CARI CAPRES KOK, MIKIRIN AGAMANYA!

Agama
Baliho
Jadi Prabowo itu enak. Meskipun ia gak jelas keislamannya. Gak jelas apakah ia bisa dan biasa beribadah, tapi tetap saja ia dianggap sebagai pemimpin Islami. Pemimpin yang agamis. Kelasnya sejajar dengan Raja Salman atau Erdogan.

Meskipun ia menyebut 'hulaihi' atau 'watuloh', tetap saja posisinya disejajarkan dengan ulama. Bahkan ulama yang paling doyan teriak kopar-kapir saja, termasuk pendukung Prabowo paling fanatik.

Ketika orang mempertanyakan hal beragama yang standar itu kepada Prabowo, pendukungnya langsung nyerocos, agama jangan dikait-kaitkan dengan politik.

Lha? Hahahaha...

Saya sih, setuju agama jangan dicampur aduk dengan politik. Bagi saya, Prabowo gak pernah sholat, kek. Dia gak hapal Alfatehah, kek. Mau dia gak jelas beragamanya, kek. Itu urusan dia dengan Tuhan. Gak ada hubungannya dengan ajang Pilpres.

Saya meyakini, kualitas seorang pemimpin dilihat dari prestasi dan hasil kerjanya. Prabowo gak hapal Alfatehah yang menjadi bacaan wajib tiap sholat, itu urusan dia sendiri. Prabowo gak bisa menyebutkan gelar Kanjeng Nabi dengan benar, itu lidah dia sendiri. Bahwa menyebut namanya saja salah, apalagi mengenal dan mencintainya. Tapi itu bukan urusan saya.

Yang paling penting untuk menilai seorang pemimpin adalah apa prestasi dan track recordnya. Apa hasil kerjanya.

Saya gak tertarik membandingkan soal cara beragama Jokowi dengan Prabowo. Jika Jokowi selalu mampir ke mushola atau masjid setiap kali kunjungan kerja untuk melaksanakan sholat, itu karena dia memang punya kebiasaan seperti itu. Meskipun kebiasaan Jokowi itu sering membuat Paspampres pontang-panting.

Soal ia punya kebiasaan puasa Senin-Kamis, hal tersebut hanya caranya mengelola bathin. Mengelola kedekatan dengan Tuhannya. Bahwa sejak jadi pengusaha dulu ia mendirikan majlis taklim yang rutin mengkaji soal beragama, itu memang panggilan bathinya.

Jadi Prabowo yang gak bisa baca Alfatehah atau Jokowi yang rajin ibadah, itu gak ada hubungannya dengan bagaimana saya menentukan pilihan dalam Pilpres. Toh, urusan ibadah adalah urusan dia dengan Tuhan.

Saya lebih memilih bagaimana urusannya dengan orang banyak. Dengan lingkungan sekitar.

Saya lebih mempertimbangkan bagaimana mereka bisa berbuat adil. Bisa amanah terhadap duit rakyat. Bisa bekerja untuk kemakmuran rakyat. Bisa mencerdaskan dan memberi rasa optimis bagi bangsa ini.

Saya akan beber prestasi mereka satu-satu. Saya akan nilai dari caranya berhadapan dengan rakyat. Saya akan mempertimbangkan dari skill manajerial membenahi kekusutan birokrasi. Saya akan apresiasi dari kecepatan pengambilan keputusan dengan pertimbangan yang matang.

Juga latar belakangnya.

Kalau soal agama, sih, urusan mereka sendiri. Saya gak mau masuk ke isu tersebut. Kalau Prabowo gak bisa baca Alfatehah atau gak bisa bacaan sholat, emang saya yang akan kena dosa? Kan, gak.

Kalau Jokowi rajin ibadah, suka puasa Senen-Kamis emangnya jika saya mendukung dia, saya dapat pahala? Gak juga.

"Mas, ulama yang hadir di acara Ijtima Ulama dibanding sama Prabowo, ibadahnya bagusan mana?," tanya Abu Kumkum.

Mbuhh.

0 komentar

Tulisan Populer