AMIEN RAIS MENGERDILKAN MUHAMADIYAH

Muhammadiyah
Amien Rais dan Muhammadiyah
Dalam sebuah kesempatan Ketua Umum Muhamadiyah Haedar Nashir menyampaikan pernyataan, sebagai organisasi perserikatan Muhamadiyah membebaskan anggota untuk menentukan pilihan politik.

Statemen seperti ini sebetulnya biasa. Sejak dulu Muhamadiyah memang tidak berafiliasi dengan satu Parpol. Meski dalam sejarahnya pendirian PAN diinisiatori oleh Amien Rais, yang waktu itu sebagai Ketua Umum Muhamadiyah, tetapi sebagai organisasi sikap Muhamadiyah klir. Mereka bukan underbow PAN.

Peran politik Muhamadiyah dilaksanakan dalam konsep high politics bukan low politics. High politics mengindikasikan sebuah sikap politik kelas tinggi. Yang memperjuangkan keadilan, kemakmuran, persatuan Indonesia dan nilai-nilai luhur. Bukan politik praktis yang berbentuk dukung mendukung dan mobilisasi kadernya untuk kepentingan politik praktis.

Ada jutaan kader Muhamadiyah, dengan afiliasi politik beragam. Mereka tersebar di berbagai Parpol. Sebagian di Golkar, PKS, PAN, PPP, Nasdem, PSI, PDIP atau Gerindra.

Bahkan Bu Iriana dulu saat di Solo adalah salah satu aktifis Aisiyah, organisasi perempuan di bawah Muhamadiyah. Iriana juga pernah kuliah di Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Sebagai organisasi keagamaan Muhamadiyah berkepentingan mendorong kadernya untuk memperjuangkan sebuah sikap politik etik, politik yang memperjuangkan nilai-nilai. Itu yang dimaksud dengan high politics. Bukan politik yang berorientasi pada kekuasaan semata (low politics).

Statemen Haedar Nashir merupakan sikap yang wajar. Ia menjaga agar kontestasi politik tidak menghadirkan friksi di organisasinya. Ia menjaga independensi Muhamadiyah dari tarikan politik praktis. Sebab baginya tujuan Muhamadiyah jauh lebih besar dari sekadar politik kekuasaan. Jauh lebih besar dari kepentingan praktis.

Tapi, sepertinya Amien Rais merasa sebagai pemilik Muhamadiyah. Ia mengkritik pernyataan Haedar Nashir tersebut. Ami n gak ikhlas jika Muhamadiyah membebaskan pilihan politik praktis kepada kadernya. Bagi Amien, pilihan politik Muhamadiyah harus sesuai dengan kepentingan dirinya. Ia malah mau menjewer Haedar. Sebuah sikap mentang-mentang dan merendahkan organisasi besar tersebut.

Ok, Amien memang bekas Ketua Umum organisasi kemasyarakatan berbasis agama itu. Ketika ia duduk sebagai ketua umum Muhamadiyah, PAN didirikan. Amien kini juga punya pilihan politik mendukung Prabowo. Tapi Amien tentu bukan Muhamadiyah. Muhamadiyah lebih besar dari seorang Amien Rais. Mendorong Muhamadiyah dukung mendukung Capres secara terbuka. Atau mengarahkan kadernya hanya untuk satu partai sama saja mengerdilkan organisasi besar itu.

Jika saya kader Muhamadiyah, saya pasti tersinggung Ketua Umum saya yang mengeluarkan pernyataan keren mau dijewer sama politisi kayak Amien.

Tapi begitulah Amien. Ia ingin semua organisasi berada di bawah kepentingannya. Bukan hanya soal pilihan politik. Bahkan untuk soal nonton film saja, Hanum Rais juga memanfaatkan kedudukan ayahnya sebagai bebas Ketum Muhamadiyah.

Masih segar ingatan kita ketika Hanum Rais berkirim surat kepada rektor Universitas Muhamadiyah Surakarta untuk mengerahkan mahasiswanya nonton film Hanum dan Rangga. Mahasiswa Muhamadiyah yang beragam itu diminta untuk menyaksikan film soal rumah tangga anaknya Amien Rais.

Atau bagaimana surat pengurus PAN yang mewajibkan kader partainya nonton film tersebut. Bahkan dukungannya pada Prabowo-Sandi itu juga dijadikan alasan untuk menarik penonton.

"Film Hanum dan Rangga itu sesuai dengan visi dan misi Prabowo-Sandi," ujar Hanum Rais. Entahlah, apakah Hanum hendak ngeledek. Masa film menye-menye soal rumah tangga sesuai dengan visi misi Capres. Yang ada kan, malah bikin Prabowo tersinggung. "Jangan ngomong soal rumah tangga deh, Num."

Muhamadiyah jauh lebih besar dari Amien Rais. Muhamadiyah juga lebih besar dari seorang dokter gigi yang gagal membedakan luka operasi dengan habis digebukin. Muhamadiyah lebih besar dari Prabowo-Sandi. Muhamadiyah juga lebih besar dari PAN. Sebagai ketua umum Muhamadiyah sikap Haedar Nashir sudah pas.

Tapi kepentingan politik Amien Rais ingin mengerdilkan kebesaran Muhamadiyah. Ia ingin agar organisasi perserikatan itu ada di bawah ketiaknya. Ia ingin memanfaatkan Muhamadiyah untuk kepentingannya juga kepentingan keluarganya.

Amien juga sepertinya gak mau lagi mendengar soal high politics. Dia gak peduli jika politik sesungguhnya adalah perjuangan etis. Lihat saja tingkahnya ketika ketika Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan ditangkap KPK. Dia datangi komisi anti korupsi itu sambil mengancam. "Lihat saja dunia berputar," ancam Amien. "Lagipula korupsinya hanya Rp3 miliar. Masa ditangkap."

Lho, mau korupsi berapa kek. Yang namanya korupsi ya, tetap korupsi. Jangan mentang-mentang anak buahnya Amien jadi pembela koruptor kalap.

Untung dulu Amien gak terpilih jadi Presiden. Bisa dibayangkan nasib Indonesia jika ia menjabat. Bagaimana juga sikap anak-anaknya.

"Iya mas, untung juga Jokowi tidak kayak Amien Rais. Kaesang kan jualan Pisang Goreng.," ujar Abu Kumkum.

"Kenapa Kum?"

"Masa Presiden nanti bikin Inpres, rakyat Indonesia wajib sarapan pisang goreng. Kasian Bambang Kusnadi, dong mas. Buburnya jadi gak laku..."

0 komentar

Tulisan Populer