Indonesia Bukan Bangsa Keledai

Titiek Soeharto
Titiek Soeharto
Ini soal pernyataan Titiek Soeharto beberapa waktu lalu. Katanya dia mendukung Prabowo karena untuk melanjutkan kepemimpinan Soeharto.

Iya, Prabowo mantan suaminya Titiek adalah bekas menantu Soeharto. Dia menikmati kekuasaan Orde Baru, berada di tengah kekuasaan. Sejak muda karier militernya juga ditunjang karena posisinya sebagai suami Titiek. Zaman itu, siapa yang berani mengutak-atik kekuasaan Presiden dan kroninya.

Soeharto adalah sejarah kelam bangsa ini. Penguasa 32 tahun itu, sepanjang kekuasaannya banyak berlumuran darah. Ketika awal menggapai puncak kekuasaan, ada ratusan ribu nyawa melayang.

Soeharto naik ke puncak pimpinan pascahuru-hara G30S/PKI 1965 yang menghebohkan itu. Sebagai salah satu kekuatan politik zaman itu, komunisme di Indonesia memang tumbuh subur. Bangsa ini dilanda tarik-menarik kekuasaan. Semua kekuatan saling curiga. Indonesia seperti hamil tua.

Sayang, Bung Karno yang waktu itu mengambil garis politik berjauhan dengan Barat dan AS, menyebabkan ekonomi Indonesia babak belur. Hidup susah. Rakyat kerepotan cari makan. Inflasi meroket.

Di tengah suasana itulah, G30S meledak. Ada banyak versi mengenai siapa di balik dalang gerakan tersebut. Versi resmi pemerintahan Soeharto waktu itu adalah, PKI merupakan dalang utama. Untuk meneror rakyat dikarang cerita fiktif bahwa jenderal yang dibunuh di lubang buaya, sebelumnya disiksa dengan bengis. Penyiksanya adalah Gerwani sambil joget-joget. Persis seperti film propaganda Pemberontakan  G30S-PKI yang menjadi tontonan wajib di zaman Orde Baru.

Padahal data forensik berkata tidak demikian. Tidak ada sayatan dan luka lain di tubuh para jenderal kecuali luka tembak.

Berdasarkan kisah yang dibesar-besarkan, rakyat digiring untuk membenci semua yang berbau PKI. Di awal krisis, ada ratusan ribu rakyat yang dibantai begitu saja hanya karena dituding PKI. Rata-rata hanya petani yang cuma ikut-ikutan.

Sejarah mencatat Sungai Brantas di Jawa Timur memerah darah akibat banyak yang dibantai lalu dihanyutkan di sungai itu. Ada juga segerombolan orang yang ditebas satu-satu di depan lubang yang sudah disiapkan untuk makamnya. Semua kejadian terjadi di depan hidung aparat. Dengan kata lain aparat justru yang mendorong rakyat jadi biadab dengan rakyat lainnya.

Dengan pondasi darah yang tercecer dan ratusan ribu anak yatim itulah Soeharto naik ke puncak kekuasaan. Dia langsung menggandeng AS dan Barat untuk pembangunan ekonominya. Kompensasi pertama, Soeharto memberikan konsesi longgar pada Freeport McMoran untuk mengeksploitasi tambang di Papua. Bahkan Freeport seperti dibolehkan mendirikan negara dalam negara. Aturan perjanjian dengan Freeport bisa lebih unggul dari UU kita.

Pada masa kekuasaannya, Soeharto dikenal sebagai diktator yang murah senyum. Ada dua kelompok yang selalu dimusuhi: ekstrem kiri (PKI) dan ekstrim kanan (Islam). Permusuhannya dengan dua kelompok itu ditandai dengan ribuan nyawa melayang.

Di Aceh, ada Daerah Operasi Militer (DOM) yang merenggut lebih dari 10 ribu nyawa. Ada banyak kasus perbenturan aparat dengan umat Islam seperti kasus Talangsari atau Tanjung Priok. Nyawa begitu murah.

Belum lagi kebijakan rezim untuk menghabisi preman bertato di luar pengadilan. Rakyat mengenal istilah Petrus atau penembakan misterius. Orang-orang bertato ditangkap, dieksekusi, mayatnya dikarungi dan dibuang. Begitu saja. Tanpa pengadilan.

Siapa saja yang menentang Soeharto dipastikan hidupnya tidak aman. Ratusan aktivis mahasiswa masuk bui, mulai dari zaman Malari sampai 1998. Kita biasa mendengar kisah para aktivis itu disiksa dengan disetrum kemaluannya. Kita juga biasa mendengar mereka dikepruk sampai pingsan.

Ekonomi pada awal masa pemerintahan Soeharto mungkin tumbuh lebih bagus. Negara Barat dan AS memberikan pinjaman. Sedangkan kekayaan alam Indonesia jadi jaminannya.

Ketika anak-anak Soeharto dewasa, mereka tampil sebagai manusia serakah. Bisnisnya tiba-tiba menggurita akibat proteksi dan fasilitas negara. Korupsi dan KKN merajalela. Keluarga Cendana menguasai semua sektor ekonomi dari hulu sampai hilir. Dengan cara mudah.

Iya, dibanding zaman revolusi kemerdekaan ekonomi rakyat sedikit membaik. Tapi kemiskinan tetap lestari. Ada kelompok yang menikmati kekuasaan yang hidup bermewah-mewah sementara lapisan besar rakyat hidup sengsara.

Di akhir kekuasaannya Soeharto mulai dicibir oleh sekutunya di Barat dan AS. Dia dikenal sebagai seorang diktator korup. Di dalam negeri Soeharto mulai berdekat-dekat dengan umat Islam. ICMI adalah salah satu momentum dimana Cendana ingin memanfaatkan kekuatan umat Islam untuk menjaga kekuasaannya. Padahal dulu, umat Islam adalah salah satu musuh bebuyutan Soeharto.

Tapi apa mau dikata. Ekonomi bangsa ini sudah rusak disedot para perusak dimana anak-anak Soeharto menjadi aktor utamanya.

Puncak kehancuran ekonomi kita terjadi pada 1998, saat guncangan mata uang langsung menghancurkan bangunan semu ekonomi kita. Tetiba bangsa ini rontok jatuh dalam jurang krisis yang dalam. Semua borok terbuka.

Di akhir masa kekuasaannya, darah rakyat tumpah lagi. Tragedi kerusuhan 1998 menandakan era berakhirnya semua kekuasaan yang bengis dan korup.

Soeharto naik ke puncak kekuasaan dengan pondasi nyawa dan darah ratusan ribu rakyat. Ketika dia turun juga menumbalkan nyawa ribuan rakyat yang lain.

Dan di antara kekuasaannya saat itu, ada Prabowo, menantu dan seorang petinggi militer.

"Saya mendukung Prabowo untuk melanjutkan program Soeharto," kata Titiek, mantan istri Prabowo yang juga anak Soeharto.

Sepertinya kita perlu kembali membuka sejarah. Hanya bangsa keledai yang mau jatuh dua kali di kubang yang sama.

Tagar.Id

0 komentar

Tulisan Populer