LOGIKA JUNGKIR BALIK PRABOWO

Politik
Prabowo Pidato
Prabowo lagi misuh-misuh. Dia protes pada Jokowi karena di Indonesia sekarang, lukisan SMU jadi driver ojag. Baginya itu tanda dari kemunduran bangsa. Masa lulus SMA cuma jadi driver ojeg.

Bagi Prabowo itu, negara yang maju adalah yang orang lulusan SMA bisa jadi direktur BUMN. Atau bisa jadi akuntan profesional. Atau lawyer-lawyer yang ngobrol di ILC itu, jika di negara maju isinya lulusan SMA semua.

Bagi Prabowo mungkin, sekolah cukup sampai SMA saja. Gak usah tinggi-tinggi. Nanti bisa jadi guru, bisa jadi apoteker, bisa jadi bidan, bisa jadi pilot, bisa juga jadi dokter. Masa anak lulusan SMA cuma jadi supir ojeg?

Barangkali menurut Prabowo, semakin maju sebuah negara, semakin rendah juga pendidikan masyarakatnya. Mungkin baginya sebuah negara itu maju jika anak lulusan SMA bisa menempati posisi-posisi penting. Semakin maju lagi sebuah negara kalau yang menempati posisi penting itu cuma lulus SMP atau SD. Akan semakin hebat sebuah negara jika orang yang buta huruf bisa jadi wartawan.

Itulah negeri yang diimpikan Prabowo. Makanya dia protes jika anak lulusan SMA jadi supir ojeg. Baginya itu penistaan. Padahal kan, bisa juga jadi penceramah agama. Cukup belajar agama sedikit, jago ngomong, banyak dapat amplop.

Tapi bukan itu intinya. Prabowo hanya menyesalkan kenapa lulusan SMA jadi supir ojeg? Kenapa gak punya jabatan yang lebih tinggi lagi semisal jadi rektor atau guru besar gitu. Atau kalau itu terlalu sulit cukup jadi diplomat saja.

Ini lulusan SMA lho? Begitulah sebuah negara maju menurut Prabowo.

Saya gak tahu apakah Prabowo membandingkan Indonesia sekarang dengan jaman penjajahan dulu. Dulu cukup lulus SR (sekolah rakyat) setara pendidikan dasar, rakyat Indonesia sudah bisa hidup makmur. Jadi Klerk perusahaan Belanda.

Kenapa bisa? Karena rata-rata rakyat masih buta huruf. Bisa membedakan huruf S dengan gambar cacing saja sudah bagus. Bisa diangkat jadi mandor perkebunan.

Dulu jadi guru SD cukup lulus Sekolah Pendidikan Guru, setara SMA. Sekarang guru SD harus S1 atau S2. Di mata Prabowo itu adalah kemunduran, bukan kemajuan.

Gimana jika sebetulnya kondisi yang dikeluhkan Prabowo itu karena angka putus sekolah kita kini sangat menurun. Ada KIP, misalnya. Hingga rata-rata penduduk bisa menikmati pendidikan minimal 12 tahun. Coba lihat indeks pembangunan manusia kita sekarang, tingkat harapan lama sekolah meningkat dari 12,39 tahun kini menjadi 12,72 tahun

Nah, jika tingkat harapan lama sekolah mencapai 12 tahun, artinya rakyat Indonesia yang lahir hari ini minimal bisa menikmati pendidikan sampai SMA. Dalam teori pembangunan tingkat harapan sekolah itu meningkatkan indeks pembangunan manusia.

Ok, katakanlah indeks pembangunan manusia kita makin bagus. Rata-rata lama pendidikan juga meningkat. Misalnya, minimal penduduk Indonesia itu lulus SMA. Terus apa yang terjadi?

Yang bakal terjadi adalah, office boy, tukang sampah, hansip, atau tukang sapu jalan minimal ijasahnya SMA. Wong semua penduduk produktif lulusan SMA kok.

Itu gak bener dong. Masa lulusan SMA jadi tukang sampah atau tukang sapu jalan? Kan bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih intelek.

Tapi kita tetap butuh tukang sampah dan sapu jalan kan? Nah, di negara kaya, tinggal impor tenaga kerja asing. Suruh orang dari negara miskin masuk untuk jadi tukang sampah dan sapu jalan. Suruh mereka jadi pekerja kasar. Itu yang dilakukan Singapura, Taiwan, atau Uni Emirat Arab. Wong mereka punya duit. Di Bandara Abu Dhabi, banyak penjaga toko orang Filipina.

Tapi, kalau Indonesia impor tenaga kerja asing, nanti Prabowo ngambek lagi. Nuduh Indonesia dimasuki tenaga kerja asing. Lagipula dengan jumlah penduduk yang banyak begini buat apa Indonesia mengimpor tenaga kasar?

Sebetulnya yang perlu dilihat adalah ruang kerja di Indonesia terbuka lebar. Di Jakarta ini hanya orang malas yang gak bisa makan. Mau dapat penghasilan lumayan, hanya modal sepeda motor bisa bawa pulang duit setara UMR jadi driver ojeg.

Terus masalahnya dimana? Jangan sok, merendahkan supir ojeg deh. Apalagi ojeg online. Omongan Prabowo itu jelas gak enak. Saya mau tanya, emang ijasah Tommy Suharto formalnya itu lulusan apa?

Dia jadi kaya bukan karena sekolahnya. Dia jadi kaya karena fasilitas bapaknya. Hasil memeras keringat rakyat. Petani cengkeh, petani bawang putih pernah merasakan diperas oleh cecungguh orde baru. Masih mending ojeg online, meskipun sedikit tapi bisa hidup dari keringat sendiri.

Coba lihat Gibran, putera Jokowi. Meski lulusan luar negeri, apa dia malu jualan martabak? Kembali lagi ini soal mental. Mental penggede memang sering keberatan sama gengsi. Maunya enak. Maunya hebat. Kerja keras gak mau. Apa mentalitas itu yang mau diajarkan Prabowo kepada rakyat Indonesia?

"Mongomong kamu dulu sekolah SMA dimana Kum. Kok bisa sekarang berbisnis kayak gini?," tanyaku.

"Saya alumni SMA Tumben Lestari, mas. Lulusan sekolahku itu keren-keren. Salah satunya ya, saya ini. Pebisnis minyak dan gas : jualan minyak telon oplosan dan jamu tolak angin..."

"Kalau Bambang Kusnadi, lulusan mana Kum?"

"Gak usah ngomong sekolah sama dia, mas. Sejak ditolak tes jadi Polwan, dia kayaknya frustasi berat..."

0 komentar

Tulisan Populer