Kalau Yang Difitnah Orangtua Saya, Hati saya Gak Nerima Gus

Joko Widodo
Jokowi dan Ibu
Jokowi marah. Sejak lama ia menahan emosinya. Anak siapa yang tidak marah ketika fitnah begitu lesak dihujamkan kepada orangtuanya. Orangtua yang membesarkannya. Orangtua yang memberinya pendidikan dan kasih sayang. Orangtua yang setiap tetesan keringatnya digunakan untuk membesarkan buah hatinya.

Jokowi pernah mengadukan masalahnya ini kepada kyai Dul Kareem, seorang guru agama pengasuh pondok Pesantren Az-Zayyady, di Laweyan, Solo. Gus Kareem adalah hafidz Qur'an yang mengenal sosok Jokowi sejak lama. Jokowi sendiri aktif di berbagai pengajian jauh sebelum duduk sebagai Walikota Solo. Bahkan ia mendirikan pengajian bulanan 'Bening Hati', yang berisi pengusaha muda Solo. Jauh sebelum ia terjun ke politik.

"Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah macam-macam. Tapi kalau yang difitnah bapak-ibunya saya, difitnah PKI atau kafir kulo sing mboten saget nrimo (hati saya gak terima)," ujar Jokowi. Ketika membaca penjelasan Gus Kareem dalam sebuah artikel, saya merinding.

Saya membayangkan bagaimana jika orangtua saya yang difitnah seperti itu. Apa saya akan menerimanya?

Ketika punya kesempatan berbicara di hadapan rakyat Lampung, tampaknya kegundahan hati Presiden sudah tidak dapat dibendung. "Kok saya difitnah PKI. Orangtua saya difitnah sebagai PKI. Siapa orangtua saya jelas, tidak ada yang ditutup-tutupi. Fitnah tersebut sangat menyakitkan," ujar Presiden.

"Kalau ketemu sama orangnya yang suka memfitnah itu, rasanya mau saya tabok," ujar Jokowi lagi. Meski bicara diiringi dengan senyum, kita tahu, ada gejolak yang hendak disampaikannya kepada rakyat.

Ayah Jokowi bernama Wijiatno Notomiharjo. Bersama istrinya membangun bisnis perkayuan yang masih berjalan sampai sekarang. Hidup sebagai keluarga yang biasa saja. "Di Solo itu banyak masjid. Banyak pesantren. Saya asli Solo. Kakek dan bapak saya dulu ada di Solo. Jadi semua bisa ditanyakan bagaimana kehidupan mereka," ujar Jokowi dalam kesempatan lainnya.

Artinya ia ingin mengatakan bahwa fitnahan tentang orangtuanya dikarang-karang tanpa dasar dan bukti. Fitnahan itu yang secara kejam dilesakan ke punggung Presiden oleh lawan politiknya.

Saking niatnya memfitnah, bahkan sampai ada ide untuk tes DNA. Ini benar-benar gila. Tes DNA hanya membuktikan garis keturunan secara biologis. Tidak ada sangkut pautnya dengan ideologi seseorang.

Mana bisa tes DNA membongkar seseorang beraliran apa. Atau punya pemikiran apa. Coba tes DNA anaknya Eienstien, apa bisa ditemukan dia juga jenius fisika? Gak mungkin.

Atau jika kita tes DNA Prabowo, maka otomatis bisa dideteksi ia terpapar gerombolan PRRI/Permesta? Gak begitu logikanya. Tes DNA pada Prabowo, misalnya, hanya menjelaskan garis keturunan Sumitro Djojohadikusumo saja. Bukan menjelaskan hubungannya dengan gerakan makar itu.

Prabowo memang anak keturunan tokoh PRRI/Permesta. Itu fakta sejarah. Tapi konyol juga kalau kita menyangkut pautkan apa yang dilakukan bapaknya dengan Prabowo sekarang.

Tes DNA anak seorang kyai, tidak lantas membuktikan ia bisa jadi kyai. Tes DNA anak seorang jendral tidak lantas membuktikan anak itu berjiwa militer. Itu hanya pembuktian biologis siapa bapak ibunya. Gak ada hubungannya dengan profesi bapak ibunya. Gak nyambung, blas.

Jika logika ini dikembangkan, kita sama saja menista Nabi Ibrahim AS. Orangtua Nabi Ibrahim, Aazar adalah seorang pembuat patung berhala. Tapi sejarah mencatat Ibrahim adalah seorang penegak tauhid yang amat gigih.

Jika dites DNA, Ibrahim memang anak kandung Aazar. Tapi Nabiyullah Ibrahim bukan seorang yang mengimani berhala. Ia justru hadir untuk menegakkan keyakinan pada Allah.

Tapi orang-orang pekok yang hobi menyebar fitnah mana peduli dengan logika ini. Bagi mereka fitnah itu yang utama. Sebab mereka tidak punya cara berpolitik lain yang lebih beradab selain memfitnah dan menyebar informasi palsu.

Kenapa soal tes DNA ini digembar-gemborkan padahal mereka tahu tidak akan membuktikan apa-apa? Karena secara rasional, ngapain hal itu dilakukan dan untuk apa?

Nah, karena gak mungkin dilakukan hal yang lucu dan konyol, justru isu itu dikembangkan untuk membodohi rakyat. "Tuh, kan mana berani tes DNA," katanya. Sebuah sakit jiwa level 9. Rakyat yang dungu dan penuh kebencian akan ikut menyemarakkan isu tersebut.

Di Aceh baru saja ditangkap seorang yang gemar melempar fitnahan soal PKI ini. Ia ternyata gak sendirian. Polisi menemukan ia sering disuplai dana oleh seorang politisi pembenci Jokowi. Ia menyebarkan fitnah itu karena dibayar. Sekarang kasusnya sedang dikembangkan.

"Mas, jadi anak seorang penjual minyak telon bisa lahir ganteng juga, kan?," ujar Abu Kumkum berharap.

"Cari pasangan dulu, kang. Jangan mikirin anak dulu. Jomblo kok, hobinya menghayal," celetuk Bambang Kusnadi. "Tapi bisa kok, kang. Gak usah khawatir. Lihat saja Atiqah Hasiholan..."

0 komentar

Tulisan Populer