Partai Demokrat Berkumpul
Langit mendung. Udara seperti disapu kesedihan. Bumi mengucurkan air mata, lalu menangis sejadi-jadinya. Seperti kesedihan yang begitu menikam seorang ibu paruh baya. Ia tidak kuat menahan derita ini.

Orang-orang di sekelilingnya ikut menangis. Siapa yang tahan melihat penderitaan yang begitu mencekam. Jika kamu masih punya hati nurani, kamu juga akan menangis.

Hanya orang berhati batu saja yang tahan untuk tidak meneteskan air mata. Itupun, saya yakin, dengan nafas yang juga sesak.

"Sakit. Sakit sekali," suaranya keluar. Sedikit parau, karena terhalang oleh perasaan yang menekan. "Perempuan mana yang kuat menghadapi penistaan seperti ini."

Orang-orang terdiam. Suaminya yang ada di sebelahnya ikut terpekur. Kantung matanya seperti berisi cairan, yang bakal mengeluarkan air mata. Tapi rambutnya tetap rapih, seperti dilumuri lem.

"Tidak ada manusia yang punya hati tega berbuat ini kepada manusia lain. Ini adalah pekerjaan orang-orang tanpa nurani," keluhnya lagi sambil terisak. Isak seorang ibu. Isak seorang wanita. Meski rambutnya tetap mumbul dengan Sasak yang tinggi.

"Sepanjang hidupku, inilah momen yang paling menyakitkan. Mana ada manusia yang kuat diperlakukan begini. Coba, siapa, yang sanggup?," keluhnya lagi. Suaminya hanya menahan nafas. Para pengikutnya tidak berani mengangkat muka. Semua tenggelam dalam kesedihan.

"Bayangkan, baliho kita dirusak. Dicoret-coret oleh orang yang tidak punya prikebalihoan. Para perusak itu adalah orang-orang tidak punya hati. Tidak punya iman. Mana ada orang beriman merusak baliho..."

"Anda semua tahu arti baliho itu buat hidup saya. Buat partai saya? Anda tahu seberapa penting arti baliho bergambar wajah anak-anak saya terpampang di jalan. Bagi seorang ibu dan istri tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat baliho bergambar anak dan suaminya dirusak orang..."

Ia menarik nafas sebentar. Seperti ingin memindahkan gunung di dalam rongga dadanya. Berat memang. Ia teringat kedua anaknya. Anak yang sejak kecil dirawat dan dibesarkan. Kini gambarnya dalam baliho dirusak. Ibu mana yang tega melihat baliho anaknya rusak oleh tangan-tangan iseng? Coba, perempuan mana yang kuat?

"Seandainya langit bisa menangis, saya yakin langit akan menangis tersedu-sedu melihat baliho itu. Seandainya bulan bisa ngomong... Ngomong-ngomong..."

Ia tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ah, betapa kejamnya kehidupan politik negeri ini. Betapa menyiksanya bathin seorang ibu melihat baliho partai milik suaminya kini robek dan kisut.

"Jika saja suami saya masih presiden, saya akan usulkan hari ini sebagai hari duka cita nasional. Hari paling kelam dalam sejarah politik di Indonesia," matanya menerawang. Membayangkan hari-hari indahnya dulu.

"Apa bangsa ini gak tahu makna baliho bagi rakyat kecil. Baliho berwarna biru, dengan orang-orang klimis dan kinyis-kinyis sebagai modelnya. Siapakah yang memahami filosofi yang terkandung di dalamnya? Jangan dianggap enteng. Ini adalah harga diri bangsa. Tuhan dan malaikat juga tahu makna baliho itu bagi alam semesta..."

Suaminya terdiam mendengar keluh kesah istrinya. Dadanya sesak seperti terhimpit mikrolet. Dia hanya menyahut pendek. "Saya prihatin, bu..."

"Kammmiiii jugaaaaa, paakkk..." Seru para punggawa serempak.

0 komentar

Tulisan Populer