartu Indonesia Sehat membantunya mendapat layanan kesehatan. Gratis.

Semua adalah langkah untuk memperkecil gap pendapatan antar penduduk. Gap antar wilayah diperkecil dengan pembangunan infrastruktur yang masif. Daerah terpencil dan terluar dibangun jalan agar terbuka akses mereka. Bandara, pelabuhan juga dibangun. Di laut, ada program tol laut dimana kapal laut terus beroperasi menelusuri pulau-pulau terpencil. Mengangkut hasil produksi masyarakat untuk dijual ke wilayah lain, sekaligus mengirim berbagai kebutuhan pokok untuk mereka.

Jokowi mengirimkan dana ke desa-desa. Jumlahnya setiap tahun terus meningkat. Mereka bisa membangun fasilitas sosial, jalan, sampai membuat BUMDes. Ekonomi desa bergerak. Duit tidak lari ke kota lagi, tetapi berputar di desa. Akibatnya kesejahteraan masyarakat meningkat.

Sudah banyak kisah BUMDes yang sanggup punya pendapatan sampai Rp40 milyar per tahun. Mereka memiliki toko, mesin produksi, sampai lokasi wisata.

Presiden mengebrak lagi. Dia ingin memastikan aset rakyat punya kepastian hukum. Program sertifikasi lahan digalakkan. Setiap tahun jutaan sertifikat diberikan kepada masyarakat. Agar masyarakat tidak dirugikan dalam konflik pertanahan. .

Jika dulu banyak perusahaan raksasa mendapat konsesi lahan untuk kebun sawit atau pengelolaan hutan, di jaman Jokowi tidak semeterpun tanah negara diserahkan lagi pada perusahaan. Justru kini digalakkan kehutanan sosial. Dimana 12 juta hektar dibagikan konsesinya kepada masyarakat seputar hutan untuk dikelola.

Orang-orang miskin memiliki peluang meningkatkan ekonominya. Pendapatan mereka meningkat.

Dari sisi pengeluaran, Jokowi secara ketat mengontrol harga bahan pokok. Mafia yang selama ini membuat gejolak harga pangan dihancurkan. Mereka yang suka menimbun pangan agar harganya melonjak dihantam. Jalur distribusi dibenahi. Jalur produksi dibereskan. Akibatnya harga-harga stabil.

Hanya di jaman Jokowi kita gak lagi mendengar lonjakan harga gila-gilaan bahkan saat lebaran dan Natal atau Tahun baru. Harga biasa-biasa saja. Rakyat bisa membeli barang kebutuhan pokok dengan harga wajar. Mafia pangan diperangi.

Mereka marah. Mereka ingin Jokowi tumbang agar bisa memainkan lagi harga pangan di pasaran.

Di sektor migas, Jokowi juga memerangi mafia yang menggurita di sana. Petral dibubarkan. Dulu para mafia itu mendapat untung dari setiap impor minyak. Sekarang gigit jari. Ruang ekonominya digencet.

Mereka marah. Mereka ingin menumbangkan Jokowi agar bisa pesta pora mengutil duit rakyat.

Dulu laut kita dirampok habis oleh kapal-kapal asing. Setiap hari 5000 kapal berbendera asing menangkap ikan kita, merusak isi laut kita. Mereka berpesta pora menggarong. Kini mereka lari, karena jika tertangkap pemerintah gak segan-segan menenggelamkan kapalnya.

Sampai saat ini sudah lebih dari 400 kapal asing ditenggelamkan. Kendaraan perompak laut kita itu nyusruk di dasar laut. Mereka marah. Mereka ingin agar Jokowi tumbang agar bisa merampok lagi.

Mereka marah pada Susi dan Jokowi. Bahkan dulu pernah beredar cerita mereka berani membayar Rp5 triliun agar Susi dicopot.

Orang-orang kaya mulai gerah. Mereka merasa Jokowi lebih perhatian kepada orang miskin ketimbang kepada mereka. Berbeda dengan pengusaha sebelumnya yang memberikan mereka banyak keistimewaan sepanjang upetinya lancar.

Dulu para koruptor berpesta pora di Indonesia. Para pengusaha hitam yang merampok habis-habisan uang kita, menari di atas penderitaan rakyat. Sebagian besar hasil kejahatan dibawa ke luar negeri. Disimpan di bank Swiss atau Singapura. Ketika Indonesia hancur karena kemiskinan yang makin mencekik lalu rakyat berontak, orang-orang itu tinggal pergi meninggalkan Indonesia. Hidup nyaman di luar negeri.

Jokowi tidak membiarkan mereka ongkang-ongkang begitu. Selain menutup semua lubang tikus di dalam negeri, ia juga getol mengejar harta rampokan yang ada di bank-bank asing. Perjanjian dengan Swiss dan Singapura diteken. Juga dengan seratus negara lain, agar Indonesia bisa mendapat data rekening para pencopet itu.

Mereka marah. Mereka bersatu mengerahkan segala kekuatannya. Mereka ingin Jokowi tumbang. Mereka berbaris di belakang lawan politik Jokowi, ikut membiayai dan berharap mendapat konsesi dari sana.

Mereka gotong royong melawan Jokowi. Sebagian dananya masuk ke kelompok-kelompok pengasong agama untuk membakar rakyat. Sebagian lagi menyusup ke kelompok-kelompok radikal untuk membuat kekacauan. Sebagian masuk ke politisi-politisi hitam untuk menyebarkan opini sesat.

Pilpres kali ini sebetulnya adalah pertarungan rakyat Indonesia yang kesejahteraannya mulai terangkat dengan para mafia perampok. Ini adalah perjuangan rakyat-rakyat di pelosok untuk mempertahankan hartanya dari para penjarah.

Sekarang tinggal pilihan Anda, mau berdiri di posisi yang mana?

"Untung sejak dulu gak ada mafia minyak telon, mas," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer